Ditemukan 153 Penderita HIV/AIDS Baru

H Soeharmanto

MATARAM – Hari Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang jatuh setiap tanggal 1 Desember selalu menjadi momentum digalakkannya perang terhadap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Jumlah penderita HIV/AIDS di NTB justru semakin bertambah setiap tahun.

Pada tahun 2015 lalu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTB menemukan  1.083 orang teridentifikasi HIV/AIDS. Jumlah tersebut bertambah menjadi 1.235 orang pada tahun 2016 ini. “Tahun ini kita temukan lagi 153 penderita, setiap tahun memang bertambah. Kita perkirakan sih mungkin ada sampai 3 ribu penderita, tapi masih belum terdeteksi,” ungkap Kepala KPA Provinsi NTB, H Soeharmanto kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (30/11).

Penyebab utama seseorang mengidap HIV/AIDS masih didominasi karena gonta-ganti pasangan atau pergaulan bebas. Jika tahun 2015 lalu faktor  gonta-ganti pasangan sebanyak 728 orang, kini bertambah menjadi 833 orang.

Gonta-ganti pasangan ini termasuk karena berhubungan seks dengan Pekerja Seks Komersil (PSK) tanpa pengaman. Tentunya PSK yang memang sudah terkena penyakit mematikan yang sampai saat ini belum ada obatnya tersebut.

Berhubungan seks dengan PSK haruslah berhati-hati, mengingat saat ini saja sudah teridentifikasi 75 PSK di NTB positif terkena HIV/AIDS. “Itu yang kita tahu, bisa jadi lebih banyak lagi tapi kan tidak kita tahu kalau tidak di tes dulu,” kata Soeharmanto.

Terlebih lagi lanjutnya, para PSK yang biasanya menjajakan diri di lokalisasi Kalijodo dan Dolly telah datang ke NTB mencari peruntungan baru. Setelah Kalijodo dan Dolly ditutup, para PSK terpaksa berkelana ke tempat-tempat yang dinilai strategis seperti NTB. "Masalahnya banyak dari mereka sudah terkena HIV/AIDS, PSK eks Dolly disini kan ratusan," ungkapnya.

Ditanya terkait keberadaan PSK impor dari luar negeri, sampai saat ini KPA belum menemukannya. Namun hal ini patut diwaspadai, mengingat di beberapa daerah tujuan wisata, telah banyak PSK impor seperti dari Cina yang banyak dicari pelanggan.

Selain karena gonta-ganti pasangan, penderita HIV/AIDS disebabkan juga oleh homoseksual atau penyuka sesama jenis. Masyarakat NTB yang homo seksual cukup banyak tersebar di berbagai Kabupaten/Kota. Jika tahun lalu hanya 102 orang, bertambah menjadi 130 orang pada tahun ini.

BACA JUGA :  WPS Diminta Rutin Cek HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDS ini dari berbagai kalangan. Untuk perempuan yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) terus meningkat dan saat ini sudah mencapai 224 orang. Seorang IRT biasanya mendapatkan penyakit mematikan tersebut dari suaminya yang sering jajan sembarangan di luar rumah.

Kalangan pelajar dan mahasiswa juga tidak luput dari penyakit mematikan tersebut. Jumlahnya saat ini yang sudah diketahui mencapai 41 orang, jumlah tersebut bisa saja bertambah karena sebagian besar tidak pernah mengikuti tes.

Menariknya, jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau honorer yang bekerja sebagai abdi negara juga banyak yang terkena HIV/AIDS. Namun kesadaran kalangan PNS untuk tes sangat rendah, meski begitu saat ini saja sudah tercatat 53 orang terkena HIV/AIDS. “Untuk PNS itu jarang yang tes, padahal penting untuk mengetahui statusnya,” katanya.

Penderita HIV/AIDS tertinggi berada di Kota Mataram sebanyak 463 orang. Jumlah penderita yang ditemukan di Mataram terus bertambah. Selanjutnya di Lombok Timur 196 orang, Lombok Barat 175 orang, Lombok Tengah 159 orang, Sumbawa Barat 49 orang, Sumbawa 50 orang, Lombok Utara 28 orang, Bima 49 orang, Kota Bima 40 orang, Dompu 14 orang dan orang luar daerah yang ada di NTB terdeteksi 12 orang. “Banyak peningkatan di Mataram dan Lobar, sebut Soeharmanto.

Terkait dengan cukup banyaknya PNS yang terkena HIV/AIDS, Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan Pendidikan dan Pelatihan (BKD-Diklat) Provinsi NTB, H Abdul Hakim belum bisa memberikan pandangan.

Menurut Hakim, data seluruh penderita HIV/AIDS sifatnya sangat rahasia. Meskipun ada penderitanya yang berstatus PNS, namun dirahasiakan juga kepada BKD. “Memang tidak boleh dipublikasikan, jadi saya tidak bisa bicara banyak walau itu PNS. Kan mereka warga Indonesia yang kebetulan bekerja sebagai PNS,” terangnya. (zwr)