Empat Daerah Kembali Zona Merah

dr Nurhandini Eka Dewi (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Empat daerah kembali dinyatakan masuk zona merah akibat terpapar Covid-19 di Provinsi NTB.

Asisten III Pemerintah Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi mengungkapkan, kondisi Covid-19 paling parah berada di Pulau Sumbawa. “Peta hari ini zona merah 4 daerah. Di Pulau Sumbawa itu, hanya KSB yang orange,” ungkap Eka usai dilantik di Kantor Gubernur, Kamis pagi (21/1).

Keempat daerah tersebut, yaitu Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu. “Loteng dan KLU zona kuning. Dua daerah tersebut resiko tinggi, karena juga kunjungan wisatawan tinggi. Jadi harus diwaspadai,” ujarnya. 

Hal yang harus dipahami juga, ungkap Eka, masih banyak orang yang telah terjangkit Covid-19 tidak dalam pengawasan. Jumlahnya mencapai ribuan orang. Perhitungan Eka tersebut, berdasarkan rumus ilmu kesehatan. Apabila saat ini masih ada 1.038 orang yang positif Covid-19 dan dalam perawatan, artinya sekitar 1.245 orang yang juga positif masih berada di luar jangkauan. “Sekarang yang aktif 1.038 orang, artinya jika menggunakan rumus, ada 1,2 kali 1.038 orang yang belum tertangkap di luar. Itu yang harus dikejar,” ungkapnya. 

Penanganan Covid-19 di Provinsi NTB, lanjutnya, apabila tidak ditangani dengan baik akan berada di luar kendali. Apalagi dengan melihat trend saat ini yang belum membaik. Kendala utama dalam penanganan Covid-19, yaitu kesadaran masyarakat. “Kendala tangani Covid-19, inangnya di manusia. Kita kesulitan kendalikan manusia. Kalau DBD kan tinggal fogging. Masa saya mau fogging kalian. Kita akan koordinasi dengan kab/kota besok bagaimana cara baru tangani corona ini, yang merah, kuning, orange,” katanya. 

Ketua Harian Satgas Covid-19 Provinsi NTB, HL Gita Ariadi menegaskan, Pemprov akan totalitas menangani pandemi. Pasalnya, kondisinya semakin mengkhawatirkan. “Karena masalah ini sangat serius. Kita bertarung total. Di sisi lain kemampuan medik kita juga sudah mulai terbatas,” ujar Gita yang juga Sekda NTB. 

Terhadap kabupaten/kota yang masuk zona merah, Sekda meminta agar ada kebijakan baru yang diterapkan. Misalnya membatasi kegiatan masyarakat, terutama menghentikan kegiatan sekolah tatap muka. “Di pendidikan ini klasternya bayar kontan langsung. Makanya yang zona merah, rekomendasi kita tidak tatap muka. Mau tidak mau harus lakukan penyesuaian yang zona merah ini,” tegasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB yang baru, dr Lalu Hamzi Fikri mengaku akan fokus mengoptimalkan program vaksinasi. Apalagi vaksin tahap kedua juga sudah datang. Selain itu, pihaknya juga ingin menambah tenaga medis, jumlah kamar rumah sakit dan lain sebagainya. “Nakes yang belum punya STR, juga bisa kita rekrut sekarang,” kata Fikri. (zwr)