Dispar NTB Fokus Kembangkan 99 Desa Wisata

Desa Wisata Bon Jeruk
DESA WISATA : Wagub NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah saat meresmikan Desa Wisata Kebon Jeruk beberapa waktu lalu.

MATARAM – Maraknya kemunculan desa wisata menjadi potensi besar dalam pengembangan pariwisata NTB. Karakteristiknya mampu menjaga kearifan lokal, lingkungan, dan memberdayakan ekonomi warga.

Apalagi NTB tengah mengembangan 25 desa wisata yang ada. Namun, perkembangannya tidak sama rata. Untuk itu, Dinas Pariwisata NTB akan mendorong pengembangan desa wisata dengan penguatan SK dari Gubernur. Kendati, banyak desa yang bukan termasuk desa wisata justru mengklaim dirinya sebagai desa wisata.

“Sekarang kita atur skenario desa wisata. Nanti ada peraturan gubernur  (pergub),” kata Kepala Dinas Pariwisata NTB H Lalu Mohammad Faozal, Selasa (17/12).

Menurutnya, perlunya pergub tersebut karena menjadi rambu-rambu dan aturan main. Sehingga tidak semua desa bisa mengklaim dirinya sebagai desa wisata. Meskipun desa tersebut memiliki penunjang desa wisata. Artinya harus di akomodir, sesuai dengan pergub yang telah menetapkan 99 desa terpilih sebagai pengembangan desa wisata.

“Jadi begini, 99 desa itu adalah ruang intervensi yang sudah kita atur di dalam surat keputusan gubernur. Jangan semuanya ini masuk, kita punya kemampuan juga untuk anggarannya,” ujarnya.

Banyaknya desa yang mengklaim dirinya sebagai desa wisata terjadi di Kabupaten Lombok Timur. Hal ini menjadi ketakutan pemerintah daerah.  Padahal, pemerintah hanya memfokuskan 99 desa. Hal ini telah di tetapkan dalam peraturan gubernur.

Menurut Faozal,  untuk desa wisata yang dikembangkan sesuai dengan standarnya. Bahkan sudah ada diantara desanya menjadi tempat kunjungan bagi para wisatawan kapal pesiar.

Untuk diketahui, 25 desa dikhususkan pengembangannya. Diantaranya berada di pulau Lombok dan Sumbawa. Seperti Desa Senaru, Sembalun, Sembalun Bumbung, Aiq Beriq, Kembang Kuning, Sesaot, Mas-Mas,Tetebatu, Sepakek, Gili Indah, Kerujuk, Pusuk Lestari, Buwun Sejati, Tanjung Luar, Sengkol, Bonjeruk, dan Bilebante. Sedangakan  di Pulau Sumbawa ada Desa Mantar, Lapade,Lantung, Bungi, Pancasila, Kawinda To’i, Maria dan Lakey.

Dia menilai, kondisi perkembangan memang berbeda-beda setiap desa. Karena memang pergerakannya bereda-beda.  Diman sejak titik awalnya saja sudah berbeda, misalnya Kembang Kuning sudah ada aktfitas, sebelum di intervensi. Kemudian Bilebante dan Kebun Jeruk. Namun tak sedikit desa wisata yang ada sudah di intervensi dari awal.

“Tidak ada desa baru, semua konsep kita adalah pengembangan desa. Saya bilang kemajuannya tidak semua pada posisi yang sama. Pasti ada pergerakan-pergerakan yang memang menyebabkan tidak semuanya pada posisi sama,” jelasnya. (dev)