Disumbangi Pemkab, Pengelola Butuh Bangunan Permanen

BELAJAR - Kegiatan belajar mengajar di PAUD khusus anak pedagang Pasar Gerung kemarin.

Di tengah hiruk-pikuk pasar Gerung ada PAUD yang memang didirikan khusus untuk menampung anak-anak pedagang pasar. Jadi selama berjualan, anak-anak para pedagang tetap bisa mengenyam pendidikan.

 

 


ZULKIFLI- GIRI MENANG


 

PAUD ini bernama Tempat Penitipan Anak (TPA) Terpadu Berbasis Pasar “Handayani” yang mengkhususkan diri mendidik anak para pedagang pasar Gerung.

PAUD ini dibangun oleh seorang Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) bernama Baiq Erna Andayani pada 2009. PAUD ini berdiri atas dasar keprihatinan melihat banyaknya anak yang ikut orang tuanya berjualan. Akibat ikut berjualan, pendidikan anak menjadi terbengkalai. PAUD ini memanfaatkan bangunan musala di sebelah utara pasar dimana lokasinya berdekatan dengan komplek pemakaman umum.  “ Alhamdulillah penghulu yang menjaga musala dengan senang memberikan saya izin untuk membuka PAUD. Banyak orang tua yang mau menitipkan anaknya,” terang Andayani yang juga istri Camat Lembar ini, Kamis (13/10).

Di awal-awal, pendidik setempat harus memaklumi kondisi para anak. Ada yang kadang datang ke sekolah dalam kondisi belum mandi bahkan masih memakai baju tidur. Maklum, mereka dibawa orang tua mereka ke pasar saat subuh. “ Saya tanya kenapa tidak dimandikan. Alasannya saat berangkat, anaknya masih tidur dan langsung dibawa ke pasar,” Handayani menceritakan.

Namun perlahan-lahan orang tua anak malu sendiri, dan saat ini anak-anak PAUD semuanya sudah berpakaian rapi. “Saat ini total anak-anak yang belajar di PAUD sekitar 30 anak, karena kemarin ada yang lulus sekitar 20 anak,” terangnya.

Diterangkannya, baju seragam sudah ada tersendiri. Baju bisa dicicil dalam setahun. Kemudian iuran per anak Rp 25 ribu per bulan. Iuran tersebut dipergunakan untuk honor empat guru yang mengabdi serta operasional PAUD. “Ada empat guru, dua S1, satunya lagi sedang kuliah dan ada satu yang lulusan SMA,” jelasnya.

Anak-anak yang belajar di PAUD ini lanjut Andayani bisa dikatakan tergolong mampu, namun tetap ditarik iuran Rp 25 ribu per bulan untuk meringankan orang tua. Bayangkan saja kata Andayani, dalam setahun itu ada anak yang mampu menabung di PAUD sampai Rp 10 juta.

Kendati pun saat ini diakui aktivitas PAUD berjalan normal, tidak bisa dipungkiri proses bermain dan belajar-mengajar masih kurang nyaman, karena di sekitar musala banyak yang berjualan serta lalu lalang pembeli. Suara hiruk pikuk pasar masih terdengar jelas di dari musala.

Pihaknya sudah mendapatkan bantuan lahan seluar 20 are di depan pasar untuk pembangunan PAUD dari Pemkab Lobar. Tinggal proses pembangunan yang belum. “ Tetapi kami tidak memiliki anggaran untuk pembangunan PAUD itu, kami berharap Pemkab Lobar menganggarkan pembangunannya. Sehingga anak-anak juga bisa lebih nyaman,” terangnya.

Selain memang masih banyak.(*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid