Ekonomi Triwulan III Minus Jumlah Pengangguran Bertambah

pertumbuhan ekonomi triwulan III 2020 (ist)

MATARAM – Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III -2020 mengalami kontraksi sebesar 1,11 persen (YonY), jika dibandingkan dengan triwulan III 2019. Pertumbuhan ekonomi NTB minus tersebut disebabkan oleh masih terkontraksinya berbagai kategori lapangan usaha akibat adanya pandemi Covid-19 sepanjang triwulan III 2020.

“Ekonomi NTB triwulan III-2020 dibandingkan triwulan III-2019 kontraksi sebesar 1,11 persen (yony). Tetapi jika secara triwulan III dibandingkan triwulan II-2020 tumbuh 3,01 persen (q to q),” sebut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Suntono, Kamis (5/11).

Dijelaskan Suntono, kontraksi terdalam dialami kategori penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 38,49 persen. Kemudian diikuti transportasi dan pergudangan minus 38,41 persen dan konstruksi minus 14,11 persen. Adapun

sumber pertumbuhan penyebab kontraksi tertinggi adalah kategori transportasi dan pergudangan minus 2,69 persen, konstruksi minus 1,55 persen dan perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar minus 1,21persen.

Adapun Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kategori Pertambangan dan Penggalian sebesar 40,32 persen. Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB tanpa pertambangan bijih logam pada triwulan III-2020 (y on y) mengalami kontraksi sebesar 6,65 persen.

Dijelaskan Suntono, struktur ekonomi NTB triwulan III- 2020 didominasi oleh kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan, pertambangan dan penggalian dan perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan sepeda motor dengan peran masing-masing sebesar 23,93 persen, 17,00 persen dan 14,08 persen. Sedangkan, konstruksi dan kategori administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib memiliki peran masing-masing sebesar 9,07 persen dan 6,37 persen.

Peranan kelima lapangan usaha itu mencapai 70,44 persen terhadap total PDRB Provinsi NTB. Perekonomian NTB diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku triwulan III-2020 mencapai Rp 34,06 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 23,77 triliun.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi secara y-on-y mengalami kontraksi. Hal ini juga mempengaruhi dengan jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2020 naik sebesar 0,94 persen poin menjadi 4,22 persen dibandingkan dengan Agustus 2019. Apabila dilihat menurut tingkat pendidikan, TPT tertinggi terdapat pada penduduk dengan pendidikan tamatan SMA Kejuruan, yaitu sebesar 9,71 persen.

“Adanya pandemi Covid-19 cukup berdampak pada perekenomian di NTB sehingga berimbas ke sektor ketenagakerjaan. Ditunjukkan oleh TPT yang bergerak naik dari 3,28 persen pada Agustus 2019 menjadi 4,22 persen pada Agustus 2020,” paparnya.

Saat ini, untuk jumlah angkatan kerja pada Agustus 2020 sebanyak 2,69 juta orang, naik sekitar 81,77 ribu orang dibanding Agustus 2019. Sejalan dengan kondisi tersebut, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat sebesar 0,98 persen poin.

Selama setahun terakhir, tiga lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan terbesar adalah penduduk yang bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (4,07 persen poin), perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil (1,24 persen poin), dan penyediaan akomodasi dan makan minum (naik 0,45 persen poin).

“Agustus 2020, penduduk yang bekerja sebanyak 2,58 juta orang, bertambah sekitar 53,84 ribu orang atau sebesar 2,13 persen. Persentase penduduk yang bekerja pada kegiatan informal meningkat sebesar 2,44 persen poin,” sebutnya. (dev)