Dua SMPN di Mataram Tetap Gelar UN Manual

Tetap Gelar UN Manual
Kepala SMPN 17 Mataramm Woody Hexana saat menerima bantuan komputer namun tidak bisa melaksanakan UNBK tahun 2020 mendatang.(Abdi Zaelani/Radar Lombok)

MATARAM– Sebanyak dua SMPN  di Kota Mataram untuk tahun 2020 mendatang dipastikan tidak akan mengikuti Ujian Nasional  Berbasis Komputer (UNBK). Kedua sekolah itu yakni SMPN 24 Mataram dan SMPN 17 Mataram Meskipun dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram telah berupaya untuk 24 SMPN di Kota Mataram dapat melaksanakan UNBK 100 persen namun berbanding terbalik dengan kanyataan di lapangan.

Kepala SMPN 17 Mataram Woody Hexana mengaku, masih kekurangan computer untuk pelaksanaan UNBK pada tahun mendatang. Alasanya komputer yang dimiliki hanya 18 unit dan masih butuh 50 unit.

“Kita masih kekurangan komputer,” ucapnya.

Dikatakannya, pihaknya tidak mempermasalahkan ruang dalam pelaksanaan UNBK. Hal ini dapat diiniasi dengan menyetting ruang kelas. Namun kenyataan di lapangan berbeda sebab jumlah laptop yang dimiliki sekolah jika meminjam kepada guru-guru hanya terkumpul 8 unit hingga 10 unit laptop yang di support dalam pelaksanaan UNBK.

 “Kondisi siswa kami dari 407 orang yang punya laptop dirumahnya hanya satu,” jelasnya.

Sementara Kepala SMPN 24 Mataram, Abdul Chair Abubakar mengatakan, siswanya belum siap untuk UNBK. Sebab dari segi keahlian memang siswanya  jarang dimanfaatkan untuk IT dan belum pernah melatih para siswa untuk menggunakan komputer dalam ujian. Hal ini disebabkan alat-alat berupa laptop atau komputer tidak ada di sekolah. Kemudian jika menumpang di sekolah lain ditakutkan mental dalam pelaksanaan UNBK akan down dan tentu berpengaruh terhahap nilai siswa.

“Dari dinas memang menginstruksikan semua ikut UNBK,” terang Abdul Chair,.

Abdul Chair juga menyayangkan, sikap Disdik Kota Mataram yang terkesan hanya menghimbau tanpa melakukan pemantauan. Terlebih sekolah ini sama sekali tidak memiliki komputer.

 “Itu kadang buat saya kecewa, dinas hanya menghimbau saja, tapi tidak memantau. Siswa kami yang kelas IX sekitar 47 coba kita diberikan bantuan laptop setengah saja dari jumlah siswa kita,” sesalnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdik Kota Mataram, M Taufik menegaskan, Kepala Sekolah (kepsek) semacam ini harus dievaluasi. Sebab dari dinas sendiri sudah bekerja secara serius, mulai dari mengusahakan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk membangun laboratorium komputer untuk kesuksesan pelaksanaa UNBK.

“Ini jadi evaluasi bapak Kadis, kepsek yang tidak ikut UNBK,” tegas Taufik.

Ia menilai, kepsek seharusnya mampu melakukan improvisasi. Sebab dari dinas sudah berusaha secara maksimal untuk memberikan bantuan-bantuan kepada sekolah. Mengenai kebutuhan komputer untuk pelaksaan UNBK. Pihak dinas menyarankan untuk meminjam kepada guru dan wali siswa.

“Kasek usaha dong, jangan andalkan dinas saja,” sesalnya.

Selain itu, SMPN 17 Mataram yang sudah dapat bantuan kenapa tidak bisa melaksanakan UNBK. Jika SMPN 24 dirinya tidak ambil pusing karena kepseknya mau pensiun.

‘’Kalau saya tahu begini mendingan bantuan DAK itu saya serahkan ke SMPN 3 Mataram bukan ke SMPN 17 Mataram. meskipun SMPN 3 Mataram tidak dapat DAK tapi berani melaksanakan UNBK tahun ini,’’ ujarnya.

Untuk diketahui, pada tahun 2018 yang melaksanakan UNBK ada sembilan sekolah dan untuk sekolah yang melaksanakan Ujian Nasional berbasis Kertas Pensil (UNKP) sebanyak 15 sekolah. Sedangkan untuk tahun ini ada peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya. (adi)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid