Era Digital, Ber-Islam Butuh Kearifan

Peresmian sembilan gedung baru UIN Mataram. (diskominfotik)

MATARAM—Di era digital saat ini, keber-Islaman kita membutuhkan referensi keilmuan dan pengetahuan yang terjaga dari institusi yang diakui keberadaannya. Sebuah universitas adalah upaya menjaga kesempurnaan ajaran Islam yang diajarkan oleh guru dan para orangtua kita sejak terdahulu hingga saat ini.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin didampingi Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menegaskan hal itu saat meresmikan proyek pembangunan Sembilan Gedung baru dan infrastruktur pendukung Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram di Mataram NTB, Selasa (15/10/2019).

Sebagai bagian dari ummat digital, kata Menag, informasi yang berkembang di media sosial ikut berpengaruh pada bentuk keberagamaan kita. Untuk itu, perguruan tinggi menurutnya mengemban fungsi dan menjaga kehidupan keagamaan dari apa yang telah diwariskan oleh guru dan orangtua terdahulu, yakni cara berislam yang moderat dan tidak ekstrim.

Menteri Agama, Gubernur NTB dan Kepala Kemenag NTB, foto bersama. (diskominfotik)

Di dalam perguruan tinggi, lanjut Mentri Lukman Hakim, selain sebagai upaya mengembangkan sarana mencari ilmu pengetahuan tentang Islam, juga sebagai sarana kehidupan keberislaman. “Karena Islam sudah pasti sempurna, tapi cara kita memahami nilai nilai kesempurnaan bergantung kepada wadah tempat mencari pengetahuan dan ilmu tersebut,” tegasnya.

“Perguruan tinggi mengajarkan kita, bagaimana kearifan dari guru dan orangtua yang memaknai Islam wasathiyah atau Islam moderat dalam perilaku,” tambah Menteri Agama.

Senada dengan Menteri, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), yang akrab disapa Bang Zul, juga berharap Lembaga dan Institusi Agama harus menjadikan dirinya sebagai Mercusuar di Era Artivicial Intellegence.

Sebab, menurut Zul, perkembangan bidang Artivicial Intellegence (Kecerdasan buatan) menyebabkan orang penuh kegelisahan dan tidak tenang, sehingga butuh mercusuar untuk membimbing dan petunjuk jiwa yang mengantarkan masyarakat kita lebih baik dimasa yang akan datang.

“Beberapa hari yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan rapat kerja Nasional di Mandalika Lombok Tengah NTB. Dimana ada harapan besar masyarakat agar peran Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia dan Lembaga lainnya menjadi pembimbing dan petunjuk jiwa untuk masyarakat di abad modern ini,” tegasnya.

Menurut Doktor Zul, dimasa yang akan datang dengan kemajuan Artivicial Intelegen, mungkin akan ada foto atau video Pak Menteri agama, namun menggunakan suara orang lain, sehingga kita tidak bisa membedakan itu suara Menteri Agama yang asli atau bukan. Begitupun tuan guru Turmudzi misalnya, mengeluarkan Fatwa dengan mimik yang sama tapi suaranya itu bukan suara beliau. “Ini yang harus kita antisipasi,” jelasnya.

Kehadiran Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram NTB ini, diharapkan dimasa yang akan datang menjadi Universitas Islam kelas dunia, yang dapat mendidik generasi cerdas yang dan lebih baik lagi mengerti tentang agama dan perkembangan dunia IT.

“Ketika memasuki area ini, terlihat sekali perbedaan dari bulan yang lalu. UIN mataram sudah menunjukkan tanda-tanda akan menjadi institusi Pendidikan islam kelas dunia di masa yang akan dating,” tutur Doktor Zul.

Sembilan bangunan milik UIN Mataram adalah kerjasama Kementerian Agama dan Islamic Development Bank. Sejumlah 58 bangunan fisik dari kerjasama ini, 17 diantaranya adalah yang dibangun di UIN Mataram. Pembangunan fisik institusi Pendidikan Islam itu, tidak hanya bersumber dari APBN tapi juga sejumlah kerjasama institusi luar negeri agar ajaran Islam dan keberagamaan Islam yang universal dapat terus terjaga.

Sembilan Gedung baru ini, diperuntukkan Polyclinic, General Library & ICT Center, Integrated Class Room tiga gedung, Integrated Laboratory, Training Centre, Multi Purpose Building dan Research Centre. ([email protected])