Ekonomi NTB Dinilai Masih Terkontrol

PRODUK LOKAL : Untuk meningkatkan perekonomian NTB, dibutuhkan semangat bela dan beli produk lokal. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Belakangan ini, berbagai kritikan tertuju pada kinerja Zulkieflimansyah dan Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi). Terutama terkait hasil kinerja tahun 2020 yang jauh dari target. Termasuk kondisi perekonomian NTB yang anjlok.

Di tengah kritikan tersebut, Direktur Arus Data Institute (ADI), Muhamad Bai’ul Hak justru memberikan pandangan berbeda. Lembaga yang baru dikenal itu menilai perekonomian NTB masih terkontrol. “Beberapa sektor buktinya menunjukkan trend positif,” ujarnya.

Disampaikan, perekonomian Indonesia saja masih mengalami kontraksi di Triwulan 1 2021, yaitu sebesar 0.74 y-on-y. Hal ini tentu tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19, keterbatasan ruang gerak ekonomi dan adanya pembatasan mobilitas orang memaksa beberapa sektor pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) harus tiarap.

Terutama pada sektor pariwisata dan transportasi. Sama seperti halnya di Provinsi NTB, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB Triwulan I 2021 menagalami kontraksi sebesar 1.13 (y-on-y).
“Memang pandemi Covid-19 juga masih berdampak negatif bagi perekonomian NTB,” katanya.

Hal yang harus dipahami, penurunan jumlah wisatawan secara signifikan, menyebabkan jumlah hunian kamar menjadi turun drastis. Itulah yang berdampak negatif pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yaitu tumbuh minus 22,87.

Lebih jauh, adanya pembatasan mobilitas orang menyebabkan sektor transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi sebesar 25,14. Kedua sektor ini berkaitan erat dengan sektor andalan beberapa provinsi, yaitu sektor pariwisata.

BACA JUGA :  Saksi Akui Banyak Benih Jagung Rusak

Diungkapkan, Provinsi Bali saja kondisi ekonominya harus kontraksi sampai 9,85. Hal disebabkan oleh struktur PDRB Bali yang sangat mengandalkan sektor pariwisata. “Provinsi NTB, yang memiliki julukan The New Bali. Tidak ingin terlalu terlena dengan sektor yang paling terdampak pandemi ini,” ucapnya.

Pemerintah dipuji oleh LSM tersebut. Disebutkan, pemerintah terus berupaya meningkatkan share sektor lainnya terhadap PDRB. Terbukti, sektor yang selama ini memiliki nilai kecil terhadap PDRB terus menunjukkan tren positif. “Sektor industri misalnya,” sebut Bai’ul Hak.

Melalui program industrialisasi, pertumbuhan sektor industri sebesar 2.62 menjadi sinyal positif bahwa program industrialisasi secara perlahan tapi pasti sudah berada pada trek yang tepat. “Jadi menurut saya, dampak Covid-19 terhadap perekonomian NTB masih tergolong manageable jika kita bandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya,” ucap Bai’ul Hak.

Laju pertumbuhan ekonomi NTB akan kembali ke tren positif di Triwulan 2 jika memenuhi beberapa hal. Menurutnya, pembatasan mudik ke luar daerah membuat sejumlah karyawan instansi pusat yang ada di daerah seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, PLN, dan instansi lainnya akan memanfaatkan waktu libur lebaran dengan menginap di hotel. “Saya memprediksi, hunian hotel akan meningkat di Triwulan Kedua,” ujarnya.

Apabila itu terjadi, maka akan membuat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum akan kembali ke tren positif. Setidaknya mengalami kontraksi ringan.

BACA JUGA :  Fasilitator RTG Tuntut Utang Gaji BNPB

Program pembagian THR yang dilakukan di Triwulan Kedua, juga dinilai akan berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat. Tentu hal ini juga akan meningkatkan sisi supply dari produsen karena permintaan akan barang dan jasa mengalami peningkatan.

Lebih lanjut disampaikan, trend positif sektor pertanian juga harus mendapatkan intervensi tepat dari pemerintah. “Pada Triwulan kedua ini sebagian besar tanaman palawija, termasuk padi akan memasuki masa panen,” terangnya.

Hal yang harus diperhatikan, perlu kebijakan afirmatif dari pemerintah untuk mengantisipasi harga gabah yang kemungkinan turun drastis. Pemerintah perlu menyerap hasil panen petani untuk menjaga kestabilan harga gabah.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan progresif untuk sektor-sektor yang terus menunjukkan tren positif. “Salah satunya adalah sektor industri. Kontribusi sektor industri tumbuh positif 2,62 di Triwulan 1 2021,” ungkapnya.

Kedepan, program industrialisasi perlu diarahkan ke pengembangan produk industri berorientasi ekspor dan/atau produk substitusi impor. “Terakhir, saya mengajak kita semua untuk tetap mencintai, membeli dan menggunakan produk lokal NTB. Mari kita isi kamar mandi kita dengan sabun buatan NTB, melengkapi dapur kita dengan bumbu lokal NTB, menghias rumah dengan perabot buatan NTB dan sejenisnya. Mungkin harganya lebih tinggi sedikit, tapi dengan kita menggunakan produk lokal, berarti kita membantu IKM/UMKM kita tetap eksis meski diterpa pandemi,” tutupnya.