Ekspor NTB ke Israel Capai Miliaran

H Fathurrahman (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)
H Fathurrahman (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Salah satu negara Timur Tengah, Israel merupakan pangsa pasar potensial bagi produk asal NTB. Tahun ini saja, nilai ekspor produk NTB ke negara bangsa Yahudi itu mencapai 400 ribu Dolar AS atau sekitar Rp 5,8 miliar. 

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, H Fathurrahman menyampaikan, pandemi Covid-19 telah mengganggu kegiatan ekspor. “Tahun ini nilai ekspor kita hampir 4,2 juta Dolar. Termasuk ekspor kerajinan olahan ke Israel,” terang mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) itu, kemarin (18/8).

Kerajinan olahan NTB yang diekspor ke Israel, mayoritas adalah keranjang buah. Ekspor terakhir dilakukan bulan Maret lalu sebelum Covid-19 melanda dunia. 

Untuk ekspor selanjutnya, saat ini masih terkendala pandemi Covid-19. Namun yang pasti, ekspor tahap pertama bulan Maret saja nilainya mencapai 400 ribu Dolar AS atau sekitar Rp 5,8 miliar. “Kita ekspor ke Israel pak. Karena itu pangsa pasar yang meminati. Ini peluang yang harus dimanfaatkan dan dioptimalkan,” ujar Fathurrahman. 

Keranjang buah yang diminati negara Israel, terbuat dari rotan. Selama ini sentranya tersebar di berbagai daerah di Provinsi NTB. “Nilai ekspor 400 ribu Dolar itu banyak lho. Lokasi sentra produksinya di NTB ada dimana-mana. Pelaku usaha yang hubungkan antara UMKM pembuat dengan pasar di Israel,” tuturnya. 

Nilai ekspor keseluruhan NTB yang mencapai 4,2 juta Dolar tahun ini, menurut Fathurrahman, tidak termasuk sektor tambang. Mengingat, untuk tambang saja nilainya lebih dari 62 juta Dolar AS. 

Dibandingkan tahun 2019 lalu, nilai ekspor memang menurun. Untuk di luar tambang, mencapai 12 juta Dolar. “Kita akan terus tingkatkan produk ekspor. Tapi saat ini memang terkendala Covid-19,” sebutnya. 

Terdapat beberapa komoditas baru juga akan diekspor. Diantaranya gula Aren yang masih proses administrasi dengan tujuan Korea Selatan (Korsel), kopi topi Lalu Toriq dan lain-lain. “Kalau yang selama ini sudah diekspor, seperti komoditas udang panami, manggis, dan lain-lain,” paparnya. 

Selanjutnya ada juga komoditas jagung yang diekspor ke Filipina. Kemudian tepung ikan ke China dan sebagainya. “Jadi meski pandemi, ekspor tetap lancar, cuma pemenuhannya yang agak terkendala. Seperti udang di Tano untuk sementara tidak beroperasi, seharusnya diekspor ke Amerika,” ucapnya. 

Lalu bagaimana dengan nasib gerabah di NTB? Mengingat, dulu kerajinan gerabah pernah mengalami masa jaya. Namun beberapa tahun terakhir, gaungnya semakin hilang. 

Menurut Fathurrahman, sebenarnya ekspor gerabah tetap memiliki pangsa pasar yang baik. Namun persoalannya, banyak barang yang diekspor tidak tercatat. “Untuk gerabah, kita ekspor melalui Bali. Makanya ini kita perjuangkan agar SKA (surat keterangan asal, red) itu dari NTB. Tapi masalahnya agreement antara pengusaha disana dengan pasar. Kalau ada perusahaan di NTB melakukan hal yang sama, yang bisa menghubungkan dengan pasar, ya bisa. Selama ini gerabah NTB diambil Bali, lalu diekspor dengan label Bali,” jelas Fathurrahman. (zwr)