Ditemukan 1074 Kasus DBD, 1 Orang Meninggal

ILUSTRASI DBD
ILUSTRASI DBD

MATARAM – Bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) masih mengancam masyarakat NTB. Hal itu terbukti dengan adanya salah satu warga Kota Mataram yang telah meninggal dunia karena terserang penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi mengungkapkan, sampai saat ini telah ditemukan 1074 kasus DBD. Sebarannya di seluruh kabupaten/kota yang ada di provinsi NTB. “Bahkan ada kematian satu orang di Mataram,” terangnya saat ditemui di kantor gubernur NTB, Kamis kemarin (20/4).

Salah satu penyebab aksus DBD terus bertambah karena kesadaran masyarakat untuk meminimalisir berkembangnya DBD masih rendah. Kondisi tersebut membuat masyarakat rentan terkena DBD. Apalagi hujan yang masih sering turun mengakibatkan banyaknya genangan-genangan air.

Peningkatan angka penderita DBD cukup signifikan di NTB. Pada akhir Januari 2017, jumlah penderitanya menyentuh angka 264 kasus. Kemudian pada awal Maret mencapai 525 kasus, sedangkan saat ini telah menyentuh angka 1074 kasus yang ditemukan oleh Dinas Kesehatan (Dikes). “Kalau trend-nya sih menurun, tapi angkanya masih tinggi karena memang sisa-sisa tahun 2016 lalu,” kata Eka.

Berdasarkan data yang dimiliki Eka, jumlah penderita DBD paling banyak berada di Kabupaten Lombok Timur sebanyak 336 kasus. Tingginya angka DBD di Lombok Timur disebabkan jumlah penduduk banyak dan kesadaran masyarakat masih rendah.

Berikutnya yang kedua di Kota Mataram sebanyak 200 lebih kasus, bahkan di Kota Mataram telah ada korban meninggal dunia. “Pasien yang meninggal itu sebenarnya sudah dibawa ke rumah sakit, tapi karena parah akhirnya tidak bisa tertolong lagi,” ungkapnya.

Kabupaten Dompu sendiri saat ini telah ditemukan 96 kasus. Padahal jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tidak banyak kasus yang ditemukan di Dompu. “Kita minta Dompu lebih waspada, karena posisinya ketiga tertinggi se-NTB,” sebut Eka.

Meskipun begitu, secara angka bisa dikatakan saat ini jumlah kasus mulai menurun. Apabila tahun lalu puncak DBD terjadi bulan Maret dan April, saat ini tidak lagi. Puncak DBD telah terjadi pada awal tahun dan kini trend-nya terus menurun.

Kepada korban dan pihak kelaurga, Eka mengingatkan agar berhati-hati jika mengalami DBD untuk kedua kalinya. Mengingat, gigitan kedua bisa membuat korban mengalami DBD yang cukup parah dan bisa mengakibatkan meninggal dunia. “Itu yang harus diantisipasi,” imbuhnya.

Pada tahun ini, langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi NTB mengumpulkan semua pengelola DBD se-NTB. Dengan begitu, akan mudah menyatukan persepsi dan menemukan solusi bersama. “Dua hari ini kami kumpulkan, karena kedepan kita harus buat 1 rumah 1 jumantik,” ujarnya.

Dijelaskan Eka, setiap rumah haruslah memiliki Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Salah satu dari penghuni rumah, haruslah menjadi jumantik. “Logikanya begini, tentu pemilik rumahlah yang harus sadar bahaya jentik dan membersihkannya langsung ketika ada ditemukan,” katanya.

Selama ini, jumantik selalu berkaitan dengan kader atau petugas kesehatan saja. padahal, langkah paling efektif yaitu menumbuhkan kesadaran pemilik rumah itu sendiri. Eka yakin apabila semua kabupaten/kota menerapkannya, maka korban DBD bisa diminimalisir.

Sejauh ini, yang telah menerapkan 1 rumah 1 jumantik hanya di kota Mataram saja. Ia berharap semua pemkab bisa menerapkan langkah tersebut. “Di Mataram sudah semua puskesmas dilatih dan sudah diterapkan,” ucapnya.

Wakil gubernur NTB, H Muhammad Amin menaruh perhatian serius terhadap korban DBD. Orang nomor dua di NTB itu tidak ingin banyak warga NTB menjadi korban seperti tahun 2016 lalu. Upaya maksimal dari Satuan Kerja Perangkat daerah (SKPD) terkait, sangat menentukan dalam meminimalisir korban DBD.

Dikatakan Amin, tahun 2016 lalu jumlah kasus yang ditemukan mencapai 3 ribu lebih. Jumlah korban meninggal dunia saja mencapai 27 orang. “Perkuat sosialisasi, kita minta Dinas Kesehatan benar-benar mengawal masalah ini,” himbaunya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid