Dispar NTB Launching Even Festival Pesona Bau Nyale 2017

BAU NYALE: Ribuan masyarakat Pulau Lombok dan para wisatawan turun ke laut di Pantai Seger pada puncak acara untuk menangkap Nyale, atau cacing laut yang dipercaya sebagai penjelmaan dari Puteri Mandalika.

PRAYA—Tradisi dan budaya tertua di Pulau Lombok, Festival Pesona Bau Nyale (menangkap cacing laut) yang akan berlangsung pada 16-17 Februari mendatang, telah di launching secara resmi oleh Pemerintah Provinsi NTB, dalam hal ini Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, HL Moh. Faozal, bersama dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), yang diwakili oleh Sekda Loteng, HM Nursiah, dan Kepala Dinas Pariwisata Loteng, L. Putria, Minggu (15/1), bertempat di Hotel Novotel Lombok.

Kick Off Even Bau Nyale itu digelar, agar masyarakat seluruh NTB, khususnya para wisatawan domestik maupun mancanegara mengetahui waktu dan tanggal kepastian acara yang selalu dihadiri oleh ratusan ribu masyarakat tersebut. “Launching Even Bau Nyale di Lombok kali ini, yang dihadiri oleh berbagai media, baik lokal maupun nasional, agar kegiatan ini terpublikasi dan terpromosi jauh hari,” kata Kepala Dispar NTB, HL Moh. Faozal.

Menurutnya, kegiatan tradisi dan budaya masyarakat Lombok ini penting dipublikasikan dan dipromosikan secara besar-besaran, karena selain merupakan even budaya tertua di Pulau Lombok, juga dari sisi peserta atau masyarakat yang terlibat juga sangat banyak, mencapai ratusan ribu orang. Bahkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI sendiri juga telah mengakui, sehingga setiap pelaksanaan even ini pasti selalu dihadiri oleh utusan dari Kemenpar.

[postingan number=3 tag=”nyale”]

Demikian dari tahun ke tahun kegiatan, even Bau Nyale yang dilaksanakan selalu bertambah besar, baik dari sisi jumlah item kegiatan, maupun masyarakat yang terlibat. Untuk tahun ini ada sekitar 12 item kegiatan utama yang akan dilaksanakan, baik pra acara, maupun paska kegiatan.

“Diantaranya kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu Parade Budaya, Pemilihan Puteri Mandalika, Peresean, Festival Cilokaq, Napak Tilas Bau Nyale, Belancaran, Betandak atau Bekayak, Photography Contest, Surfing Contest, Volley Beach, Kampung Kuliner, dan tentu saja acara puncak yang akan berlangsung di Pantai Seger, ribuan masyarakan turun ke laut mencari Nyale,” jelas Faozal.

Sebagai even kepariwisataan terbesar di Indonesia, apalagi kegiatan berlangsung di kawasan Mandalika Resort, yang merupakan 10 destinasi wisata utama di Indonesia, Festival Pesona Bau Nyale ini juga mendapatkan bantuan anggaran yang tidak sedikit. “Dari APBN saja, Kemenpar akan menggelontorkan Rp 500 juta, ditambah dengan APBD murni NTB sebanyak Rp 200 juta, dan tentu saja APBD Loteng juga akan menganggarkan,” terang Faozal.

“Tentu saja anggaran sebesar itu bukan untuk satu item kegiatan saja, melainkan terbagi dalam beberapa item kegiatan selama pelaksanaan Festival Bau Nyale, mulai dari pra acara hingga paska kegiatan. Termasuk untuk upaya promosi yang gencar, baik melalui media cetak, elektronik, hingga sosial media. Bahkan video promosi kita untuk Bau Nyale ini juga akan diputar di property milik Bandara Internasional Soekarno Hatta,” beber Faozal.

Sementara Sekda Loteng, H. Nursiah menyampaikan, meskipun awalnya even Bau Nyale ini identik dengan tradisi dan budaya masyarakat di Kabupaten Loteng, khususnya di kawasan pantai selatan Loteng. Namun karena gaung dan kebesaran even pariwisata ini mampu mengangkat citra kepariwisataan NTB, maka akhirnya kegiatan ini juga menjadi ikon dari Provinsi NTB, bahkan nasional karena kegiatan berlokasi di salah satu dari 10 destinasi wisata yang akan dikembangkan secara nasional.

