Duo Doktor Belum Mampu Geser Posisi IPM NTB

Kepala BPS Provinsi NTB, Suntono saat menyampaikan pertumbuhan IPM NTB. (IST/ RADAR LOMBOK )

MATARAM – Sudah dua tahun ‘Duo Doktor’ memimpin NTB, yakni Dr H Zulkieflimansyah dan Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB ternyata belum mampu menggeser posisi peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB. Berdasarkan release data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Selasa (15/12), mencatat IPM NTB masih berada di posisi 29 dari 34 provinsi se Indonesia. Peringkat 29 tersebut merupakan capaian TGB Dr H Muhammad Zainul Majdi yang berakhir pada tahun 2018 silam.

Posisi IPM NTB ini tidak pernah bergeser dalam dua tahun kepemimpinan ‘Duo Doktor’ sejak 2018 lalu. NTB masih berada di papan bawah klasemen bersama Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, NTT, Papua Barat dan Papua.

“Laju pertumbuhan IPM NTB tahun ini merupakan yang terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya berada di posisi ke 13. Pada tahun sebelumnya berada di posisi ke 5,” kata Kepala BPS Provinsi NTB, Suntono, Selasa (15/12).

Kendati demikian, kata Suntono, tahun ini IPM NTB mengalami peningkatan menjadi 68,25 dari tahun sebelumnya 68,14. Pertumbuhan IPM NTB mencapai 0,16 persen. Namun, peningkatan IPM NTB masih berada pada kategori capaian sedang.

Dikatakannya, dari dimensi kesehatan digambarkan oleh indikator Umur Harapan Hidup di 2020 NTB mencapai 66,51 tahun. Indikator ini meningkat sebanyak 0,23 tahun dibandingkan tahun 2019. Kemudian, pendidikan digambarkan oleh indikator Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah. HLS NTB di 2020 NTB mencapai 13,70 tahun. Di mana meningkat 0,22 tahun dibandingkan tahun 2019. Sedangkan RLS-nya sebesar 7,31 tahun dan nilai ini meningkat sebanyak 0,04 tahun dibanding tahun sebelumnya.

“Jika dari pengeluaran per kapita yang disesuaikan, capaian NTB tahun ini sebesar Rp 10,35 juta per orang per tahun. Indikator ini menurun sebanyak Rp 289 ribu dibandingkan 2019,” terangnya.

Terjadinya penurunan ini dikarenakan adanya pandemi Covid-19 melanda seluruh wilayah di dunia, termasuk juga Indonesia. Pada umumnya mengakibatkan perekonomian memburuk. Hal ini membuat pendapatan penduduk NTB menurun dan berakibat pada penurunan pengeluaran.

“Setiap bulannya rata-rata satu orang penduduk NTB mengeluarkan sekitar Rp 863 ribu di 2020 dengan pengeluaran perkapita masyarakat yang capaiannya tadi itu Rp 10,35 juta per tahun,” ungkapnya.

Sementara itu, penurunan capaian IPM pada 2020 terjadi pada tiga kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Bima, Kabupaten Lombok Utara, dan Kota Mataram. Secara umum seluruh wilayah di NTB mengalami penurunan capaian pada indikator pengeluaran per kapita akibat pandemi Covid -19. Namun penurunan yang dialami oleh ketiga kabupaten/kota tersebut cukup signifikan, sementara peningkatan pada dimensi hidup sehat dan pendidikan tidak signifikan, sehingga mengakibatkan penurunan capaian IPM di tahun 2020.

“Kabupaten Lombok Barat mencapai pertumbuhan IPM tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di NTB, yaitu sebesar 0,25 persen. Kemudian ada Lombok Tengah, tak dapat dipungkiri bahwa capaian IPM bergerak maju. Sedangkan IPM Kota Mataram merupakan yang terendah dengan laju pertumbuhan sebesar -0,24 persen,” katanya. (dev)