Gawat, Kasus HIV/AIDS di NTB Meningkat Tajam

Ilustrasi HIV/AIDS
Ilustrasi HIV/AIDS

MATARAM –HIV/AIDS masih menjadi ancaman di NTB. Jumlah kasus terus bertambah secara signifikan setiap tahun.

Berdasarkan data terbaru yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTB, jumlah penderita HIV/AIDS bertambah ratusan orang setiap tahun. “Yang sudah kita temukan, jumlah penderita HIV/AIDS di NTB saat ini sebanyak 1.532 orang,” ungkap Kepala KPA Provinsi NTB, Soeharmanto, kepada Radar Lombok saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/10).

BACA JUGA: Sebar Hoaks Gempa, Warga Lotim Ditangkap

Pada tahun 2015, KPA Provinsi NTB menemukan 1.083 orang teridentifikasi HIV/AIDS. Jumlah tersebut bertambah menjadi 1.235 orang pada tahun 2016. Kemudian tahun 2017 lalu bertambah menjadi 1.448 orang. Tahun 2018 ini kembali jumlahnya bertambah. 

Data tersebut di-update sebelum bencana gempa terjadi. Setelah ada gempa, belum masuk laporan terbaru. Sehingga diprediksi akan terus bertambah hingga akhir tahun. “Data agak terlambat. Diperkirakan jumlah penderita sampai 3.090 orang, atau mungkin lebih besar lagi,” ucapnya. 

Menurut Soeharmanto, banyak penderita baru di NTB terutama remaja, baik pelajar maupun mahasiswa. “Terutama usia produktif ini. Pengaruh gadget dan pola pergaulan banyak yang kebablasan. Pernah seks pra nikah misalnya, lalu ketagihan, dan gonta-ganti pasangan. Awalnya infeksi menular seksual (IMS), tapi itu kan pintu masuknya HIV/AIDS,” terangnya serius. 

Kalangan pelajar dan mahasiswa yang terkena HIV/AIDS jumlahnya terus bertambah. Jumlahnya saat ini yang sudah diketahui mencapai 47 orang. Jumlah tersebut dipastikan akan bertambah karena sangat sedikit pelajar dan mahasiswa yang pernah mengikuti tes.

Untuk meminimalisir berkembangnya HIV/AIDS, KPA telah berkoordinasi dengan Dikbud Provinsi NTB. “Misal saat OSPEK atau MOS, itu kita sosialisasikan rencananya. Kita siap kalau diminta. Atau selesai apel bendera hari Senin. Kita harus selamatkan anak-anak muda NTB. Agar generasi emas NTB 2025 terwujud. Generasi brilian,” katanya. 

Banyak faktor yang membuat pelajar dan mahasiswa sangat rentan terkena HIV/AIDS. Mengingat penyakit tersebut bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga sangat ditentukan oleh prilaku. Misalnya saja pacaran yang melebihi batas. “Kalau ada orang yang sudah terkena, mereka biasanya dikucilkan. Jadi agar tidak sendirian, sengaja ditularkan ke orang lain agar senasib. Itu yang harus diwaspadai,” bebernya. 

Soeharmanto juga menyorot data penderita di kalangan PNS/honorer di Pemerintah daerah (Pemda). Saat ini jumlahnya sebanyak 63 orang. Padahal, sangat sedikit PNS yang mau melakukan tes. 

BACA JUGA: Polisi Kantongi Identitas Pelaku Utama Pembuatan E-KTP Palsu

Menurut Soeharmanto, kesadaran kalangan PNS untuk tes sangat rendah. Meskipun begitu, saat ini sudah tercatat 63 orang terkena HIV/AIDS. “Karena stigma negatif, kita rahasiakan mereka. Yang jelas, mereka kerja di Pemprov, Pemkab/kota. Dimana dia kerja, kita rahasiakan. ASN ini bisa staf, atau bisa juga pejabat tinggi. Itu rahasia. Kita juga ingin lakukan tes di kantor Gubernur ini untuk semua pegawai, tapi sampai sekarang belum. Bisa saja jumlahnya akan bertambah kalau banyak yang tes,” ucapnya. 

1
2
3
Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut