Duka Keluarga Julia Ningsih, TKI Korban Kapal Tenggelam di Malaysia

HISTERIS : Kepulangan jenazah Julia Ningsih TKI asal Desa Dasan Borok Kecamatan Suralaga disambut histeris keluarga Sabtu (25/12). (M GAZALI/RADAR LOMBOK)

Salah satu dari empat tenaga kerja Indonesia (TKI) yang meninggal dunia dalam tragedi tenggelamnya kapal cepat di  perairan tenggara pantai Tanjung Balau, Kotatinggi, Johor Bahru, Malaysia adalah Julia Ningsih, warga Dusun Sari Indah, Desa Dasan Borok, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur. Dia pergi bersama suaminya Junaidi yang dikabarkan selamat dari tragedi maut itu.


M Gazali-Lombok Timur


Suasana duka menyelimuti kediaman Julia Ningsih di Dusun Sari Indah, Desa Dasan Borok, Kecamatan Suralaga. Peti jenazah Julia Ningsih yang dibawa menggunakan mobil ambulans dari Bandara Internasional Lombok (BIL) tiba di rumah duka Sabtu (26/12).

Tangisan pecah ketika jenazah Julia Ningsih diturunkan dari dalam mobil. Orang tua korban, terutama sang ibu mertua tampak begitu terpukul melihat menantunya pulang dalam kondisi tidak bernyawa. Bagaimana tidak, Julia Ningsih masih terhitung pengantin baru. Dia baru enam bulan ini menikah dengan Junaidi, suaminya yang dikabarkan selamat dari musibah kapal tenggelam itu pada Rabu (15/12) lalu.

Inaq Mulyadi, sang mertua tak kuasa membendung harunya. Sambil memeluk tabela anak menantunya, kantung matanya tumpah terlara-lara menggenangi pipinya yang tampak mulai menua. Begitu pun ibu kandung korban juga merasakan duka yang sangat mendalam.

Julia Ningsih sendiri pergi merantau ke Malaysia bersama suaminya Junaidi. Mereka adalah Pasutri yang baru mengarungi rumah tangga sekitar enam bulan lalu. Ia nekat pergi mengikuti suaminya dengan harapan ingin mengubah ekonomi keluarga menjadi lebih baik. Namun, cita-cita mulia pasutri itu harus berakhir dalam gelapnya liang kuburan. Julia Ningsih mendapat musibah dan tak kuasa menolak takdir kematiannya.

BACA JUGA :  Mengenal Bripka M Nurul Wathan, Peraih Polisi Teladan Tingkat Polda NTB 2017

Kepergian Julia Ningsih untuk selamanya punya cerita sendiri di benak kelurga. Terutama sang ibu mertua sudah punya firasat sebelum korban pergi.  Pertama dari tingkah laku anak dan menantunya  yang tidak biasa seperti sebelumnya. “Banyak perubahan tingkah laku anak dan menantu saya sebelum berangkat. Bahkan menantu saya selalu  berpesan untuk selalu disayang sampai kapanpun,” tutur Inaq Mulyadi, mertua Julia Ningsih atau ibu dari Junaidi.

Julia Ningsih merupakan guru ngaji di musala dekat rumahnya. Sehari sebelum berangkat korban bersama suaminya meminta air bekas cuci kakinya untuk diminum. “Dari omongannya itu saya mikir, kok dia ngomong seperti orang mau ninggalin kita untuk selamanya. Sebelumnya dia nggak pernah ngomong kayak gitu,” lanjut Inaq Mulyadi.

Dengan mata berkaca-kaca, Inaq Mulyadi menceritakan kisah menantunya yang sempat menjual handphone sebelum berangkat. Sebelum HP-nya terjual, semua fotonya di HP tersebut di-upload ke akun media sosialnya. Waktu itu, korban mengatakan bahwa dia ingin menyimpan semua foto tersebut di facebook untuk dijadikan kenangan. Foto itu sengaja disimpan di facebook dengan tujuan supaya nantinya bisa dilihat oleh keluarga. “Dia bukan hanya sekadar menantu. Tapi sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Pesan lainnya ia juga minta saya untuk menyimpan bonekanya  kenangan dari teman sekolahnya. Bahkan jangan sampai diberikan kepada siapapun,”  imbuh Inaq Mulyadi.

BACA JUGA :  Menengok Perpustakaan Keliling Milik Brigadir Agus Salim

Sebelum berangkat, terangnya, menantu dan suaminya itu juga berulang kali menyampaikan permohonan maaf. Termasuk juga juga meminta supaya tetap didoakan. Selaku orang tua dan mertua tentunya ia sangat trenyuh mendengar perkataan dari menantu dan anaknya. “Saya pun sampai berpesan  kalau keadaan cuaca tidak bagus, agar tidak melanjutkan bepergian dan lebih baik balik ke rumah lagi. Mereka hanya menjawab ya bu, kalau cuaca tidak baik, saya balik,”  kenangnya.

Pihak keluarga juga mengetahui jika anak dan menantunya itu pergi menjadi TKI ilegal. Bahkan mereka sempat melarang keduanya untuk tidak nekat pergi. Bahkan sampainya di Batam, keduanya juga diminta untuk pulang dan membatalkan niatnya ke Malaysia. Namun tetap mau pergi. Dia ingin menemani suaminya untuk mencari nafkah.  “Dia bilang saya rela mati bersama suami saya’, kata-kata itu yang terus diucapkan,”  imbuh Inaq Mulyadi.

Korban dan suaminya rencananya akan bekerja di kebun sayur. Tentang kepergian pasutri tersebut juga tidak hanya berasal dari keluarga yang ada di sekitarnya, melainkan juga pihak keluarga yang ada di Malaysia sana. “Kalau menantu saya baru pertama pergi. Sementara anak saya Junaidi sudah sering, kalau tidak saya salah sudah empat kali,” cetusnya.

Karenanya dia berharap anaknya Junaidi yang dikabarkan selamat dalam kejadian ini supaya supaya kejelasan nasibnya. Kalau masih hidup diminta supaya segera dipulangkan. (**)