Dokter Praktek di RS Swasta Lotim Dibatasi

Ali BD
Ali BD (GAZALIE/RADAR LOMBOK)

SELONG—Tak sedikit para dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah daerah  di Lombok Timur (Lotim), lebih banyak menghabiskan waktunya untuk praktik di rumah sakit swasta. Para dokter tersebut lebih memgutamakan pekerjaan mereka di rumah sakit  swasta, dibandingkan dengan tugas utama mereka di rumah sakit pemerintah, yang terkadang dinomorduakan.

Menyikapi ini, Bupati Lotim, Ali BD mengatakan saat ini sudah ada ketentuan dan aturan yang mengikat, dimana dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah tidak bisa seenaknya bekerja di rumah sakit swasta.

Jika di waktu sebelumnya, mereka bisa seenaknya bekerja di rumah sakit swasta, maka saat ini mulai dilakukan pembatasan. Karena  tugas pokok dokter di rumah sakit pemerintah harus lebih diutamakan, ketimbang di rumah sakit swasta.

“Sekarang sudah ada ketentuannya. Kalau dulu mereka bisa semena-mena melakukan praktek di beberapa rumah sakit. Tapi sekarang itu tidak bisa. Paling tidak hanya satu rumah sakit swasta,” terang Ali BD, Selasa kemarin (1/8).

Para dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah lanjutnya, semuanya sudah jelas aturan jam kerjanya, yaitu kurang lebuh selama tujuh jam. Selama kurun  itu, para dokter diharuskan untuk tetap standby di rumah sakit, sampai waktu yang telah ditentukan. Mereka juga tidak akan diperkenankan pergi kemanapun selama masih jam kerja. Apalagi sampai melakukan praktik di rumah sakit swasta.

“Kalau ada dokter yang meninggalkan pasiennya di rumah sakit daerah, kemudian dia pergi ke rumah sakit swasta, itu tidak bagus. Kalau ada ditemukan seperti itu, tulis saja,” sarannya kepada wartawan.

Persoalan lainnya, sejauh ini Lotim juga masih mengalami kekurangan tenaga medis, baik itu dokter dan lainnya. Menurut Kepala Dikes Lotim, Asrul Sani. kekurangan tenaga medis ini tidak hanya di wilayah Lotim saja. Melainkan kondisi serupa juga terjadi di semua wilayah di Indonesia. “Kekurangan tenaga medis ini berlaku di semua kabupaten/kota, kecuali di kota-kota besar,” terang Asrul.

Jika dibandingkan dengan nrgara maju, jumlah tenaga medis yang ada di sebagian besar kabupaten/kota seluruh Indonesia masih mengalami kekurangan, termasuk di Lotim.

Jika di negara maju satu dokter menangani 2 ribu sampai 3 ribu warga, dari total jumlah penduduk. Sementara di Lotim sendiri perbandingannya masih terlalu jauh jika dilihat dari jumlah penduduk Lotim yang mencapai 1,2 juta jiwa, dibandingkan dengan tenaga dokter yang hanya kurang lebih sekitar 200 orang saja secara keseluruhan. Baik itu dokter negeri maupun swasta.

“Kalau untuk pemerintah jumlah dokternya terbatas. Tapi kalau hitungannya baik  itu dokter swasta atau negeri, maka harapan kita 1 dokter bisa menangani 5 ribu orang. Kalau jumlah penduduk Lotim 1,2 juta, tinggal dibagi 5 ribu. Itu jumlah dokter yang dibutuhkan,” terang Asrul.

Hanya saja, meski jumlah tenaga medis yang ada di Lotim saat ini  kurang lebih sekitar 200 orang. Namun tidak semuanya tersebar di masyarakat. Melainkan sebagian  bertugas di wilayah kota seperti rumah sakit dan lainnya. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid