Empat Kali Tolak Tawaran Produser,Kini Masuk Nominasi Aktor Terfavorit

Angga Aldi Yunanda (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Orangtua mana yang tidak bangga melihat anak kandungnya, yang dulu bukan siapa-siapa kini berubah menjadi artis papan atas Indonesia. Angga Aldi Yunanda, remaja asal Desa Duman, Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat itu bahkan masuk dalam nominasi Panasonic Gobel Awards 2016 kategori aktor terfavorit.

 


AZWAR ZAMHURI – LOMBOK BARAT


 

Komplek perumahan BTN Duman Kecamatan Lingsar Lombok Barat tidak berada di pinggir jalan raya besar, lokasinya cukup dalam dan jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota. Namun belum banyak yang tahu, salah satu rumah di BTN tersebut adalah milik artis yang namanya  tengah naik daun saat ini yaitu Angga Aldi Yunanda.

Rumah  itu kini ditempati oleh pasangan suami istri H Muhammad Nasir dan Hj Yuliati Mahsun saja. Anak pertamanya, Yunaini Dinda Lestari sedang menyelesaikan pendidikan D3 di Bogor sembari menemani sang adik, Angga Aldi Yunanda yang kini sibuk sebagai artis sinetron.

H Nasir dan Hj Yuliati begitu ramah menyambut kedatangan Radar Lombok. Keduanya silih berganti menuturkan sosok anaknya yang dulu dan kini setelah memiliki banyak penggemar.

Angga, yang dilahirkan 16 Mei 2000 lalu tidak pernah disangka bisa menjadi seperti sekarang ini. Anaknya sangat pemalu, tidak banyak keluar rumah dan kurang percaya diri. Sebagai seorang guru, Hj Yuli tentunya tidak bisa melihat sang anak terus berdiam diri di rumah sepulang sekolah.

Beradegan akting menjadi Erik dalam sinetron Mermaid In Love di sebuah televisi swasta  ibu kota   ternyata jauh dari karakter Angga yang sesungguhnya. Kehidupan Angga jauh dari romantisme remaja dan cinta seperti dalam sinetronnya. Artis yang pernah sekolah di SDN 2 Cakranegara, SMPN 2 Mataram dan kini tercatat sebagai siswa kelas XI di SMAN 4 Mataram itu tidak pernah sekalipun pacaran saat masih di Lombok. Ia hanya anak rumahan yang taat dan patuh pada kedua orangtua.

Prestasi Angga di sekolah  membanggakan. Dia siswa  cerdas dan selalu mendapat juara. Bahkan ketika semester pertama kelas X SMA lalu, ia masih bisa mempertahankan predikat juara satu di kelasnya. “Dulu anaknya pemalu, kerjaannya di rumah main laptop, menggambar dan belajar saja,”  Hj Yuli  Rabu lalu (7/9).

Masih jelas dalam ingatan Hj Yuli, untuk merubah anaknya yang jarang keluar rumah itu, Angga  diikutkan  berbagai kursus dan pelatihan. Angga didaftarkan les pelajaran, karate, renang, modelling, kursus kepribadian dan lain sebagainya. Tapi untuk urusan akting, tidak ada pembelajaran sama sekali.

Orangtua juga membantu Angga ikuti berbagai kejuaraan untuk mengasah kemampuan dan bakatnya. Hasilnya, Angga mampu menyabet predikat juara 1 putra kejuaraan MTQ Kaligrafi tingkat pelajar Kota Mataram tahun 2014 dan 2015 dan juara II tingkat umum tahun 2015. Lalu dalam dunia modelling, Angga menjadi Bintang terbaik 2014, juara 1 Casual Look, Juara Umum Lombok Busana Adat NTB 2014, juara 1 NTB Etnik Mataram Mall, The Best Social Media Model Hunt 2015 dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana ceritanya, Angga bisa menjadi artis papan atas seperti saat ini ? Semua pencapaian itu berawal dari sebuah kontes model di Metzo Executif dan Karaoke awal 2015. Waktu itu salah satu juri didatangkan dari MD Entertaiment. “Disana Angga mulai dilirik dan ditawari ke Jakarta,” kata Hj Yuli.

Orangtua awalnya menyembunyikan hal ini dari tetangga dan keluarga besar, beberapa tawaranpun awalnya ditolak karena Angga diminta untuk fokus sekolah. Maklum saja, orangtua sangat mengutamakan pendidikan sang anak.

Atas berbagai pertimbangan, akhirnya diterimalah sebuah tawaran untuk bermain sinetron Malu-Malu Kucing yang sempat tayang mulai bulan Mei 2015. Waktu itu Angga bukanlah pemeran utama, tetapi kehadirannya sangat vital sehingga menarik perhatian banyak pihak.

