Gebuk Junior, Enam Siswa SMAN 1 Praya Dipolisikan

Kadian (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Enam siswa SMAN 1 Praya dilaporkan ke polisi menyusul aksi ‘jagoan’ yang ditunjukkan pada temannya.

Keenam siswa yang diketahui sebagai anggota paskibraka ini dilaporkan orang tua korban setelah menggebuk salah satu juniornya hingga telinganya cedera. Ceritanya, siswa berinisial MA berniat mundur sebagai anggota paskibraka. Namun, rupanya para seniornya tersinggung. Mereka lantas melakukan penganiayaan terhadap MA, Sabtu (6/8) lalu.

Akibatnya, gendang telinga MA cedera setelah digebuk seniornya. MA kemudian mengadukan persoalan itu ke orangtuanya. Tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, orang tua MA kemudian menempuh jalur hukum dengan melaporkan enam orang siswa tersebut.

Pihak SMAN 1 Praya sendiri kemudian berusaha memediasi kedua belah pihak. Pihak sekolah memanggil orang tua pelaku dan korban, Rabu (10/8). Dalam mediasi itu, orang tua pelaku yang awal menolak tuntutan orang tua korban akhirnya bersedia mempertanggungjawabkan perbuatan anak-anak mereka.

Selain itu, pihak sekolah juga menskors keenam siswa ini. Mereka juga diberikan tugas banyak dari sekolah sebagai sanksi atas kesalahan mereka. Pihak sekolah juga menutup sementara kegiatan ekstrakurikuler paskibraka sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Baca Juga :  Kades Terpilih Selong Belanak Diperiksa Polisi

Kepala SMAN 1 Praya, kadian mengaku, kasus pemukulan antara senior dan junior tak cuma terjadi kali ini. Melainkan sudah sempat terjadi sebelumnya sehingga pihak sekolah mengambil inisiatif untuk membekukan sementara kegiatan ekstrakurikuler paskibraka. Di samping itu, keenam siswa senior yang telah memukul juniornya juga diberikan sanksi sesuai kesalahan mereka. ‘’Makanya kita sudah panggil orang tua pelaku dan korban. Mereka juga sangat menyesali hukuman fisik dan meminta maaf serta bersedia memenuhi tuntutan pihak korban. Karena korban mengalami cedera di gendang telinganya akibat pukulan teman-temannya. Tapi secara medis, gendang telinga korban tidak sampai pecah karena korban tetap mengikuti pembelajaran ,’’ ungkap Kadian saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/8).

Dalam perkara ini, Kadian berkilah, bahwa pemukulan itu terjadi karena tingginya semangat siswanya mengikuti ekstrakurikuler paskibaraka. Begitu mengetahui temannya ada yang mengundurkan diri, keenam siswa ini sangat kecewa dan melampiaskan semangatnya dengan memukul juniornya. Pemukulan ini awalnya diberikan semata-mata sebagai sanksi atas inkomitmen siswa yang mengundurkan diri. “Pelakunya dari kelas II dan kelas III dan korban ini kelas II. Pernah memang ada kejadian serupa sebelumnya tapi kasus pemukulan ringan. Jadi kita pihak sekolah sebenarnya tidak mengetahui bahwa ada tradisi seperti itu (pemukulan, red),” kilahnya.

Baca Juga :  Tipu Investor, Bos Walet Kateng Mulai Diadili

Untuk laporan orang tua korban sendiri, Kadian mengaku, telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Mereka meminta agar kasus ini diselesaikan dengan mediasi. Karenanya, pihak sekolah sudah memanggil kedua belah untuk menemukan solusi terbaik atas kasus ini. “Kepolisian sudah menghubungi kita agar bagaimana kasus ini bisa dimediasi dulu. Makanya kita komunikasi dengan kedua belah pihak,” tutupnya. (met)

Komentar Anda