Fandi Achmad, Pelari Indonesia Juara Rinjani 100

Pelari Indonesia Juara Rinjani 100
RINJANI 100: Wagub NTB, HM Amin, didampingi Kepala Dispar NTB, HL Moh. Faozal, dan Ketua KONI NTB, Andy Hadiyanto, ketika melepas peserta Rinjani 100 untuk kategori 36K di Sembalun, Lotim. (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

SELONG—Banyak hal mengejutkan yang terjadi pada even olahraga ekstrem “Rinjani 100” tahun ini. Dimana selain ada banyak rekor baru yang tercipta, ternyata untuk kategori paling bergengsi yang dilombakan, yakni lari 100 Kilometer (100K), pelari Indonesia atas nama Fandi Achmad, berhasil finish pertama dengan catatan waktu selama 33 jam, 11 menit, dan 54 detik.

Ditemui di garis finish, Fandi, sapaan akrab pelari ekstrem yang ternyata telah dua kali memenangkan lomba sejenis di Gunung Gede/Pangrango, tahun 2014 dan 2016 ini mengaku, bahwa kemenangannya di Rinjani 100 adalah yang paling berkesan.

“Rinjani 100 ini adalah even terbaik yang pernah saya ikuti. Saya dan rekan-rekan pelari lainnya merasa sangat dihargai dan disambut. Baik ketika mulai tiba di Lombok, sampai di lokasi kegiatan di Sembalun, kami semua disambut dengan baik sekali oleh panitia dan masyarakat,” kata Fandi, Minggu kemarin (7/5).

Meskipun untuk rute Rinjani 100 diakui sangat berat dan menantang, namun Fandi tetap bertekat untuk kembali lagi tahun depan. “Jujur, walaupun rutenya ekstrem, tahun depan Insha Allah saya akan ikut lagi Rinjani 100,” tegas Fandi seraya menyampaikan, Agustus 2017 mendatang dia juga akan mengikuti lomba sejenis di Perancis, dengan kategori 170K.

Sementara Race Director Rinjani 100 2017, Rudi Rohmansyah, menyampaikan, setelah Fandi Achmad yang pertama masuk finish, dibelakangnya berturut menyusul pelari asal China, Dong Xi Tan, sebagai juara kedua dengan waktu 33 jam, 11 menit, dan 15 detik. Baru kemudian pelari asal Perancis, Emmanuel Abadie, masuk, dengan waktu tempuh 34 jam, 37 menit, dan 38 detik.

Dijelaskan, untuk kategori 100K, pelari yang ikut sebanyak 39 peserta, berasal dari 29 negara, termasuk Indonesia. “Untuk kategori lomba 100K, peserta yang berhasil mencapai finish dengan COT (cut of time) atau batas waktu 36 jam, seperti yang telah ditentukan panitia hanya sebanyak 4 orang. Sisanya dinyatakan DNF (do not finish),” ujar Rudi.       

Menariknya sambung Rudi, gelaran Rinjani 100 tahun ini juga dipenuhi dengan banyaknya rekor baru yang pecah. Seperti yang terjadi di kategori 27K untuk peserta laki-laki maupun perempuan, dan juga kategori 36K laki-laki dan perempuan.

“Artinya, even Rinjani 100 ini sudah mulai populer di kalangan pegiat olahraga berlari ekstrem seluruh dunia. Buktinya, peserta mancanegara yang ikut adalah pelari yang tercepat, sehingga banyak pecah rekor-rekor baru,” beber Rudi.

Untuk kategori 36K, pelari Alexander Stock asal Austria berhasil menjadi pelari pertama mencapai garis finish, dengan catatan waktu 6 jam, 31 menit, 33 detik. Rekor ini melampaui rekor tahun 2016 atas nama Carlos Paz, dari Spanyol, dengan catatan waktu 7 jam, 44 menit, 58 detik.

Pelari perempuan yang berhasil memecahkan rekor baru di kategori 36K, yakni Melissa Graye, pelari asal Perancis. Perempuan berusia 22 tahun ini mencatatkan waktu tempuh selama 8 jam, 55 menit, 37 detik. Dengan demikian memecahkan rekor tahun sebelumnya (2016) yang dicatatkan oleh Vera Breuer, juga asal Perancis, dengan catatan waktu 10 jam, 10 menit, 55 detik.

