Disnaker Amankan 16 TKI Ilegal di LIA

Disnaker Amankan 16 TKI Ilegal di LIA
TKI ILEGAL: Para TKI ilegal saat diberikan pembinaan di Disnakertrans Lombok Tengah (Loteng) oleh BP3TKI, sesaat setelah mereka diamankan di Bandara LIA, Selasa kemarin (31/10).

PRAYA—Petugas gabungan dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Lombok Tengah (Loteng) bersama BP3TKI, kembali berhasil menggagalkan keberangkatan 16 TKI ilegal. Para TKI tersebut diamankan beberapa saat sebelum berangkat keluar negeri di Lombok Internasional Airport (LIA), Selasa kemarin (31/10).

Dari hasil interogasi di Kantor Disnakertrans Lombok Tengah (Loteng),  diketahui bahwa para TKI tersebut, 4 diantaranya akan berangkat ke Malaysia. Dari LIA, para TKI ini akan transit di Batam, Kepulauan Riau, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat (perahu cepat) ke Malaysia.

BACA JUGA :  Warga Tutup Paksa Alfamart Bagu

Selain itu ada juga yang mengaku akan ke Kalimantan Barat. Namun saat ditanya siapa yang memberangkatkan mereka? Para TKI tersebut tidak mau buka mulut. Di hadapan petugas, mereka hanya mengaku berangkat dengan keinginan sendiri menggunakan visa pelancong.

Ahmad Faizan, selaku Pengawas Ketenagakerjaan Pulau Lombok menjelaskan, bahwa pihaknya menggagalkan para tenaga kerja tersebut, karena adanya laporan dari Disnakertrans Lombok Tengah (Loteng), bahwa akan ada tenaga kerja yang berangkat ke Kalimantan menggunakan modus Antar Kerja Antar Daerah (AKAD).

Dalam informasi tersebut, pihaknya mengaku mendapat kabar bahwa yang akan berangkat sebanyak 50 orang. “Berdasarkan informasi tersebut kami bersama BP3TKI dan Disnakertrans langsung menuju bandara LIA. Setelah kami sampai di bandara, kami menemukan ada 16 Tenaga kerja yang akan berangkat, dimana empat diantaranya akan berangkat ke malaysia, dan 12 orang laiNnya akan berangkat ke Kalimantan dan Batam,” ungkapnya.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan, para tenaga kerja tersebut tidak memiliki dokumen yang lengkap. Disatu sisi para tenaga kerja itu juga tidak mengetahui bahwa di Kalimantan akan bekerja apa. Sementara empat orang yang akan berangkat ke Malaysia tersebut, tiga orang memiliki paspor. Hanya saja karena tidak jelas di Malaysia para TKI tersebut bekerja dimana, sehingga petugas juga melakukan penahanan.

“Tapi kami meyakini bahwa semua orang ini akan berangkat ke Malaysia, tapi alasannya ada yang mengatakan ke Kalimantan dan ada yang ke Batam. Yang jelas hanya empat orang yang mengaku langsung akan ke Malaysia. Dari empat orang tersebut, dua diantaranya adalah wanita, sehingga kita anggap para wanita ini adalah korban yang akan dipekerjakan di Malaysia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disnakertrans Lombok Tengah (Loteng), H. Masrun mengaku sangat kesal dengan kejadian tersebut. Ia menjelaskan, penangkapan tersebut berawal dari laporan masyarakat, serta koordinasi bersama aparat terkait lainnya. Setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan kroscek ke LIA.

Hasilnya ternyata benar, di LIA pihaknya menemukan 16 TKI akan berangkat keluar negeri. Setelah diperiksa, para TKI tersebut ternyata tidak dilengkapi dokumen keberangkatan yang sah. “Ini sudah berulang kali terjadi, ada yang mengatakan akan ke Kalimantan dan ada yang mengatakan ke Batam. Padahal ini jelas modus mereka yang akan pergi ke Malaysia. Sehingga kami lakukan penangkapan, karena ini sangat berbahaya. Terlebih jaminan keselamatan bagi para tenaga kerja kita yang ilegal memang tidak ada,” ujarnya.

Masrun menjelaskan, bahwa pengamanan yang dilakukan saat ini, tidak lain untuk melindungi para TKI dari hal-hal yang tidak diinginkan. Khususnya untuk melindungi hak-hak dan kewajiban para TKI. Jangan sampai setelah tiba di negara tujuan, para TKI justeru ditelantarkan. “Jika kalian terjadi kecelakaan dijalan, maka siapa yang akan bertanggung jawab. Jangan sampai kalian yang berlabuh, kami yang tenggelam. Karena kalau terjadi apa-apa, maka pasti kami yang akan dimaki,” geramnya.

Tidak jarang para TKI ilegal ketika mendapat masalah, maka yang menjadi sorotan adalah pemerintah yang dianggap tidak becus dalam mengurus para tenaga kerja. Untuk itu, pihaknya akan menindak tegas apapun dan siapapun yang akan menyelundupkan para tenaga kerja ilegal. ”Kemudahan sudah kami berikan dalam berangkat keluar negeri, maupun keluar daerah untuk bekerja. Sehingga kurang apalagi kami, sehingga bapak ibu terus pergi menggunakan jalur yang tidak resmi?” ujarnya.

Untuk membongkar kasus tersebut,  pihaknya akan segera melakukan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait lainnya. Khususnya mengetahui siapa tekong yang memberangkatan para TKI tersebut, karena berdasarkan interogasi para TKI tersebut lebih banyak memilih untuk bungkam terkait siapa yang memberangkatkan. ”Mereka banyak mengaku yang pergi ke Batam menjemput keluarga, ada juga yang mengatakan mencari keluarga di Malaysia. Semua itu hanyalah modus mereka,” ujarnya.

Diketahui, bahwa 16 orang tersebut semuanya berasal dari Lombok Tengah, mereka akan berangkat menjadi tenaga kerja dari tiga kelompok, 4 orang menuju Malaysia, 5 orang akan menuju ke Kalimantan dan 7 orang akan berangkat ke Batam kepulauan Riau.

Empat orang yang akan ke Malaysia itu diantaranya adalah H. Sudirman, warga Desa Jago, Ibu Reni dan Ibu Rohani dari Kelurahan Renteng, serta Bakri dari Desa Gerintik. “Kedua wanita ini berdasarkan informasi akan bekerja di Malaysia. Ada yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan ada yang di Kilang,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pakaian Adat Warnai Hari Jadi Lombok Tengah

Sementara salah seorang TKI, yakni Reni menjelaskan bahwa dirinya berangkat ke Malaysia untuk menemui saudaranya disana. Dimana dirinya sendiri berangkat disuruh oleh saudaranya dengan menghubungi H. Sudirman. “Saya hanya berangkat saja, karena tiket semua dibelikan oleh saudara saya lewat Haji Sudirman, dan saya akan berangkat lewat Batam,” ujarnya.

Ia mengaku bahwa tidak pernah mengurus berbagai administrasi yang ada, karena dirinya sendiri menggunakan paspor lama. Dimana sebelumnya dia pernah ke Malaysia dari tahun 2014, dan pulang pada tahun 2016 lalu. ”Kalau paspor saya gunakan paspor lama, tapi saya lewat Batam, karena ada yang akan menjemput saya di Batam,” ujarnya. (cr-met)