Disbun Bersikukuh Perusahaan Sudah Buka Pembelian Tembakau

MATARAM—Klaim Kepala Dinas Pekebunan (Disbun) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Budi Subagio yang menyebut perusahaan tembakau di Pulau Lombok sudah siap membeli tembakau petani, ternyata hanya isapan jempol belaka. Terbukti, sejumlah petani tembakau virginia binaan sejumlah perusahaan mitra tak kunjung membeli tembakau petani.

Kepala Disbun Provinsi NTB, H Budi Subagio tetap bersikukuh kalau pihak perusahaan mitra petani tembakau sudah mulai membuka pembelian panen tembakau petani.

“Tidak benar perusahaan tidak membeli tembakau petani, makanya silahkan turun langsung ke lapangan,” sanggah Budi Subagio ketika dikonfirmasi terkait belum adanya pembelian tembakau virginia oleh sebagian besar perusahan mitra, Rabu kemarin (24/8).

Bahkan Budi mengklaim pihaknya terus memantau kondisi di lapangan khususnya petani tembakau dan perusahaan. Bahkan pihaknya tetap menurunkan tim di lapangan untuk mengkawal pembelian tembakau petani oleh perusahaan mitra.

“Tolong kasih saya data, mana perusahaan yang belum membeli tembakau petani. Karena saya terus memantau bersama teman-teman di lapangan,” kilahnya.

Menurut Budi, berdasarkan hasil pertemuan bersama pihak perusahaan dan petani mitra yang dihadiri juga Dinas Perkebunan NTB beberapa waktu lalu, telah disepakati masalah harga beli tembakau antara Rp32 ribu – Rp34 ribu sesuai dengan kualitas tembakau yang dihasilkan petani.

Selain itu, minggu ketiga bulan Agustus seluruh perusahaan mitra yang ada di Pulau Lombok sudah mulai memuka pembelian tembakau virginia petani. “Jadi tidak benar perusahaan belum membuka pembelian tembakau petani,” ujarnya.

Sebelumnya seperti diberitakan Radar Lombok,edisi Rabu (23/8), bahwa sejumlah petani binaan tembakau virginia kembali meluapkan ungkapan kekesalannya lantaran pihak perusahaan sampai saat ini tak kunjung membeli tembakaunya.

Kondisi tersebut memaksa petani harus menimbun tembakaunya yang sebagian besar sudah melalui proses pengomprongan. “Belum ada yang mau beli tembakau, sehingga terpaksa harus kita timbun,” kesal Tahir, salah seorang petani Lepak, Sakra Timur, Selasa kemarin (23/8).

Dikatakan, pihak perusahaan sengaja tidak mau membeli tembakau petani binaannya,  lantaran kualitas tembakau yang telah dipanen tidak begitu bagus. Harusnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena itu jelas akan merugikan petani. Jika tembakau tak kunjung dibeli, tentu petani akan kebingungan, mau kemana tembakaunya akan dijual.

“Dalam aturan harusnya dibeli. Kalau tidak dibeli, mau kemana kita jual tembakau yang sudah kita oven . Sementara biaya mulai dari pembibitan sampai panen besar sekali,” sebutnya.

Dia juga menyesalkan pernyataan dinas terkait yang mengaku jika perusahaan telah turun membeli tembakau petani. Semua itu sama sekali tidak benar adanya. Buktinya, tembakau para petani yang ada di desanya  sebagian besar masih menumpuk sampai saat ini.

Menyikapi persoalan ini, dia pun berencana untuk mendatangi dinas terkait, dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) setempat. Nantinya dia akan menbawa para petani tembakau untuk mempertanyakan upaya pemerintah membantu mereka. “Kita akan datangi Dishutbun bersama petani yang lain,” tandasnya.

Keluhan sama juga dilontarkan H. Syarif, dia meminta perusahaan agar segera membeli semua jenis tembakau para petani, tanpoa memilih kualitas tertentu. Jika ini dilakukan, tentunya yang rugi petani itu sendiri. “Pembelian tembakau jangan di rijek atau ditolak,” pintanya.

Selama ini lanjutnya, perusahaan membeli tembakau dengan kualitas tertentu saja. Hal itu tidak hanya dialami oleh petani swadaya, melainkan petani binaan juga mengalami nasib serupa. “Kalau tembakau yang kualitasnya dibawah standar selalu ditolak. Tentu ini akan menjadi masalah dilapangan,” keluhnya. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid