Frustrasi, Tiga Pelajar Kabur dari Rumah

DITAHAN: Tiga pelajar yang mencoba kabur dari rumahnya terpaksa diamankan sementara oleh aparat kepolisian sambil menunggu keputusan keluarga mereka (SAPARUDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYABroken home (rumah tangga berantakan) tak bisa dianggap enteng dalam menormalkan psikologis seseorang.

Nur Alinda 16 tahun, asal  Gerintuk Kelurahan Renteng Kecamatan Praya, dan Elsa Mayorita 16 tahun, asal Kampung Punik Kelurahan Tiwugalih Kecamatan Praya, ini contohnya. Dua gadis belia yang tercatat sebagai pelajar SMKN 1 Praya Tengah, jurusan Multimedia dan Perbankan ini mencoba kabur dari rumahnya sejak Sabtu (17/12). Nur Alinda dan Elsa Mayorita kabur bersama dua temannya lagi bernama Hanna Marjannah, 16 tahun asal Bogak Kelurahan Tiwugalih.

Ceritanya, ketiga gadis ini mulai meninggalkan rumah masing-masing sekitar pukul 18.00 Wita, usai latihan bola basket di sekolahnya. Ketiganya kemudian menuju rumah temannya bernama Ema di Desa Sengkol Kecamatan Pujut. Setelah ketemu, keempat kawan ini jalan-jalan ke Kota Praya.

Tapi sial, ban motor yang dikendarai Nur Alinda bocor di sekitar Sengkol. Seteleh menembel ban, mereka pun sampai di Kota Praya sekitar pukul 20.00 Wita. Keempatnya kemudian makan malam di Café Been sampai pukul 22.00 Wita. Melihat jam tidak memungkinkan untuk berani pulang ke Sengkol, keempatnya pun akhirnya memilih menginap di kos temannya bernama Santika di Lingkungan Mujahidin Kelurahan Prapen.

Sekitar pukul 5.00 Wita, Minggu pagi (18/12). Nur Alinda dan Elsa Mayorita kemudian ke rumah temannya bernama Ratna di Lingkungan Mateng Kelurahan Prapen. Mereka hendak meminjam baju megingat belum pernah ganti baju sejak semalam. Setelah ready, Nur Alinda, Elsa Mayorita dan Hanna Marjanah pun berangkat ke Mataram.

Mereka meninggalkan Ema di kos Santika. Setibanya di Mataram, ketiganya kemudian langsung menyewa kos-kosan kontrak sebulan senilai Rp 600 ribu di wilayah Lingkungan Gedur Karang Bata, Cakranegara. Setelah sempat menginap semalam di kos tersebut, Nur Alinda pun ditelepon keluarganya malam itu. Mereka menanyakan kondisi Nur Alinda dan meminta untuk segera pulang.

Pasalnya, sejak kepergiannya nenek Nur Alinda sakit keras dan sedang dirawat di RSI Yatofa Bodak. Sehingga dia diminta pulang untuk melihat kondisi sang nenek. Keesokan harinya, Senin (19/12) Nur Alinda pun berniat pulang melihat kondisi neneknya. Sebab, sejak semalam ia sudah meresa nyaman dan mulai memikirkan kondisi neneknya.

BACA JUGA :  BNI Mataram Siapkan Rp 50 Miliar Pembiayaan Rumah Subsidi

Nur Alinda pun akhirnya meminta bantuan ke tetangga kosnya untuk diteleponkan taksi. Setelah beberapa saat kemudian, taksi pun meluncur dan mengangkuta ketiga anak dara ini kembali ke Praya. Atas permintaan Nur Alinda, ketiganya kemudian hendak langsung menuju RSI Yatofa Bodak.

Namun, setibanya di depan Kampus IPDN NTB di jalan Gajah Mada Praya. Keluarga Nur Alinda menelepon lagi agar sebaiknya dia pulang ke rumah neneknya di Lingkungan Gerintuk Kelurahan Renteng, yang tak jauh dari IPDN. Karena rumah neneknya sudah dekat, Nur Alinda langsung mengiyakan dan pulang ke rumah neneknya.

Namun, setibanya di rumah neneknya. Keluarga Nur Alinda malah menghubung Bhabinkamtibmas untuk menahan ketiga anak dara tersebut. Ketiganya dianggap telah meresahkan dan harus diberikan pelajaran. ‘’Makanya sekarang kita introgasi ketiga anak ini. Semua hasil keterangan terkait perjalananya selama tiga hari ini, berdasarkan hasil keterangan mereka,’’ ungkap Kapolsek Praya, IPTU Dewa Ketut Suardana, kemarin (20/12).

Setelah mendalami keterangan ketiga anak ini, tutur Dewa, ternyata keterangan mereka berbeda. Sehingga alasan itu membuat mereka harus kabur meninggalkan rumah. Nur Alinda misalnya, dia mengaku menjadi korban broken home. Orang tuanya bercerai sejak ia masih duduk di bangku kelas IV SD. Kedua orang tuanya kemudian menikah lagi dan meninggalkan Nur Alinda. ‘’Sejak itu, Nur Alinda tinggal bersama neneknya,’’ tutur Dewa.

Kisah Nur Alinda nyaris sama dengan Elsa Mayorita. Kedua orang tua gadis ini juga bercerai saat ia masih duduk di bangku kelas IV SD. Elsa kemudian tinggal bersama ibu kandungnya, tapi mengaku sering dipukuli. Sehingga ia mengaku tidak nyaman tinggal di rumah dan mencoba untuk kabur. ‘’Keterangan Elsa Mayorita ini hampir sama dengan Nur Alinda,’’ tambahnya.

Lain halnya dialami Hana Marjanah, sambung Dewa. Anak ini tidak berani pulang sejak memimjam sepeda motor milik temannya bernama Milasari. Motor itu kemudian mengalami kecelakaan dan Milasari mengadu ke orang tuanya. Ketakutan ini yang mengantarkan Hana Marjanah harus mengikuti jalan kedua temannya ini. Ketiganya mengaku sama-sama tertekan dengan keadaan mereka saat itu, sehingga memilih kabur. ‘’Sekarang ketiganya masih kita tahan sambil menunggu keputusan keluarganya,’’ tandas Dewa. (cr-ap)