Duka Keluarga Mahasiswa UII yang Tewas Usai Diksar Mapala

BERDUKA: Safaah (dua dari kanan) didampingi Ermia Andriani (kanan) bersama anggota keluarga menunggu kepulangan jenazah Ilham, Selasa kemarin (24/1). (Jalaludin/ Radar Lombok)

Ilham Nurpadmi Listiadi, 20 tahun, mahasiswa Fakultas Hukum Jurusan Hukum Internasional UII Yoyakarta asal Pringgasela, Lombok Timur  meninggal  usai  Pelatihan dan Pendidikan Dasar  The Great Camping (TGC) XXXVII Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Diduga  pelatihan dan pendidikan dasar (diksar) disertai aksi kekerasan terhadap pesertanya.

 


Jalaludin – Lombok Timur


Duka mendalam dirasakan  Safaah, 54 tahun warga Jalan Pendidikan, RW Rapi, Gubuk Barat Desa Pringgasela, kecamatan Pringgasela, Lombok Timur (Lotim). Dia tidak menyangka  putranya Ilham Nurpadmi Listiadi  meninggal usai mengikuti kegiatan diksar Mapala. “Sejak setahun lalu ia ngotot untuk bisa masuk Mapala, namun saya tidak kasih,” kata  Safaah di rumahnya Selasa kemarin (24/1). Safaah didampingi anak ketiganya, Ermia Andriani dan beberapa orang keluarganya.

Tidak diberikan izin, tidak membuat niat Ilham kendor.  Rupanya, keinginan ikut Mapala itu semakin kuat. Ilham nekat ikut dan mendaftar meski tanpa restu ibunya. “Saat sebelum berangkat ikuti pelatihan dia telpon saya, tapi saya tidak mau angkat hingga kemudian SMS ke kakaknya,” jelasnya.

BACA JUGA : Mahasiswa UII Asal Lotim Tewas Usai Diksar Mapala

Ilham menurut Safaah, anak yang patuh dan nurut pada orang tua. Apapun yang dikatakan orang tua ia selalu patuh. Namun entah dengan yang satu ini,   alumni SMAN 2 Mataram ini justru nekat masuk Mapala meski tak mendapatkan restu orang tua.

Selasa dini hari (24/1), Safaah dan keluarga besarnya mendapat kabar jika Ilham meninggal dunia   ICU RS Bathesda Yogyakarta. Safaah syok mendengar kabar itu. Dia mengaku telah kehabisan kata-kata guna  melukiskan perasaan dan kesedihannya yang sangat mendalam atas musibah yang dialami anak bungsunya tersebut. Dia lalu meminta  semua  pihak yang terlibat  harus diusut tuntas dan diproses seadil-adilnya.

Kakak korban Ermia Andriani, 24 tahun sebelum berangkat diksar, Ilham mengirim SMS ke dirinya.  Ilham mengirim SMS karena ibunya tidak mau menjawab telponnya.  Dalam SMS-nya, Ilham meminta  izin dan sekaligus do'a restu sehingga selamat dan lulus   mengikuti Pelatihan Dasar The Great Camping (TGC) XXXVII Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UII Yoyakarta selama delapan hari dari tanggal 14 hingga 22 Januari di Gunung Lawu Jawa Tengah. “Dalam SMS-nya ia titip salam sama ibu agar didoakan sehingga lulus dan selamat dalam mengikuti pelatihan itu,” katanya.

Sejak di bangku SD hingga lulus SMA, Ilham   tidak pernah ikuti kegiatan  ekstra sekolah. “Selama ini adik saya murni belajar dan tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra,” tuturnya.

Itulah sebabnya sang ibu  kemudian sangat keberatan manakala adiknya itu meminta izin masuk sebagai anggota Mapala.  Namun demikian sang adik rupanya tetap nekat  bergabung meski tidak diizinkan.   Rupanya hal tersebut membawa kesedihan  bagi seluruh keluarganya.

Ermia menuturkan,  Sabtu sore (21/1) Ilham sempat menelponnya dan mengatakan jika ia telah pulang dari pelatihan dan mengalami kecapean. Namun rupanya adiknya tidak menceritakan hal yang sebenarnya. Lalu  pada hari Senin (23/1), Ermia sempat berkomunikasi dengan Ilham. Saat itu Ilham baru siuman setelah beberapa kali pingsan. Oleh teman-temannya dan ibu kosnya, Ilham dibawa ke  RS Bathesda Yogyakarta. Saat itu, Ilham kembali pingsan serta mengalami pendarahan hebat dari bagian anusnya. “ Sempat kami komunikasi tapi suaranya sangat lemah akibat sakit parah yang diderita,” katanya sedih.

Setelah itu, komunikasi terputus.  Ibu dan bapaknya  lalu memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta guna menjenguk Ilham.     Namun mereka tidak mendapatkan tiket pesawat dan rencananya baru Selasa (24/1) akan berangkat.

Keluarga kata Ermia, cemas lantaran tidak ada komunikasi sama sekali. Bahkan ia dan ibunya serta saudara-saudaranya tak henti-hentinya menangis sembari berdo’a agar Ilham segera siuman dan sembuh.

Rupanya takdir berbicara lain. Mereka mendapatkan kabar duka. “Sekitar pukul 00.58 Wita atau 23.58  WIB, bapak mendapat kabar dari bibi dari Magetan yang mengurus adik disana, jika adik sudah meninggal,” katanya lirih. Rekan-rekan Ilham juga turut mengabarkan keluarga.

Tangis anggota keluarga pecah. Mereka tidak menyangka Ilham meninggal. Semalam suntuk tak satupun dari anggota keluarga ini tidur. Sedih meratapi kepergian sang bungsu yang selama ini diketahui tak pernah mengidap penyakit yang membahayakan, terlebih hingga mengakibatkan pendarahan yang luar biasa. “Kami minta selain kasus ini diusut tuntas dan mengadili semua pihak yang terkait dalam persoalan ini, kami juga berharap agar Mapala dibubarkan saja,'' tegas Ermia.(*)