Farouk Serahkan Calon Pendamping ke Parpol Pengusung

Farouk Muhammad
Farouk Muhammad

MATARAM–Bakal calon gubernur NTB, Farouk Muhammad, awalnya intens membangun dan menjajaki komunikasi politik dan penjajakan dengan Lalu Gede Sakti, tapi belakangan kendor.

Senator dapil NTB mengakui, intensitas dan komunikasi politik dengan aktor politik untuk kemungkinan berpasangan belum menjadi prioritas. Saat ini ia lebih fokus dan prioritas mencari dukungan parpol sebagai kendaraan untuk maju dalam kontestasi di Pilgub NTB.

“Dengan Lalu Gede Sakti sudah ada komunikasi. Tapi tidak intens lagi,” kata mantan Kapolda NTB, itu, Kamis kemarin (27/7).

Sebagai sosok yang bukan berasal dari kader parpol. Farouk tidak bisa memaksakan kehendak terkait figur bakal calon wakil gubernur atau pendamping. Keputusan cawagub mendampinginya nanti akan dibahas dan diputuskan bersama dengan parpol pengusung.

Karena itu, sosok pendamping diserahkan sepenuhnya keputusan kepada parpol pengusung. Parpol pengusung disebutnya pasti sudah memiliki kriteria dan persyaratan terhadap sosok bacawagub mendampingi di suksesi di Pilgub NTB.

Misalnya, dilihat dari representasi kewilayahan, elektabilitas, dukungan parpol pengusung dan kesamaan visi misi kedepan. “Biar nanti parpol pengusung putuskan,” terang wakil ketua DPD RI dapil provinsi NTB itu.

Farouk pun memastikan diri hanya akan maju sebagai bakal calon gubernur dan bukan calon wakil gubernur NTB. Karena itu, ia siap berpasangan dengan siapapun. Baik kader parpol maupun non kader parpol sebagai kontestan dalam Pilgub NTB.

Sebagai bentuk ikhtiar dalam menuju kontestasi di Pilgub NTB, ia sudah mendaftar dan mengikuti penjaringan calon kepala daerah di sejumlah parpol. Yakni, PKB, PPP, PAN dan PKS.

Ia optimis dengan penjaringan calon kepala daerah dilaksanakan secara sportif, terbuka dan transparan akan memperoleh dukungan parpol sebagai kendaraan untuk maju dalam suksesi di Pilgub NTB. Kendati diakui, pihaknya pun masih terus mencermati dan menelaah tren tingkat elektabilitas atau daya keterpilihan diri di Pilgub.

Andai nanti, kata Farouk, dalam perkembangan tren tingkat elektabilitas dimiliki cukup baik. Maka itu bakal kian menambah spirit dan semangat bagi dirinya dalam bertarung di Pilkada NTB.

Namun andai sebaliknya, tren elektabilitas diri stagnan bahkan menurun, bahkan ia tidak akan memaksakan diri untuk terus maju berlaga. Itu tentu realistis sebagai politik harus diambil. “Ini bentuk keterpanggilan saya untuk membangun dan memajukan daerah,” pungkasnya. (yan)