KICK OFF BAU NYALE: Kepala Dispar NTB, HL Moh. Faozal, Sekda Loteng, H. Nursiah, Kepala Dispar Loteng, Lalu Putria, dan Kasubdit Pariwisata Dir Pam Obvit Polda NTB, AKBP Lalu Zakaria, ketika menggelar Kick Off atau Launching Bau Nyale di Hotel Novotel Lombok, Minggu (15/1).

 

“Dua tahun belakangan say melihat ada indikasi kalau kegiatan Festival Bau Nyale ini mulai hadir keterlibatan Pemprov NTB, bahkan Pemerintah Pusat. Tentu saja kami, Pemda Loteng sangat mendukung. Karena dengan terlibatnya Pemprov maupun Pemerintah RI, melalui Kemenpar RI, maka gaung Festival Bau Nyale ini kian bertambah besar, yang pada akhirnya akan memberikan dampak secara ekonomi bagi masyarakat,” urai Nursiah.

Diakui Sekda Loteng, kalau kegiatan hanya mengandalkan Pemkab Loteng, yang dari sisi penganggaran juga sangat minim, tentu kegiatan hanya akan berlangsung monoton saja. Namun berkat keterlibatan Pemprov NTB dan Pemerintah Pusat, even wisata terbesar NTB ini bisa berkembang kreatif sedemikian rupa, menyajikan kesenian tradisional hingga modern, lomba-lomba olahraga tradisional seperti peresean, belancaran, sampai surfing. Termasuk ekonomi kreatif mulai dari Festival Kuliner hingga pameran kerajinan-kerajinan tradisional yang dapat menjadi souvenir bagi para wisatawan yang datang menyaksikan Festival Bau Nyale.

“Kalau untuk ekonomi kreatif (Ekraf), yakinlah, daerah selatan Loteng ini tidak akan kekurangan. Sehingga tidak sampai mengimpor dari daerah lain untuk mengisi stan-stan Pameran Ekraf pada pelaksanaan Festival Bau Nyale 2017 mendatang,” jelasnya.

Apa yang beda dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya? “Tentu banyak sekali yang berbeda. Namun yang jelas, konten kegiatan tidak sampai merubah pakem dari kegiatan Bau Nyale itu sendiri. Seperti pelaksanaan Parade Budaya misalnya, kalau tahun-tahun sebelumnya hanya diikuti oleh peserta dari seputaran Kabupaten Loteng saja, maka tahun ini akan diikuti oleh kontingen kesenian daerah-daerah lain di NTB. Demikian acara hiburan bagi masyarakat, sembari menunggu waktu puncak turun ke pantai menangkap Nyale, pengunjung akan dihibur dengan band papan atas Indonesia, NOAH. Termasuk kegiatan seperti Photography Contest dan Surfing Contes, serta Volley Beach, merupakan item acara baru yang kian memberikan warna dari kegiatan ini, agar lebih NTB,” papar Nursiah.

[postingan number=3 tag=”wisata”]

Senada, Kepala Dispar Loteng, Lalu Putria menyampaikan, meskipun Loteng dikenal sebagai daerah yang sering mendatangkan artis-artis nasional dalam setiap penyelenggaraan kegiatannya, namun dia meyakinkan bahwa semua itu dilakukan tanpa sedikitpun membebani APBD Loteng. “Itulah kelebihan pemimpin kami, melalui relasi dan jaringannya, para artis nasional bahkan berebutan untuk mengisi acara-acara yang berlangsung di Loteng. Sehingga soal pembiayaan bukan menjadi persoalan,” urainya.

Sedangkan Kasubdit Pariwisata Polda NTB, AKBP Lalu Zakaria, mewakili Dir Pam Obvit Polda NTB menyatakan, bahwa untuk mem back up kegiatan Festival Bau Nyale ini, pihaknya akan menurunkan kemampuan sepenuhnya, demi keamanan dan kenyamanan para pengunjung yang hadir menyaksikan even tahunan Bau Nyale ini.

“Pengamanan kami lakukan secara terbuka dengan mengerahkan para personel kepolisian yang berseragam, maupun tertutup dengan melibatkan para aparat reserse atau intelejen yang membaur dengan masyarakat. Saat ini kami sedang memetakan kegiatan ini, sehingga mengetahui secara persis berapa personel yang dibutuhkan. Demikian soal lalu lintas, agar tidak terjadi kemacetan-kemacetan seperti pelaksanaan Bau Nyale tahun-tahun sebelumnya. Kami pihak kepolisian dengan dibantu masyarakat tentunya, juga bakal melakukan rekayasa-rekayasa lalu lintas agar tidak macet, dan semua pengunjung merasa aman dan nyaman,” pungkas Zakaria. (gt)