Disperindag Kembangkan Produksi Gula Semut

MATARAM—Mengembangkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda) Lombok Utara, kini sedang mengembangkan produksi gula aren menjadi gula semut.

Menurut Kepala Bidang Industri Kecil, Sri Endang Megawati, pengembangan ini dilakukan terkait banyaknya permintaan hotel-hotel di NTB, yang tamunya lebih senang mengkonsumsi gula semut dibandingkan gula biasa. “Hanya saja, Disperindag sendiri belum bisa memenuhi permintaan itu, karena keterbatasan produksi, maupun kualitas,” jelasnya kemarin (24/5).

Karena itu, mengapa Disperindag melaksanakan pelatihan, dengan sasaran para perajin gula merah di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Tengah, yang merupakan tempat tumbuhnya bahan-bahan gula semut.

“Selain dapat membantu ekonomi masyarakat, kandungan gula semut ini juga aman dikonsumsi oleh semua kalangan, baik masyarakat yang terkena kencing manis atau sejenisnya,” tutur Endang.

Tak hanya itu, harga gula semut juga jauh berbeda, jika dibandingkan dengan gula aren atau gula merah. “Kalau gula aren biasanya dijual dengan harga Rp 8.000 per satu bungkul. Bandingkan dengan harga gula semut, setengah kilogram saja harganya bisa mencapai Rp 60 ribu. Apalagi setelah dikemas dalam bentuk saset, yang per sasetnya dijual Rp 1000, maka produksi gula semut ini sangat menjanjikan secara ekonomi,” jelas Endang.

Dijelaskan Kabid, setelah gula semut ini bisa diproduksi. Maka akan ada upaya pelatihan lain yang dilakukan Disperindag untuk membuat kemasan dan label gula semut ini. Mengingat minimnya kemampuan SDM UKM (Usaha Kecil Menengah) dalam hal membuat kemasan dan label yang bagus.

“Kita akan terus memberikan bantuan pembinaan, dan pelatihan secara terus-menerus, agar SDM semakin meningkat, dan perekonomian masyarakat NTB juga semakin berkembang,” pungkas Endang. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid