Dukungan Pilgub, Demokrat Galau

GALAU: Partai Demokrat dinilai masih galau menentukan siapa jagonya dalam pilkada 2018 (Dok/ Radar Lombok)

MATARAM—Partai Demokrat dilanda kegaulauan terkait bakal calon gubernur didukung dan diusung.  

Awalnya, Partai berlambang bintang mersi tersebut memberikan sinyal kuat kepada bakal calon gubernur (bacagub) asal Pulau Sumbawa didukung dan diusung menjadi orang nomor satu. Namun belakangan, dukungan bacagub Partai Demokrat di kontestasi pilkada NTB 2018 dikatakan relatif masih sangat cair.

"Dukungan bacagub Demokrat masih cair," kata Wakil Ketua DPD Partai Demokrat NTB, TGH Mahally Fikry, kepada Radar Lombok, Jumat kemarin (3/3).

Ia mengatakan, hingga saat ini Partai Demokrat belum final dukungan kepada bacagub. Termasuk, Dr. Zulkiflimansyah maupun bacagub lainnya. Jadwal yang dirancang Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat di Jakarta, lanjut Mahally, mengatur mulai penjaringan bakal calon kepala daerah (balon Kada) pada April yang akan datang.

Karena itu, Partai Demokrat maupun NW masih relatif cair dan terbuka untuk semua yang kontestan yang berhasrat menjadi calon gubernur/calon wakil gubernur. Terkecuali orang yang didukung oleh orang atau kelompok yang tidak mungkin bekerjasama. Pihaknya pun masih membuka ruang yang lebar untuk komunikasi politik dengan siapapun kecuali yang tidak bisa diajak kerjasama.

[postingan number=3 tag=”demokrat”]

"La tak mungkin, kami akan mendukung orang yang dijagokan dan bekerjasama dengan mereka yang tidak senang kepada kami," ungkapnya.

Dicecar terkait figur bacagub dimaksud tidak mungkin didukung Partai Demokrat, karena dijagokan mereka tidak senang dengan pihaknya? Mahally enggan berkomentar lebih lanjut. "Cukup dipahami saja," tandasnya.

Pengamat politik NTB, Dr. Ahyar Fadli berpendapat, masyarakat pemilih harus diingatkan tidak terjebak dengan pendekatan egosektarianisne dalam menentukan pilihan  figur. "Pendekatan egosektarianisme harus kita lepas dan tinggalkan dalam memilih calon gubernur/calon wakil gubernur,"katanya.

Menurutnya, ini penting karena demokrasi tidak beranjak dewasa dan tercerahkan bila pendekatan egosektarianisme  terus dipertahankan. Pendekatan egosekretarianisme acap kali digunakan parpol maupun tim sukses pendukung kandidat meraih dukungan maupun simpati pemilih.

"Sudah tidak zaman dan menarik lagi dengan pola egosektarianisme," tandas Rektor IAIH Bagu, Lombok Tengah itu.

Momentum pilkada NTB 2018, katanya, harus dijadikan sebagai medium pendidikan demokrasi dan politik mencerahkan serta mencerdaskan kepada masyarakat pemilih. Baginya, siapapun kandidat bakal bertarung dalam perebutan kursi NTB 1 dan NTB 2 kedepan, harus lebih mengedepankan visi misi, ide dan program dalam membangun provinsi NTB kedepan lebih maju, bersaing dan sejahtera.

Terlebih kedepan, era persaingan lebih kompetitif baik nasional maupun global. Sehingga diperlukan ada kepemimpinan NTB yang visioner, punya konsep, dan program rancang bangun bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat NTB. "Tidak saatnya lagi kita bicara dia dari suku apa, dan trah siapa. Terpenting apa konsep pembangunan mau ditawarkan bagi kemajuan NTB," pungkasnya. (yan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid