Ekspor Benur Disetop Untungkan Nelayan Budidaya

BUDIDAYA LOBSTER : Salah seorang nelayan budidaya lobster di Lombok Timur, tengah berada di tambak budidaya lobster. ( DOK/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Kebijakan ekspor benih lobster yang bakal dihentikan sementara oleh pemerintah pusat disambut baik oleh para nelayan pembudidaya di NTB. Pasalnya, hal tersebut menguntungkan mereka, di mana harga jual benih lobster akan lebih tinggi dari yang di ekspor.

Salah satu kelompok budidaya lobster di Desa Pare Mas, Teluk Jor, Jerowaru, Lombok Timur, Muhsin mengatakan, karena untuk pemeliharaan budidaya ini pembibitannya lebih murah jika masih ada ekspor. Maka pembibitan untuk pemelihara budidaya itu semakin sulit. Tetapi jika ada, maka harga bibitnya akan lebih tinggi, namun harga jual untuk ekspornya jutsru rendah. Maka dari itu, nelayan budidaya menyambut baik dilakukan penghentian ekspor benih lobster.

“Nelayan berharap hentikan sementara ekpor lobster ini, agar petani bisa untuk budidaya kembali yang seperti biasa (normal). Kita mendukung saja penghentian ekpsor bibir lobster,” ujar, Muhsin, kepada Radar Lombok, Senin (30/11).

Menurutnya, jika memang ekspor masih tetap dibuka, pihaknya akan meminta agar beberapa bulan kedepan untuk bisa dihentikan pengiriman keluar, agar harga bibit benihnya lebih terjangkau. Saat ini kondisi pembudidayaan sendiri sekarang masih mencari untuk bibit benihnya. Pasalnya, bibit benih lobster sulit didapatkan untuk budidaya.

Ketika ekspor bibit lobster, harganya cukup tinggi jadi tidak bisa dijangkau dengan harga tinggi. Kalau sekarang sudah tidak ekspor yang mulai dari boret itu bisa juga dibeli  oleh nelayan budidaya senilai Rp 3.500 – Rp 5.000 yang jenis PS (pasir). Kecuali kalau MT (Mutiara) bisa juga itu Rp 7.500- Rp10.000 bisa juga Rp 15.000 per ekor.

Sementara itu, sebelum dihentikan ekspor, benih lobster harganya lebih murah untuk bibit boret dapat dihargai Rp2.500 – Rp 3.000 dan sampai Rp 5.000 per ekornya. Tetapi untuk sekarang pembudidaya mengikuti dengan harga ekspor akan kolep.

“Kalau sekarang kita ikuti dengan harga ekspor bisa KO. Makanya sekarang kita masih banyak pembudidaya yang diam belum berani bergerak atau membeli secara pribadi. Kecuali ada bantuan benih dari pemerintah,” terangnya.

Sementara itu, ekspor benih lobster disetop karena dinilai merugikan kepentingan nasional dan menghilangkan manfaat ekonomi-sosial dalam jangka panjang. Diharapakan penghentian ekspor bisa menguntungkan semua pihak, baik masyarakat maupun pembudidaya.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskanlut) Provinsi NTB H Yusron Hadi menerangkan, jika dicermati baik-baik Peraturan Menteri Kelautan Perikan (PermenKP)12/2020 sebenarnya sangat pro terhadap budidaya. Jadi budidaya berhasil dan bisa berkelanjutan baru di ekspor. Sekarang ini dengan adanya  penghentian sementara sampai batas waktu yang ditentukan, tentu aktivitas budidaya makin bergairah.

“Hasilnya insyaallah juga tak kalah menguntungkan dan perhatian pemerintah ke kegiatan budidaya sekarang cukup bagus,” ujarnya.

Dikatakan, beberapa waktu lalu dari pemerintah pusat juga telah memberikan bantuan keramba jaring apung untuk budidaya lobster. Dengan begitu fasilitasi kedepan juga akan meningkat, baik soal teknologi budidaya, sarana prasarana maupun kebutuhan pakan.

Jika nantinya tidak di ekspor pasarnya tetap ada, karena para pengusaha budidaya benih lobster selama ini memasarkan hasilnya ke Bali, Surabaya maupun sentra-sentra pasar lainnya.

“Kita punya bandara internasional bila ada hubungan penerbangan ke pasar luar negeri. Secara langsung makin menguntungkan pembudidaya kita karena rantai pasarnya lebih pendek,” paparnya.

Ia menilai, hal tersebut bisa terpenuhi apabila didukung oleh kontinuitas produksi budidaya. Sehingga peluang pasar untuk memasarkan benih lobster akan lebih luas lagi. Terlebih NTB dikenal sebagai penghasil lobster terbaik se-Indonesia.

“Makin banyak budidaya dengan begitu membuka pasar lebih luas, tidak hanya di daerah-daerah itu saja,” tutupnya. (dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaRaperda Nyongkolan Mulai Diparipurnakan
Berita berikutnyaKONI NTB Mulai Bangun Komunikasi dengan KONI NTT