Dulu Banjir Pesanan, Sekarang Tunggu Dulu

KERAJINAN: Inilah hasil kerajinan kulit di Kelurahan Tiwu Galih Kecamatan Praya (DHALLA/RADAR LOMBOK)

Kelurahan Tiwu Galih Kecamatan Praya Lombok Tengah, terkenal sebagai sentra pengrajin kulit sejak tahun 1960-an. Aneka hasil kerajinan dibuat para perajin di wilayah kelurahan itu, khususnya pakaian kuda. Tapi, kini penghasilan para perajin tak seperti dulu seiring berkurangnya jumlah cidomo (delman).

 

 


Dalaah-Praya


 

PRIA paruh baya tampak khusus memperhatikan jarumnya. Ia sama sekali tak memperhatikan lalu lalang kendaraan yang melintas di depannya. Sesekali ia memperbaiki kaca matanya seolah takut lubang jahitannya salah.

Koran ini lantas berhenti di depannya. Sesekali ia menoleh lalu memperbaiki posisi duduknya. Maklum, pantatnya mungkin sudah panas mengingat alat duduk yang dikenakannya sangat sederhana. Hawa panas hari juga seperti melengkapi gerah badannya, sehingga harus bertelanjang dada.

Tumpukan potongan kulit jarum, benang, pahat, dan alat sejenisnya mengelilinginya. Di depannya, pakaian kuda tergantung lesu seperti menunggu pembeli. Ada tali kekang, tali pinggang, tali ekor, topeng, dan aneka pakaian kuda lainnya. Semua itu seolah menjadi semangatnya setiap hari untuk tetap fokus menyelesaikan pekrjaanya.

Setelah bertanya sepenggal kalimat, Mamiq Ijan nama pria itu, lantas menjawab tenang. Bahwa pekerjaan harus diselesaikan dengan pikiran fokus. Sehingga tidak terjadi kesalahan mengingat kerajinan adalah sebuah karya.

Tapi, beberapa tahun belakangan ini Mamiq Ijan mengaku tak serepot dulu. Maklum, dulu banyak cidomo/delman sehingga banyak pesanan yang datang. Tapi, sekarang ia terhitung lebih banyak nganggur ketimbang kerja. ‘’Kalau fokus seminggu satu set pakaian kuda bisa jadi. Tapi pasanan sekarang tak seramai dulu,’’ tuturnya.

Pasalnya, sambung Mamiq Ijan, jumlah cidomo saat ini berkuras drastis. Banyak kusir/kais yang menjual cidomonya untuk membeli sepeda motor. Mereka lebih memilih menjadi tukang ojek ketimbang menarik cidomo.

Mereka mengangap penghasilannya lebih banyak dibandingkan menarik cidomo. Sebab, cidomo masih menggunakan kuda. Sedangkan motor sudah menggunakan mesin. ‘’Itulah sebabnya banyak kusir cidomo beralih jadi ojek,’’ sebutnya.

Karenanya, Mamiq Ijan tak harus fokus dengan membuat pakaian kuda saja. Tetapi dia harus menimpalinya dengan membuat kerajinan lain. Seperti tas, sarung senjata, tas genggang handphone (HP), sabuk pinggang, dan bentuk kerajinan lainnya yang bisa dijual saat ini.

Dia tidak bisa mengandalkan sepenuhnya pada pembuatan pakaian kuda. Di samping itu, harganya juga cukup mahal. Yaitu tembus Rp 3 juta sampai Rp 4,5 juta per setnya. Semuanya tergantung jenis kulit yang diminta.

Mahalnya harga hasil kerajinan itu, sambungnya, karena bahan dasar kilut juga sangat mahal. Terlebih, dengan terbatasnya ketersediaan stok lokal. Dia harus memesannya di pulau Jawa. ‘’Basanya ngambil di Kelurahan Grunung, tapi kalau tidak ada harus pesan di Jawa kulitnya,’’ katanya.

Karena itu, sambung Mamiq Ijan, para perajin di tempatnya harus menunggu pesanan dulu. Baru lebih leluasa membeli bahan dan membuat kerajinan. Lain halnya jika dijajakan, akan sulit laku mengingat harganya cukup mahal. ‘’Kita lebih banyak tunggu pesanan saja kalau untuk kerajinan lainnya. Kalau untuk pakaian kuda tetap, tapi harus menunggu lama baru bisa laku,’’ pungkasnya. (**)