Faktor Lokal Pengaruhi Hujan di Musim Kemarau

illustrasi

MATARAM – Kondisi cuaca di wilayah NTB beberapa hari terakhir ini mengalami hujan di sejumlah tempat, meski saat ini masih musim kemarau.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Budi Setyawan menyampaikan, bahwa hujan yang terjadi saat ini cenderung diakibatkan beberap faktor. Salah satunya terganggunya monsun Australia, oleh adanya perlambatan aliran massa udara di wilayah Indonesia bagian barat. ‘’Kuatnya faktor lokal juga memengaruhi kejadian hujan di beberapa wilayah di NTB saat ini,’’ jelas Budi Setyawan kepada Radar Lombok, Senin (21/6).

Menurutnya, faktor monsun Australia itu merupakan angin yang berhembus dari benua Australia. Sifatnya terus membawa massa udara yang kering dan dingin, makanya identik dengan musim

kemarau. Sementara mengenai faktor lokal itu disebabkan dengan kondisi cuaca dengan suhu di dataran tinggi, berbeda dengan dataran rendah. “Itu salah satu contoh cuaca lokalnya,” jelasnya.

Berdasarkan pantuan BMKG, mengenai kondisi hujan yang terjadi saat ini masih akan berlangsung terjadi hingga 10 hari kedepan. “Jika dilihat dari pantauan kami, untuk 10 hari kedepan masih ada peluang terjadinya hujan di beberapa wilayah NTB. Cuma untuk hari kejadiannya kemungkinan akan selang seling,” terangnya.

BMKG juga telah memprediksikan pucak musim kemarau tahun ini, dimana akan terjadi pada Agustus-September. “Untuk puncak musim kemarau nya, kita prediksikan pada bulan Agustus-September ini,” tegasnya.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Nuga Putrantijo menambahkan, kondisi terkini iklim NTB memiliki curah hujan pada dasarian II Juni 2021 umunya berada pada kategori rendah 0-50 mm per dasarian. Namun, di sebagian Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah terjadi hujan dengan katagori menengah (51-150 mm/dasarian).

BACA JUGA :  Proyek Pelebaran Jalan Pusuk Tetap Berlanjut

Curah Hujan tertinggi terjadi di wilayah Kediri Kabupaten Lombok Barat, dengan jumlah curah hujan sebesar  119 mm/dasarian. “Sifat hujan pada dasarian II Juni 2021 di wilayah NTB bervariasi pada katagori bawah normal (BN) hingga atas normal (AN). Monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) umumnya dalam kategori menengah (11-20 hari) di sebagian besar Pulau Sumbawa. Sementara itu, di sebagian besar wilayah di Pulau Lombok HTH terpantau pada katagori sangat pendek (1-5 hari),” jelasnya dalam keterangan tertulisnya.

Selanjutnya, ada beberapa wilayah sudah terpantau mengalami HTH dengan kriteria panjang (21-30) hingga sangat panjang (31-60 hari). Meskipun demikian, di beberapa wilayah terpantau HTH masih dalam kategori masih ada hujan s/d updating. HTH terpanjang terpantau di pos hujan Sape, Kabupaten Bima yaitu sepanjang 77 hari. “Monitoring musim kemarau 2021 pada dasarian II Juni 2021 umumnya menunjukkan bahwa seluruh wilayah NTB telah masuk musim kemarau,” sebutnya.

Dikatakan juga, kondisi dinamika atmosfer yakni indeks ENSO menunjukkan kondisi netral. Diprediksi kondisi netral setidaknya akan berlangsung hingga akhir tahun 2021. Indeks dipole mode menunjukkan kondisi IOD negatif, namun diprediksi akan kembali pada kategori netral yang berlangsung setidaknya hingga November 2021. “Saat ini, angin timuran secara umum mendominasi wilayah Indonesia, termasuk NTB. Pergerakan MJO saat ini terpantau tidak aktif di Benua Maritim. Anomali OLR menunjukkan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga NTB diperkirakan memiliki potensi pembentukan awan konvektif hingga akhir Juni 2021,” katanya.

BACA JUGA :  Kondisi Aset Pemprov Menyedihkan

Kondisi tersebut diperkirakan dipicu oleh aktifnya ER (Equatorial Rosby) di sekitar wilayah Indonesia termasuk NTB yang didukung oleh hangatnya suhu muka laut di sekitar wilayah NTB. “Oleh karena itu, masih ada perluang terjadinya hujan hingga akhir Juni ini di sebagian wilayah NTB,” tegasnya.

Sementara peluang curah hujan dasarian III Juni 2021 diprakirakan terdapat peluang curah hujan lebih dari 50 mm/dasarian sebesar >30 persen di sebagian wilayah Lombok Barat, Lombok Timur bagian utara, Sumbawa Barat, Sumbawa bagian barat, Dompu bagian Utara, Kota Bima dan Bima bagian Utara.

Untuk itu, guna mengantisipasi dampak yang ditimbulkan pada musim kemarau saat ini, masyarakat diimbau agar lebih bijak menggunakan air bersih serta waspada akan potensi terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan. Di beberapa wilayah yang masih ada peluang terjadinya hujan dapat melakukan penampungan air guna mengantisipasi terjadinya kekerungan air di puncak musim kemarau nanti. “Namun demikian, masyarakat juga tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi terjadinya cuaca ekstrem yang bersifal lokal. Masyarakat diharapkan untuk selalu memperhatikan informasi BMKG terlebih dahulu sebelum beraktivitas,” imbuhnya. (sal)