Empat Orang dari Ponpes Al-Aziziyah Diperiksa

DIPERIKSA: Salah satu saksi dari Ponpes Al-Aziziyah menjalani pemeriksaan di Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram. (ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Mataram memeriksa 4 saksi dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Aziziyah, terkait dugaan penganiayaan terhadap santriwati Nurul Izzati (13) yang berujung meninggal dunia.

“Jadi, kami di sini dalam rangka pendampingan terhadap warga ponpes,” kata Kuasa Hukum Ponpes Al-Aziziyah, Herman Surenggana, Kamis (4/7).

Rincian 4 orang yang diperiksa ialah 2 santriwati, pembina asrama putri berinisial I dan wali kelas Nurul Izzati berinisial F. Hingga sore hari, sekitar pukul 16.00 WITA masing-masing saksi dilontarkan belasan pertanyaan.  “(Diperiksa) Mulai dari sekitar pukul 11.20 WITA. Sempat istirahat salat dan makan, terus mulai lagi sekitar pukul 14.14 WITA,” ungkapnya.

Pemeriksaan kembali dijeda karena menunaikan Salat Asar dan akan kembali dilaksanakan setelah itu. Dari pantauan Radar Lombok, pemeriksaan masih berlangsung hingga pukul 16.00 WITA.

Penyidik menanyakan seputar lingkungan ponpes, serta aktivitas keseharian di dalam ponpes yang berada di Gunungsari, Lobar tersebut. “Kemudian pertanyaan dari penyidik itu hubungannya dengan almarhumah dan lainnya. Dan itu sudah dijawab dengan lengkap. Kami tunggu hasil berikutnya,” sebut Herman.

Para saksi diperiksa di ruang terpisah. Dalam pemeriksaan, Herman mendampingi wali kelas dan pembina asrama putri. Sedangkan dua santriwati tersebut pemeriksaannya didampingi pekerja sosial (peksos). “Kita juga sudah sampaikan secara lisan ke Unit PPA, siapa lagi yang dibutuhkan, akan kami hadirkan,” kata Herman.

Baca Juga :  Komplotan Maling Biji Kopi dan Cabai Diringkus

Nurul Izzati mengembuskan napas terakhir di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selong, Lotim pada Sabtu (29/6) usai koma beberapa hari. Kondisi santriwati kelas 7 asal Desa Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menjalani pengobatan di RSUD dr Raden Soedjono Selong, Lotim dengan kondisi mata kiri bengkak dan di kepala korban terdapat sebuah benjolan yang diduga akibat benda tumpul.

Korban meninggal diduga menjadi korban penganiayaan. Namun Herman menyebut tidak ada terjadi tindakan kekerasan di pondok. “Karena tidak pernah ada terdengar, tidak pernah ada yang bercerita, tidak pernah ada yang melihat, kalau itu ada tindakan kekerasan,” ucap dia.

Dijelaskan, pada Jumat (14/6) lalu, korban dijemput oleh salah satu perwakilan keluarganya di ponpes dan dibawa pulang ke Lotim. Saat pulang itu, dari rekaman CCTV, Nurul Izzati terlihat sehat. Namun selang beberapa hari, pihak ponpes mendapatkan kabar Nurul Izzati masuk rumah sakit.

“Dari rekaman CCTV, dia (Nurul Izzati) menenteng tas, kemudian di halaman (Ponpes Al-Aziziyah) dijemput oleh perwakilan keluarga dan naik mobil. Tidak dibopong, tidak dipapah, dia berjalan sendiri,” ujarnya.

Terhadap penyidikan yang dilakukan Satreskrim Polresta Mataram, lanjutnya, sangat didukung oleh ponpes guna mengungkap apa penyebab kematian Nurul Izzati yang sesungguhnya.

Baca Juga :  Pemeran dan Perekam Video Ciuman di IC Ditelusuri

“Pondok sangat mendukung penuh proses hukum ini untuk pengungkapan sebab apa ini, sakit dan meninggalnya. Kemudian, hal-hal yang dibutuhkan penyidik, pondok akan menyiapkan apa yang dibutuhkan dalam rangka pengungkapan kasus ini. Dan ini menjadi kepentingan kita bersama untuk pengungkapan kasus,” tegasnya.

Sementara, Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama membenarkan penyidik memeriksa 4 saksi dari kalangan ponpes atas surat yang dilayangkan Selasa (2/7) lalu. “Iya ada 4 saksi dari ponpes yang diperiksa hari ini. Ada pembina asrama, wali kelas, dan santriwati. Pemeriksaan santriwati itu didampingi peksos karena masih di bawah umur,” kata Yogi.

Usai pemeriksaan terhadap 4 orang itu, penyidik kembali mengagendakan pemeriksaan terhadap saksi lain dalam waktu dekat. Pemeriksaan saksi selanjutnya, masih dari kalangan ponpes. “Selanjutnya, pasti kami akan kembangkan kembali untuk pemeriksaan saksi terhadap ponpes. Ada beberapa lagi (saksi yang akan diperiksa),” ungkap dia.

Sebelumnya pada Selasa (2/7) kemarin, penyidik telah memeriksa 10 orang saksi di Lotim. Antara lain 7 saksi dari Poliklinik, Puskesmas dan RSUD dr Raden Soedjono yang pernah merawat korban. “Sebelumya nakes (tenga kesehatan) di Lotim sudah diperiksa, sebanyak 7 orang. 3 saksi lainnya dari luar nakes. Kalau hasil visum belum kami terima,” tandasnya. (sid)

Komentar Anda