Disnakeswan Sebar 3.750 Ayam Dara Siap Bertelur

VERIFIKASI: Kabid Budidaya Peternakan, Disnakeswan NTB, Iskandar Zulkarnain dan tim, saat turun verifikasi kelompok ternak yang akan menerima bantuan ayam dara siap bertelur, di salah satu peternak ayam di Lombok Timur (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Nusa Tenggara Barat terus memperluas ternak ayam bagi masyarakat di seluruh wilayah NTB. Hal tersebut sebagai salah satu upaya Disnakeswan Provinsi NTB untuk memperkuat ketahanan pangan khususnya ketersediaan kebutuhan telur ayam.

Pada tahun 2017 ini, Disnakeswan Provinsi NTB  menggelontorkan bantuan ayam dara yang siap bertelur lebih dari 3.750 ekor ayam. Sebanyak 3.750 ekor lebih ayam dara siap bertelur itu akan diberikan kepada 25 kelompok ternak ayam, termasuk juga untuk kalangan pondok pesantren (ponpes).

“Ayam yang kami salurkan ini sudah siap bertelur,” kata Kepala Bidang Budidaya Peternakan, Disnakeswan Provinsi NTB, Iskandar Zulkarnain, Minggu (16/4).

Sedikitnya ada 25 kelompok yang akan mendapatkan bantuan ayam petelur, dimana masing-masing kelompok sebanyak 10 orang sampai 15 orang dengan mendapatkan bantuan ayam sebanyak 150 ekor.

Selain mendapatkan bantuan ayam yang sudah siap bertelur, kelompok ternak tersebut juga mendapatkan bantuan pakan ternak  dan obat-obatan.

Iskandar mengatakan, program bantuan ayam dara yang siap bertelur ini sebagai salah satu solusi Disnakeswan NTB dalam menyiapkan ketersediaan untuk kebutuhan telur dalam daerah.  Pasalnya, kebutuhan telur di Provinsi NTB sekitar 10 persen lebih dipasok dari luar daerah. Oleh karena itu, memasyarakatkan ternak unggas untuk ayam, sebagai salah satu upaa memenuhi kebutuhan dalam daerah baik itu telur maupun daging ayam.

Sementara itu untuk kriteria kelompok yang menerima bantuan program unggas petelur tersebut, Iskandar menambahkan harus memiliki kelompok ternak yang sudah berjalan minimal 1 tahun. Selain itu juga kelompok tersebut memiliki surat keterangan sebagai kelompk terdaftar dari Pemerintah Kabupaten/Kota dan juga Pemprov NTB.

Selanjutnya kelompok ternak tersebut dalam pengajuan proposal, harus membubuhkan tandatangan sebagai pihak yang mengetahui mulai dari kepala desa, penyuluh lapangan, kecamatan, dinas kabupaten/kota.

“Berbagai pihak yang bertandatangan di proposal itu untuk mengantisipasi kelompok fiktip. Sehingga yang menerima itu betul-betul kelompok yang valid dan betul-betul aktip beternak,” ujarnya.

Iskandar menambahkan, penyaluran ternak unggas juga diintegrasikan dengan program Tancapgas kerjasama dengan Dinas Ketahanan pangan (DKP) Provinsi NTB dan Balai Teknologi Penelitian Pertanian (BPTP) Balitbang Pertanian NTB dan Tim Penggerak PKK Provinsi NTB.

“Untuk program Tancapgas, ada sebanyak 5 kelompok masing-masing kelompok 150 ekor ayam dara siap bertelur,” sebut Iskandar.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi NTB, Hj. Budi Septiani mengatakan, program Tancapgas yang terintegrasi dengan penanaman cabai bagi ibu rumah tangga kategori kurang mampu atau prasejahtera.

“Selain menanam cabai, ibu rumah tangga kurang mampu juga diberikan ternak ayam siap bertelur. Sehingga kebutuhan telur masyarakat tidak lagi tergantung dari pasokan luar daerah,” ujarnya.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat kebutuhan telur di Provinsi NTB hampir 90 persen dipasok dari luar daerah. Bahkan kebutuhan pasokan telur dari luar daerah di NTB tersebut menjadi tertinggi di Indonesia yang sangat bergantung dari pasokan telur luar daerah.  Hanya saja, data BPS NTB tersebut dibantah oleh Disnakeswan Provinsi NTB. Karena pasokan telur asal luar untuk memenuhi kebutuhan NTB hanya sebanyak 7 persen dari total kebutuhan selama 1 tahun. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid