Dua Terduga Teroris yang Tewas di Poso Asal NTB

H Lalu Syafi’i
H Lalu Syafi’i (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Dua terduga teroris yang ditembak mati di Poso, Sulawesi Tengah, Selasa lalu (16/5) berasal dari NTB. 

Keduanya diduga terlibat jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan telah masuk menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).Kepala Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB, H Lalu Syafi’i mengungkapkan, dua warga NTB yang ditembak hingga meninggal tersebut yaitu Askar alias Jaid dan Barok alias Firdaus. “Kita sudah imbau mereka agar turun dari gunung, tapi tidak mau juga. Sekarang mereka sudah meninggal dunia,” terangnya kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (17/5).

Menurut Syafi’i, keduanya berasal dari Bima. Selain Askar dan Barok, masih ada juga warga Bima yang bergabung dengan MIT dan masih berada di hutan Poso. “Jumlah mereka bertambah yang dari Bima itu, karena mereka memang hobi berperang. Itu hobi mereka,” ujarnya.

Sejak lama, beberapa warga Bima sudah terdeteksi menjadi pengikut jaringan Santoso. Hal ini disebabkan salah pergaulan dan faktor  hubungan kekeluargaan. Banyak masyarakat Bima pergi merantau ke luar daerah. Disana mereka bertemu dengan orang-orang yang pahamnya salah sehingga terbawa arus jaringan teroris.

Untuk situasi dan kondisi di Bima sendiri, lanjutnya, sampai saat ini masih ada beberapa pondok pesantren (Ponpes) yang mengajarkan paham   radikal. Hal seperti itu akan memudahkan para jaringan teroris berkembang dan merekrut orang.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemprov NTB untuk mengantisipasi dan meminimalisir berkembangnya jaringan teroris di Bima. “Kita bahkan datangkan pimpinan teroris yang sudah bertaubat ke Bima, kita buat testimoni disana. Tapi ya memang banyak yang terlibat dengan jaringan  keras itu,” ucapnya.

Bangkesbangpoldagri sendiri tidak memiliki data lengkap jumlah teroris yang ada di Bima maupun NTB. Mengingat, masalah teroris seperti gunung es. “Yang terdata saja kita tahu, yang sudah ditangkap. Kalau yang hidup di tengah-tengah masyarakat tidak kita tahu sih jumlahnya, kan mereka tidak menunjukkan diri sebagai teroris,” kata Syafii.

Selain itu, tidak ada orang manapun yang menyebut dirinya teroris. Menurut Syafi’i, mereka menganggap diri sedang berjihad dan tidak ingin dihalangi. “Mereka tidak mau diajari, dianggap kita halangi mereka berjihad dan kita disebut musuhnya kalau halang-halangi,” tutur Syafii.

Berkali-kali Bangkesbangpol juga mengumpulkan masyarakat yang diduga memiliki paham radikal. Mereka diarahkan untuk berjihad dengan melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Namun semua nasehat tersebut dimentahkan.

Realitas tersebut kata Syafi’i, tidak hanya terjadi di Bima. Beberapa kabupaten di NTB juga ada yang masyarakatnya memiliki paham radikal ini. “Ada itu di Lotim juga, suka caci maki Pancasila. Tapi kan tidak kita tahu mereka teroris atau bukan, karena secara nyata tidak ada kelihatan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Syafi’i menghimbau kepada seluruh tokoh agama, masyarakat dan semua pihak untuk menjaga diri serta keluarga dari paham radikal. “Marilah kita terapkan Islam yang rahmatallil’alamin. Jaga jamaah, Islam terbaik itu yang ramah,” tutupnya.

Askar Bin Zaid tinggal di RT 07 RW 02 Kelurahan Nae Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima.

Paman Askar, Mudin, 49 tahun menuturkan, jika ponakannya terakhir dilihat tahun 2014 lalu. Askar yang bekerja serabutan, tiba-tiba memutuskan pergi ke luar kota. “Kami juga tidak tahu kemana dan untuk apa,” aku Mudin.

Ketua RT setempat Imran, mengaku belum yakin dengan kabar tewasnya Askar. Pasalnya, sebelumnya sudah dua kali Askar dikabarkan tewas dalam sebuah kontak senjata. Namun belakangan diketahui Askar masih hidup. “Ini kabar ketiga kalinya Askar dikatakan tewas,” ungkap Imran.

Selain itu, ada sedikit perbedaan fisik antara foto yang ditunjukkan pasca tertembak dengan foto Askar sebelum meninggalkan Kota Bima. Menurut Imran, Askar memiliki kulit putih dan bergigi gingsul.

“Kalau saya lihat fotonya, gigi gingsul itu tidak ada,” katanya, ragu.

Sementara itu, istri Askar, yang berdomisili di Desa Padolo Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, Inayah tidak bisa ditemui karena sakit. “Maaf adik saya sedang sakit gigi, jadi belum bisa ditemui,” ujar kakak kandung Inayah, Sutomo.

Melalui Sutomo, Inayah menyakini jika yang tewas dalam baku tembak adalah Askar. “Kemarin kami didatangi aparat dan mengabarkan hal ini. Foto pun sudah dilihat dan Inayah membenarkan kalau itu suaminya,” ungkap dia. Saat ini istri dan keluarga Askar hanya berharap jenazah Askar bisa dikembalikan kepada keluarga untuk dikebumikan secara layak. “Dengan segala kerendahan hati, kami meminta agar jenazah Askar bisa diberikan kepada kami,” pinta Sutomo, yang juga mewakili suara istri Askar. (zwr/tin)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid