Ekonomi Baru Pariwisata Dorong Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas dan Berkelanjutan

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus berbenah dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Pasalnya, sektor pariwisata menjadi peluang bagi Provinsi NTB yang diharapkan bisa  menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.

 


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


 

Beberapa tahun belakangan ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus menggenjot promosi berbagai keunggulan dan kelebihan serta keindahan alam sebagai destinasi wisata unggulan. Upaya pemerintah daerah yang gencar mempromosikan pariwisata mulai memperlihatkan hasil yang positif di awal tahun 2016. Ini tercermin dari pertumbuhan tamu hotel bintang di triwulan I 2016 yang sangat tingi mencapai 117 persen year on year (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Prijono mengatakan, di awal tahun 2016 pertumbuhan sektor pariwisata cukup tinggi yang tercermin dari pertumbuhan sektor transportasi dan sektor akomodasi yang masing -masing tumbuh 7.08 persen (yoy) dan 11,02 persen (yoy) di triwulan I tahun 2016.

Meningkatnya pertumbuhan sektor pariwisata didorong oleh banyak event festival pariwisata di triwulan I tahun2016 serta kegiatan MICE  (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) yang mendorong meningkatnya tingkat okupansi hotel di Provinis NTB.

“Untuk melepas ketergantungan terhadap sektor pertambangan, Pemprov NTB perlu menggerakan sumber perekonomian lain yang  berkualitas dan berkelanjutan seperti sektor pariwisata,” kata Prijono.

Menurut Prijono, perkembangan pariwisata di NTB yang tercermin dari sektor penyediaan akomodasi, makan minum dan sektor trasnportasi menunjukan pertumbuhan yang cukup siginfikan di awal tahun tahun 2016. Ini menunjukan bahwa sektor pariwista mulai terjadi peningkatan sejak pertengahan tahun 2015, setelah sempat turun cukup tajam di awal tahun 2015 sebagai dampak kebijakan moratorium rapat PNS di hotel.

Tingginya kegiatan pariwisata di awal tahun dengan berbagai kegiatan MICE skala nasional pada triwulan I 2016 mendorong pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa di Provinsi NTB. Mulai membaiknya kinerja pertumbuhan ekonomi non tambang tersebut merupakan indikator positif untuk meningatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui penyerapan tenaga kerja.  

“Upaya tersebut perlu terus ditingkatkan, sehingga menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Prijono.

Perkembangan pariwisata di Provinsi NTB tercermin dari sektor penyediaan akomodasi, makan minum dan sektor transportasi menunjukan pertumbuhan yang cukup siginfikan di awal tahun tahun 2016. Perkembangan pariwisata berdampak luas terhadap sektor ikutan lainnya. Sektor usaha riil seperti usaha mikro kecil dan menengah  (UMKM), jasa akomodasi, transportasi, perhotelan dan lainnya ikut bergerak tumbuh.

Semakin tinggi perkembangan pariwisata Provinsi NTB,  maka berdampak terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat. Pelaku UMKM sebagai sektor ikutan akan merasakan langsung dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan pariwisata.

Oleh karena itu, Prijono mendorong Pemerintah Provinsi NTB untuk melepaskan ketergantungan terhadap sektor pertambangan, dengan fokus menggerakan sumber perekonomian lain yang  berkelanjutan dan berkualitas. Sumber ekonomi baru tersebut adalah sektor pariwisata yang memiliki multiplayer efect  terhadap sektor ekonomi lainnya. Selain itu sektor pariwisata langsung dinikmati masyarakat, sehingga berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan.

Terlebih lagi, akan mulai dikembangkannya pariwisata KEK Mandalika yang merupakan kawasan ekonomi khusus mulai terlihat arah pengembangannya untuk menjadi sumber ekonomi baru yang mendorong sektor pariwisata.

Proyek yang tengah dilakukan oleh PT ITDC dilahan seluas 1.175 ha dengan jangka waktu pengembangan selama 15 tahun  (2015-2030). Prijono meyakini jika sumber pertumbuhan ekonomi dari KEK Mandalika terletak pada aspek investasi pembangunan, penyerapan tenaga kerja, serta income yang didapat melalui peningkatan kunjungan wisatawan setelah dibangunnya kawasan tersebut.

Dari aspek penyerapan tenaga kerja, operasional kawasan wisata di KEK Mandalika berpotensi menyerap 7.500 orang tenaga kerja dalam 5 tahun kedepan dan bahkan mampu menyerap sekitar 15.90 orang tenaga kerja jika pembangunan hotel telah sepenuhnya dibangun dan beroperasi.  Dimana PT ITDC memliki program untuk mempersiapkan tenaga kerja dari desa-desa penyangga sekitar KEK Mandalika, salah satunya melalui pembangunan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP).

