Edukasi Rupiah, BI Gandeng Pelaku Wisata Gili Trawangan

Edukasi Rupiah, BI Gandeng Pelaku Wisata Gili Trawangan
EDUKASI RUPIAH: Deputi Kepala Perwakilan BI NTB, Wahyu Yuana Hidayat, bersama pimpinan hotel, koperasi dan tokoh masyarakat di Gili Trawangan, mengikuti edukasi rupiah, Sabtu (1/4). (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

TANJUNG—Daya Tarik keindahan alam yang memukau di Provinsi NTB, khususnya Pulau Lombok, mendorong peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung dari tahun ke tahun. Objek wisata yang paling dikenal wisatawan untuk dikunjungi, salah satunya adalah Kawasan Tiga Gili atau lebih dikenal dengan sebutan Gili Matra, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, yang tergabung dalam dalam satu desa yakni Desa Gili Indah, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Gili Trawangan menjadi salah satu pulau kecil yang menjadi primadona bagi wisatawan, baik itu mancanegara maupun domestik. Tingginya tingkat kunjungan wisatawan di Gili Trawangan dan dua gili lainnya ini yang kemudian mendorong Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTB untuk memberikan edukasi dan sosialisasi tentang uang rupiah sebagai identitas dan alat pembayaran yang sah di Negara Kesatuan RI.

[postingan number=5 tag=”ekonomi”]

Karena itu, Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Sabtu (1/4) menggelar sosialisasi dan edukasi rupiah sebagai alat pembayaran yang sah dan wajib di NKRI, kepada pelaku pariwisata di tiga gili tersebut, baik itu pengelola perhotelan dan juga travel agen.

Dalam kegiatan itu, BI Provinsi NTB juga melaksanakan sosialisasi uang rupiah baru Tahun Emisi (TE) 2016 kepada pelaku usaha pariwisata di Gili Trawangan dan Gili Air, serta Gili Meno.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Wahyu Yuana Hidayat mengatakan, Gili Trawangan menjadi daerah dengan  tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi, sehingga otomatis berdampak pada perputaran uang yang tinggi pula. Tentunya, ketersediaan uang yang layak edar, menjadi fokus Bank Indonesia Perwakilan NTB sebagai otoritas sistem pembayaran.

“Kunjungan wisatawan di Gili Trawangan ini sangat tinggi, sehingga perputaran uang juga tinggi,” kata Wahyu Yuana Hidayat disela-sela pertemuan dengan perwakilan pengelola hotel,  travel agen dan tokoh masyarakat yang ada di Desa Gili Indah.

Dalam pertemuan tersebut, antusiasme masyarakat sangat tinggi, karena cukup banyak uang tidak layak edar yang perlu ditukarkan di Tiga Gili tersebut. Tercatat total transaksi penukaran uang di Tiga Gili tersebut mencapai Rp 580 juta per hari, dan semuanya ditukarkan dengan uang rupiah Tahun Emisi (TE) 2016. “Kami di Bank Indonesia sangat memperhatikan ketersediaan uang layak edar, khususnya uang TE 2016 di daerah-daerah pariwisata,” terang Wahyu.

Bank Indonesia Perwakilan NTB terus gencar memberikan edukasi tentang uang rupiah sebagai satu-satunya alat transaksi pembayaran yang sah di NKRI. Selain itu juga untuk meluruskan isu miring yang berkembang di sebagian kecil masyarakat, yang menyebut bahwa logo hologram BI itu adalah lambang organisasi terlarang di Indonesia, yakni lambang PKI (Partai Komunis Indonesia). Melainan logo di uang baru TE 2016 tersebut merupakan gambar logo BI menggunakan sistem pengamanan yang dinamakan rectoverso, sehingga sulit untuk dipalsukan.

Selain itu, edukasi yang dilakukan BI dihadapan 90 orang pelaku pariwisata dan tokoh masyarakat di Gili Trawangan itu terkait dengan upaya mendukung kewajiban transaksi rupiah di dalam negeri, agar mata uang asing tidak digunakan dalam transaksi-transaksi di kawasan wisata.

Selain melakukan kas keliling, Bank Indonesia juga kembali mengedukasi masyarakat dengan melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian rupiah TE 2016. Kali ini target sosialisasi rupiah mengarah pada pelaku jasa wisata, yang terdiri dari manajemen hotel/restoran, tokoh masyarakat dan manajemen koperasi di Gili trawangan.

“Pemahaman pelaku jasa wisata terkait rupiah TE 2016 menjadi sangat penting, karena interaksi pelaku jasa wisata cukup tinggi dengan para wisatawan. Sehingga tindak pidana pemalsuan uang dapat diminimalisir,”  pungkasnya. (luk)