Dua Siswa MAN 1 Selong Lombok Timur Juara KIR

Dua Siswa MAN 1 Selong Juara KIR
BERFOSE: Yasinta Rohdatul Aisy dan Rasida Ananda Muliadi berfose didampingi kepala MAN 1 Selong Nurul Wathoni. (Janwari Irwan/Radar Lombok)

SELONG – Dua siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Selong Lombok Timur berhasil meraih juara satu Lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) tingkat nasional. Kegiatan lomba diselenggarakan oleh Universitas Internasional Semen Indonesia pada 24-25 Februari kemarin.

“Dua siswa kami yang menang lomba itu adalah Yasinta Rohdatul Aisy dan Rasida Ananda Muliadi,” ungkap Kepala MAN 1 Selong Nurul Watoni, Senin (26/2).

Ia mengaku bangga dengan hasil yang didapat oleh siswanya. Hasil yang didapat ini membuktikan bahwa pembinaan karya ilmiah remaja di madrasah ini cukup maksimal.

Ia menyampaikan, ekstrakurikuler KIR sebenarnya wajib bagi siswa di madrasah ini. Hanya saja, saat ini di madrasah tersebut masih kekurangan SDM pelatih dan minat siswa.

Namun, untuk di madrasah yang dipimpin disebutnya pembina  eskul ini berasal dari perguruan tinggi. Selain itu pihak madrsah disebutnyajuga mempunyai kapasitas untuk memberikan bimbingan.

Sementara itu, dua siswa madrasah ini mengambil judul karya “Pengabdian Masyarakat di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal”. Karya ini lebih mengangkat potret pendidikan di daerah-daerah teringgal. Salah satunya di Lombok Timur. Dalam karya itu, kedua siswa menekankan pentingnya memanfaatkan metode pembelajaran e-learning. “salah satu bentuk pembelajaran ini seperti diskusi , dan ada juga ruang kelas online. Dan salah satu sekolah yang menerapkan e-learning ini adalah MAN 1 Selong,” ujar Yasinta Rohdatul Aisy dan Rasida Ananda kompak.

Mereka mengatakan, e-learning merupakan salah satu pembelajaran yang tidak hanya mengandalkan ruang kelas. Namun, guru dan siswa bisa berinteraksi tanpa terhambat ruang dan waktu. Praktis, proses berlajar dan mengajar tidak terbatas.

Untuk bisa menjalankan apilkasi ini sambungnya, ia memilih aplikasi Quipper, Brainly dan Edmodo sebagai apilikasi pembelajaran. Kedua aplikasi ini disebutnya memiliki dampak positif. Namun, untuk bisa mengetahui dampaknya di daerah tertinggal akan bisa rasakan setelah 5 tahun mendatang. (cr-wan)

BACA JUGA :  Siswa Miskin Bisa Sekolah Gratis