Dosen Cabul Dipecat, Korban Didorong Lapor ke APH

Joko Jumadi (ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Mataram (Unram), mendorong mahasiswi, korban dugaan pelecehan seksual oleh oknum Dosen Fakultas Pertanian Unram, inisial AN, agar melaporkan kasus asusila tersebut ke aparat penegak hukum (APH).

“Kami masih meminta korban agar mau melaporkan ke Polisi. Ini yang lagi kita dorong (melapor ke Polisi). Saya juga maunya, proses (selain sanksi) administrasi akademik, tapi ada juga proses hukum,” kata Ketua Satgas PPKS Unram, Joko Jumadi, Jumat (21/6).

Satgas PPKS Unram hanya menjalankan proses administrasi pihak internal kampus, dan memberikan rekomendasi ke pihak kampus agar AN diberikan sanksi secara administratif, berupa pemecatan sebagai tenaga pendidik. Untuk mengarah ke laporan pihak Kepolisian, Satgas PPKS Unram tidak bisa berbuat banyak, terlebih korbannya orang dewasa.
Sementara untuk pelaporan menjadi wewenangnya korban.

“(Melapor ke APH) semua kembali kepada korban yang memegang keputusan. Dia (korban) kuncinya,” sebut Joko.
Joko menyebut dugaan pelecehan seksual yang dilakukan AN terhadap sejumlah mahasiswi tersebut, sudah terbukti. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan, baik dari mahasiswi yang menjadi korban maupun AN yang dilaporkan.

“Pelaku juga mengaku (melakukan pelecehan seksual). Dugaan pelecehan itu terbukti. Apa yang disampaikan korban, pelaku dan hasil pemeriksaan psikologi, kemudian kita memutuskan (diberikan) sanksi administrasi berat (pemecatan),” tegasnya.

Pelecehan seksual yang dilakukan AN berupa pencabulan. Cabul itu dilakukan dengan cara verbal dan fisik. Verbalnya seperti mengeluarkan kata-kata, sedangkan pencabulan secara fisiknya menyentuh bagian tertentu korban. “Hanya pencabulan saja, tidak ada persetubuhan,” ungkap Joko.

Korban yang melapor ke Satgas PPKS Unram soal pelecehan seksual yang dilakukan AN sebanyak 3 orang. Itu terjadi pada tahun 2024 saja. Namun berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan Satgas PPKS, AN sudah mulai menjalankan aksinya sejak tahun 2010. “Tetapi berdasarkan hasil investigasi kita, ada juga yang terjadi pada tahun 2010 dan 2016. Paling lama kejadian tahun 2010,” ujarnya.

AN menjalankan aksinya dengan memanfaatkan dirinya yang sebagai dosen pembimbing, dan juga memanfaatkan kondisi ruang kerja yang tertutup.

“Modusnya bimbingan skripsi, karena ada di dalam ruangan tertutup, jadi leluasa dia, karena tidak ada orang yang melihat,” kata Joko.
Ditegaskan, AN sudah dipecat sebagai tenaga pendidik di Unram atas rekomendasi yang diberikan Satgas KPPS Unram. Pemberitahuan pemecatan AN dari pihak Unram langsung diteruskan ke Kemendikbud. “Yang bisa kita lakukan sekarang, teman-teman tolong awasi. Pokoknya kita bisa memastikan bahwa dia (AN) tidak lagi di kampus,” tegasnya. (sid)

Komentar Anda