Edukasi Perlindungan Konsumen Cerdas Sasar Pelajar

Hj. Putu Selly Andayani

MATARAM–Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB, Hj. Putu Selly Andayani mengingatkan pelajar untuk menjadi konsumen cerdas. Pelajar sebagai generasi penerus bangsa, hendaknya lebih teliti melihat kondisi barang sebelum membeli. Hal tersebut menjadi sangat penting sebagai konsumen, agar tidak dibohongi oleh penjual atau produsen barang.

“Edukasi tentang konsumen cerdas itu sangat penting di kalangan pelajar, untuk mengajak keluarga dan lingkungannya,” kata Selly di sela sosialisasi penguatan perlindungan konsumen terhadap bahan berbahaya bagi pelajar SMP dan SMK se Kota Mataram, Senin kemarin (24/7).

Dinas Perlindungan Provinsi NTB melalui Bidang Standarisasi Perlindungan Konsumen (SPK) menghadirkan lebih dari 125 orang pelajar SMP dan SMK di Kota Mataram, untuk mendapatkan edukasi tentang perlindungan konsumen terhadap peredaran bahan berbahaya. Dimana sekarang ini makanan mengandung bahan berbahaya beredar di tengah masyarakat tidak hanya ditemukan di pasar tradisional saja, melainkan juga banyak beredar dan dijual bebas oleh ritel modern dan supermarket lainnya.

Menurut Selly, peran pelajar sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki pengetahuan dan kepedulian terkait masalah perlindungan konsumen. Mengingat maraknya peredaran makanan berbahan bahaya, serta berbagai persoalan terkait konsumen juga sudah semestinya diketahui oleh kalangan pelajar. Sehingga mereka nantinya bisa menyampaikan kepada keluarga, teman sekolah, teman bermain di lingkungan rumahnya.

Selain lebih teliti membeli barang yang mengandung bahan berbahaya, konsumen juga harus lebih jeli dan teliti terkait program diskon yang ditawarkan oleh ritel modern, supermarket dan tempat perbelanjaan lainnya. Karena tak sedikit ritel modern menawarkan program diskon untuk produk barang tertentu, tapi ternyata harga di sistem komputer kasir tetap harga semula. Begitu juga berbagai program ritel modern dan pusat perbelanjaan lainnya, yang mengobral diskon, tapi harga sudah dinaikan lebih tinggi dari harga normal sebelum memberikan harga diskon.

Konsumen juga bisa langsung mempertanyakan jika obral diskon terdapat keganjilan. Bahkan bisa di foto struk pembelanjaan dan dilaporkan kepada pihak yang berwenang untuk selanjutnya dilakukan proses penindakan. “Konsumen itu harus cerdas. Sebelum membeli, hendaknya diperiksa lebih teliti dulu produknya, apakah kedaluarsa atau memiliki kandungan bahan berbahaya,” jelasnya.

Sementara Kepala Seksi Sertifikasi, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi NTB, Lalu Satriawan mengatakan, makanan mengandung bahan berbahaya cukup banyak beredar di tengah masyarakat. Makanan olahan yang dijual keliling juga tidak menutup kemungkinan dicampur dengan bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh dan kesehatan manusia.

Selain makanan, kini juga banyak beredar obat dan kosmetik palsu di tengah masyarakat. Untuk obat, Lalu Satriawan memisalkan adanya temuan obat palsu yang tidak memiliki kandungan zat adikitip. Padahal, setiap obat itu pasti memiliki kandungan adiktip.

Obat-obatan palsu yang beredar di tengah masyarakat itu tidak memiliki kandungan zat adiktip, karena dibuat dari bahan tepung saja. Akibatnya, meski berkali-kali diminum, pasien yang mengkonsumsi tidak merasakan sembuh dari penyakit. “Obat palsu itu banyak beredar. Maka siswa perlu mengetahui tanda dan ciri obat palsu itu seperti apa, sehingga menjadi konsumen cerdas,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Bidang SPK Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Haryono mengatakan, edukasi tentang perlindungan konsumen menyasar kalangan pelajar SMP dan SMA/SMK lebih dari 300 siswa yang dilaksanakan dua kali. Selain itu, edukasi perlindungan konsumen terhadap bahan berbahaya juga menyasar pelaku usaha, pelaku pariwisata dan berbagai pihak lainnya termasuk masyarakat umum. “Kita ingin warga NTB dari berbagai latar belakang lebih teliti dalam membeli barang. Intinya konsumen itu harus cerdas, sehingga terhindar dari produk berbahaya dan program diskon obral yang bohong,” pungkasnya. (luk)