Potensi pengembangan pariwisata di Provinsi NTB tak hanya sebatas di KEK Mandalika ataupun Sengigi, Lombok Barat serta Gilia Matra (Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno), namun potensi di kawasan lainnya juga sangat banyak untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan. Seperti halnya status Geopark Gunung Rinjani, masuknya Gunung Tambora sebagai taman nasional serta ratusan pulau kecil (gili) yang tak kalah mempesona menjadi destinasi wisata hendaknya terus dikembangkan.

Selain itu pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya juga sangat penting memberi perhatian utamanya masalah fasilitasi pendukung di obyek wisata dan juga masalah keamanan. Fasilitas pendukung seperti MCK, air bersih serta infrastruktur jalan yang memadai menuju obyek wisata perlu diperhatikan. Begitu juga masalah keamanan yang membuat wisatawan menjadi nyaman untuk berkunjung ke setiap lokasi obyek wisata.

Hal senada juga disampaikan Marketing Manager Sub Dept Head Astra Motor Mataram, Wendi Tenario bahwa pariwisata di Provinsi NTB terus berkembang pesat. Hal tersebut sangat dirasakan langsung oleh PT Astra Motor Mataram selaku main dealer Honda di NTB dengan terus meningkatnya penjualan sepeda motor setiap bulannya tumbuh 10 persen.

“Kami di main dealer Honda merasakan langsung dampak perkembangan pariwisata NTB,” kata Wendi.

Menurut Wendi, sektor pariwisata menggerakan perekonomian langsung masyarakat di bawah. Masyarakat langsung menikmati perkembangan pariwisata, karena usaha yang mereka jalankan ikut tumbuh positif. Berbagai macam usaha yang menyuplai kebutuhan para wisatawan baik itu makanan, kuliner, perhotelan, transportasi hingga perajian souvenir dari pelaku UMKM merasaka langsung dampak positif perkembangan pariwisata.

Hanya saja, sambung Wendi, pemerintah perlu memperhatikan terkait masalah infrastruktur jalan yang menjadi akses menuju obyek destinasi wisata, fasilitas umum serta keamanan juga perlu terus dibenahi. Dengan demikian, para wisatawan bisa aman dan nyaman datang ke destinasi obyek wisata di NTB, sehingga berdampak terhadap masyarakat setempat terkait perbaikan perekonomian mereka menjadi lebih baik.

“Kami terus ikut mempromosikan pariwisata NTB dan mendukung sepenuhnya pengembangan pariwisata,” ujar Wendi.

Sementara itu, Ketua Otoritas Jasa Keuangan  (OJK) Provinsi NTB, Yusri mengatakan, penghargaan yang diterima Provinsi NTB berupa The Best Halal Destination dan The Best Honeymoon Destination di ajang World Halal Travel Award 2015, membuktikan pengakuan dunia terhadap pariwisata NTB khususnya pariwisata syariah. 

Peluang tersebut harus dapat disupport sebaik-baiknya oleh industri  jasa keuangan dalam rangka membantu pemerintah dalam percepatan pembangunan pariwisata di NTB.  Disamping itu, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, rencana pembangunan pelabuhan Global Hub Bandar Kayangan di Kabupaten Lombok Utara, dan  beberapa proyek strategis lainnya di provinsi NTB akan memberikan pengaruh yang signifikan kepada perekonomian NTB.

“Saya berharap kepada seluruh industri jasa keuangan di NTB untuk mari bersama-sama membangun pariwisata NTB. Mengingat sektor tersebut sangat menjanjikan,” kata Yusri.

Berdasarkan data OJK, saat ini penyaluran kredit pada sektor pariwisata masih relatif kecil yaitu hanya 2,95 prsen dari total kredit. Ini mencerminkan bahwa dukungan perbankan pada sektor pariwisata belum optimal. Untuk itu OJK Provinsi NTB, kata Yusri, mendorong kepada seluruh industri jasa keuangan yang ada di Provinis NTB secara bersama-sama membangun pariwisata NTB  mengingat sektor tersebut sangat menjanjikan.      

Dengan perkembangan yang terus menggeliat di sektor pariwisata NTB, tentunya menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri jasa keuangan untuk bahu membahu dan secara bersinergi ikut berpartisipasi dalam mendukung berbagai proyek-proyek startegis di sektor pariwisata NTB.

“Perkembangan pariwisata hendaknya jadi peluang yang harus dapat di support sebaik-baiknya oleh industri jasa keuangan dalam rangka membantu pemerintah dalam percepatan pembangunan pariwisata NTB, “ ujarnya.

BACA JUGA :  Kewaspadaan Ditingkatkan, Pariwisata KLU Aman