Evaluasi Kekurangan Guru Mapel di SD/SMP

Evaluasi Kekurangan Guru Mapel
HL Fatwir Uzali.( Abdi Zaelani/Radar Lombok)

MATARAM – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali akan melakukan evaluasi terkait keberadaan guru mata pelajaran yang ada di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal tersebut untuk mengetahui adanya kekurangan guru mata pelajaran.

“Kami akan koordinasi dengan BPKSDM serta BKD tentang jam mengajar guru,” kata  Lalu Fatwir kepada Radar Lombok, Selasa (27/8).

Menurutnya, guru PNS yang sudah mendapatkan sertifikasi harus memenuhi jam mengajar minimal 24 jam. Jika nantinya ada sekolah yang mengalami kekurangan guru mata pelajaran, maka bisa saja guru yang mengalami kekurangan jam mengajar di sekolah tempat utama bertugas akan diberikan jam tambahan mengajar di sekolah yang kekurangan guru mata pelajaran.

“Memang semua sekolah tidak merata ada guru memiliki jam lebih, ada juga jam mengajar kurang dan saat ini sudah kita petakan,’’ jelasnya.

Diakui, penerimaan guru honorer saat ini sudah dilarang, sehingga guru yang ada saat ini diberdayakan, agar kekurangan guru mata pelajaran di sekolah tertentu bisa diatasi, supaya lengkap. Selain itu, pihaknya pastikan semester depan guru bisa dirotasi untuk penyebaran ke sekolah yang kekurangan jam mata pelajaran.

“Setelah semester pertama nanti, guru sudah kita rotasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Mataram H Saptadi Akbar menyebut di Kota Mataram mengalami kekurangan banyak guru mata pelajaran (Mapel). Pasalnya, sampai saat ini yang mencukupi hanya guru Bahasa Inggris saja, sedangkan mapel yang lain kurang.

“Saya melihat sekolah kekurangan guru untuk beberapa mapel,” kata Saptadi.

Menurutnya, kondisi ini cukup mengkhawatirkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Mataram. Oleh sebab itu, Saptadi mendorong Dinas Pendidikan Kota Mataram untuk segera memulai melakukan pemetaan kekurangan guru yang terjadi di setiap sekolah untuk jenjang SD maupun SMP di Kota Mataram. Sehingga beban tersebut bisa dibagi rata dan tidak menjadi beban satu sekolah saja.

“Kami inginkan ada pengaturan tentang kekurangan guru ini. Sehingga guru-guru honor tersebut ditanggung secara proporsional,” ujarnya. (adi)