Sementara di kategori 27K, pelari Indonesia, Akhmad Nizar keluar sebagai juara pertama dengan catatan waktu 4 jam, 5 menit, 56 detik. Torehan ini memecahkan rekor sebelumnya yang juga dicatatkan pelari Indonesia, Mulyadin, dengan waktu 4 jam, 41 menit, 1 detik.

Untuk pelari perempuan di kategori 27K, seorang ibu rumah tangga asal Indonesia, Sri Wahyuni berhasil menjadi juara pertama, dengan catatan waktu 5 jam, 6 menit, 10 detik. Rekor ini jauh lebih cepat dibandingkan catatan sebelumnya yang ditorehkan Amanda Edyawan, yaitu 7 jam, 24 menit, dan 33 detik.

Sebelumnya, Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin ketika melepas peserta Pergasingan Challenge, lomba lari mendaki gunung yang khusus diikuti oleh para Porter (pembawa barang pendaki Rinjani), menyampaikan apresiasi yang tinggi. “Keberadaan ajang Rinjani 100 maupun Pergasingan Challenge, akan semakin mengenalkan berbagai potensi yang ada di kawasan obyek wisata Gunung Rinjani. Tak hanya keindahan alamnya saja, tetapi juga kekayaan seni budaya, kelezatan kuliner, dan sekarang Gunung Rinjani juga mulai dikenal sebagai lokasi sport tourism (olahraga wisata),” ujarnya.

Wagub NTB ini juga meyakini, berbagai kegiatan yang digelar Pemda NTB, dalam hal ini Dinas Pariwisata NTB, seperti Rinjani 100 dan lainnya, akan menjadi pemicu dan daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Lombok dan Sumbawa.

“Seperti even Rinjani 100 yang diikuti oleh ratusan peserta dari 29 negara, tentu dapat menjadi ajang promosi yang cukup efektif, guna meningkatkan minat kunjungan wisatawan datang ke NTB,” jelas Amin.

Senada, Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL Moh. Faozal, menyampaikan bahwa dengan digelarnya berbagai even sport tourism berkelas internasional, selain dapat menjadi ajang promosi pariwisata mouth to mouth (mulut ke mulut) yang cukup efektif. Ternyata juga dapat meningkatkan length of stay (lama masa tinggal) para wisatawan di NTB.

“Ambil contoh seperti even Rinjani 100 ini, seorang peserta (pelari) paling tidak didampingi oleh empat orang crew. Demikian juga mereka pasti akan datang jauh hari sebelum lomba. Yang tujuan utamanya selain hendak melihat dan mengenal medan untuk berlomba, juga untuk mensinkronkan suhu tubuh dengan lokasi kegiatan, mengingat kegiatannya di atas gunung yang tentu suhunya cukup dingin,” ujar Faozal.

Dispar NTB sendiri beber Faozal, tahun 2017 ini juga sedang fokus menggarap berbagai even sport tourism berkelas internasional untuk digelar di NTB. “Tahun ini ada sekitar 18 kegiatan sport tourism yang akan dilaksanakan di NTB. Dan kita baru bisa menyelenggarakan 4 kegiatan, yaitu lomba lari Tambora Challenge 320K, balap sepeda Tour de Lombok, Paralayang di Mantar, dan Rinjani 100 di Gunung Rinjani. “Jadi masih akan ada 14 even sport tourism lagi kedepan,” ucap Faozal.

Sementara Ketua KONI NTB, Andy Hadianto, menyampaikan, selain dihelat Rinjani 100 dengan berbagai kategori, sesuai peraturan dalam UTMB (Ultra Trail Mount Blanch), yang berinduk di Perancis. Untuk memeriahkan juga dilaksanakan Pergasingan Challenge, yang khusus diikuti para Porter Gunung Rinjani dari Kecamatan Sembalun.

Yang menarik ujar Andy, dalam Pergasingan Challenge juga terjadi pemecahan rekor. Porter atas nama Rusdi Nulhayani, berhasil keluar sebagai juara pertama, dengan waktu tempuh 40 menit. Catatan ini sekaligus memperbaiki catatan tahun sebelumnya (2016) atas nama dia juga, yang selama 45 menit. (gt)