Hj Yuli langsung menemani sang anak ke lokasi syuting, disana perasaannya sempat berkecamuk. Angga yang tidak pernah masuk televisi tiba-tiba harus beradu akting dengan artis seperti Nafa Urbach, Amanda dan lain-lain. “Saya lihat anak saya yang kurang bisa akting, keras didikannya. Apalagi kalau lihat artis lain yang lama nunggu karena anak saya sering salah, ingin nangis saya rasanya. Tapi Angga bisa belajar cepat, itu yang saya syukuri,” ucapnya.

Saat bermain sinetron tersebut Angga  masih duduk kelas IX SMP, namun sinetron Malu-Malu Kucing pada akhir Juli selesai. Sementara ia harus melanjutkan sekolahnya ke SMA, persoalannya tahun ajaran baru sudah berlangsung hampir sebulan.

Angga akhirnya pulang ke Lombok, ia tidak bisa langsung masuk SMA karena penerimaan siswa baru sudah tidak ada lagi. Hampir dua minggu Angga menganggur di rumah tanpa ada aktivitas apapun. Ibu dan ayahnya yang seorang guru menjadi miris melihat sang anak tidak sekolah.

Berkat bantuan Dinas Dikpora, akhirnya Angga mau diterima di SMAN 4 Mataram. Memiliki otak cerdas membuatnya tidak kesulitan apapun meski terlambat mengikuti pelajaran. Disaat sudah mulai sekolah lagi, tawaran untuk bermain sinetron terus berdatangan dari Jakarta.

Orangtua Angga tetap tidak mengizinkan anaknya meninggalkan sekolah lagi, bahkan tawaran dari sutradara Sinetron Anak Jalanan yang banyak disukai masyarakat juga ditolak. Hasilnya. Angga mampu menjadi juara 1 di kelasnya. “Tapi pada bulan April 2016 lalu, Angga yang ditelpon lansung sama orang Jakarta. Angga katanya ingin main sinetron lagi, kami sebagai orangtua malu menolak keinginan anak kami setelah 4 tawaran sinetron kami tolak. Akhirnya kami izinkan dan ibu mengantar Angga ke Jakarta, sampai sekarang terus belum dia balik lagi ke rumah ini,” kenangnya.

Angga akhirnya bermain dalam sinetron Mermaid In Love selaku pemeran utama. Sinetron yang menampilkan kehidupan anak remaja masa kini tersebut booming dan nama Erik dalam sinetron tersebut lebih tenar dibandingkan nama asli Angga.

Remaja asli Lombok itu ternyata sangat lihai dalam berakting, meskipun tidak pernah pacaran namun ia mampu menghayati perannya. “Saya saja kaget lihat anak saya, kok dia bisa nangis dan menghayati banget seperti orang yang berpengalaman pacaran. Padahal dia anak rumahan, tetap saya tonton juga sinetronnya,” kata ayah Angga, H Nasir.

Sejak bermain di sinetron itu pula banyak teman dan tetangga yang mengenal Angga menjadi heran namun bangga. Masuknya Angga menjadi nominasi Panasonic Gobel Awards 2016 saja banyak yang mencibir. Maklum saja, orang daerah apalagi asal Lombok tidak mudah mendapatkan posisi strategis seperti Angga. “Angga diolok-olok di Jakarta karena masuk nominasi, apalagi dia orang baru. Makanya kami sangat berharap dukungan dari seluruh masyarakat NTB agar mendukung Angga dan bisa mengangkat nama daerah kita,” ujarnya.

Masuknya dia sebagai nominasi karena  kualitas aktingnya.  Talenta  yang dimiliki Angga semakin menguatkan setiap karakter yang dimainkannya.

Lihat saja dalam sinetron Mermaid In Love, Angga yang berperan sebagai Erik sangat pandai ketika harus melakukan adegan berkelahi. Begitu juga saat berenang atau ketika olah vokal yang sempat dibuktikan belum lama ini. “Saya tidak menyangka, kursus-kursus yang dia lakukan sangat membantunya dalam sinetron. Untuk berkelahi Angga sudah punya dasar karate, Angga juga waktu di Lombok sudah latihan karate dan banyak kemampuan lain yang sudah dimilikinya sebelum terjun dalam dunia akting,” terang sang Ayah.

 Satu pesan yang kini selalu orangtua ingatkan, tetap menjaga diri dari pergaulan bebas di ibu kota. Meskipun sudah berada di atas harus tetap rendah hati dan tidak sombong. “Shalat, setiap hari kami selalu ingatkan dia untuk menjaga shalatnya. Tidak ada artinya semua ini kalau melupakan Tuhan. Mari kita semakin populerkan Lombok dengan mendukung Angga dalam ajang Panasonic Gobel Awards. Caranya ketik PGA (spasi) 16B kirim ke 99386,” harap H Nasir.(*)