Ekonomi NTB 2020 Minus 0,64 Persen

illustrasi

MATARAM – Perekonomi NTB sepanjang tahun 2020 mengalami kontraksi alias minus. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV tahun 2020 minus 3,03 persen dibandingkan kondisi periode triwulan IV-2019 (y-on-y). sementara untuk pertumbuhan ekonomi selama tahun 2020, terjadi minus 0,64 persen.

“Sepanjang 2020 ekonomi NTB minus 0,64 persen. Kondisi tersebut disebabkan adanya pandemi global Covid-19 pada tahun 2020 yang membuat ekonomi global, nasional, dan regional tertekan,” kata Kepala BPS Provinsi NTB Suntono, Jumat (5/2).

Pertumbuhan ekonomi ini dalam kisaran pemerintah akan tumbuh positif di triwulan IV 2020. Lantaran pada  triwulan I-III perekonomian terus menujukkan perbaikan dan berkurangnya. Sebelumnya Bank Indonesia NTB memproyeksi perekonomian NTB pada 2020 akan tumbuh pada kisaran 0,2-0,6 persen (yoy), didukung dengan terjaganya inflasi NTB pada koridor yang baik 0,6 persen pada Desember 2020. Namun perkiraan tersebut meleset dari perkiraan Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji. Pertumbuhan ekonomi justru minus sepanjang 2020,

“Ekonomi NTB pada triwulan IV-2020 dibanding triwulan III-2020 (q-to-q) minus sebesar 1,25 persen. Dengan kontraksi terdalam terjadi pada kategori industri pengolahan sebesar 20,02 persen,” sebutnya.

Ekonomi NTB minus terdalam terjadi pada kategori transportasi dan pergudangan sebesar 31,39 persen. Selanjutnya kategori penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh minus sebesar 28,24 persen. Adapun kategori konstruksi minus hingga 14,35 persen.

Selanjutnya, pertumbuhan minus terdalam terjadi pada kategori transportasi dan perdagangan sebesar 28,72 persen. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, kontraksi terdalam terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) sebesar 4,74 persen.

Sedangkan, kategori pertambangan dan penggalian masih mampu tumbuh cukup tinggi sebesar 27,65 persen. Kondisi ini didorong oleh tingginya produksi pertambangan bijih logam yang dikelola oleh ’Amman Mineral’ di Sumbawa Barat. Kemudian informasi dan komunikasi tumbuh 12,40 persen. Kebutuhan internet meningkat untuk keperluan sekolah dan bekerja dari rumah mendorong peningkatan nilai tambah kategori informasi dan komunikasi.

“Pertumbuhan paling tinggi pada triwulan IV-2020 adalah lapangan usaha informasi dan komunikasi, yaitu sebesar 12,07 persen dibandingkan kondisi triwulan IV-2019 (y-on-y),” paparnya.

Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB Heru Saptaji mengatakan, percepatan pemulihan perekonomian NTB pada 2021 ini bisa dilakukan karena melihat dari perekonomian pada 2020 terus menujukkan perbaikan dan berkurangnya kontraksi pertumbuhan ekonomi dari triwulan I hingga triwulan III.

“Proyeksi perekonomian NTB pada 2020 akan tumbuh pada kisaran 0,2-0,6 persen (yoy), didukung dengan terjaganya inflasi NTB pada 0,6 persen di Desember 2020,” ujarnya. (dev)