Disbudpar Ingin Pendakian Rinjani Dibuka

Gunung Rinjani
Gunung Rinjani

TANJUNG – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Utara (KLU) ingin agar pendakian Gunung Rinjani segera dibuka. Koordinasi dengan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pun terus dilakukan, karena bagaimanapun, yang memiliki kewenangan membuka atau menutup adalah Balai TNGR, Kementerian Kehutanan RI. “Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani  untuk dibuka kembali,” kata Kepala Disbudpar H. Muhammad, Rabu (10/10).

Diungkapkan Muhammad, banyak masyarakat KLU yang bergantung dari pendakian, utamanya yang membuka usaha di bidang itu. Tutupnya pendakian selama dua bulan lebih akibat bencana gempa, tentu sangat berpengaruh terhadap perekonomian mereka.

Guna meyakinkan pihak-pihak terkait agar pendakian kembali dibuka, beberapa waktu lalu telah diberangkatkan tim dari unsur kepolisian dan TNI guna mensurvei jalur pendakian, apakah aman atau tidak dari longsoran. Dari hasli survei, memang masih berbahaya pada titik-titik tertentu. “Kalau tidak memungkinkan sampai posko 7 atau campaign cemara. Yang penting bisa menikmati sunrise dan sunset saja,” harapnya.

Ditegaskan usulan dibukanya pendakian yang dimaksudkan Disbudpar, bukan berarti wisawatan dapat bebas menaiki gunung. Melainkan dibatasi. Nantinya wisatawan tidak boleh berada di sekitar Danau Segara Anak maupun berada pada titik yang dianggap berbahaya dari longsoran. “Memang ada jalur yang masih longsor, tapi kami usahakan bagaimana ekonomi juga jalan di sekitar situ,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai TNGR, Sudiyono menyambut baik niatan Pemerintah KLU. Dirinya bahkan menyebut komunikasi perihal itu sudah dilakukan belum lama ini, hanya saja belum ada titik temu antara kedua belah pihak. “Pemda KLU pernah koordinasi dengan kita tapi belum menunjuk yang spesifik di daerah mana yang akan diusulkan (boleh disinggahi wisatawan),” terangnya.

BACA JUGA: Pendakian ke Gunung Rinjani Diusulkan Ada Awiq-Awiq

Menurutnya, TNGR selain mempertimbangkan faktor keamanan para pendaki, juga menganalisa apakah ada jalur alternatif yang kiranya dapat dilalui oleh para pendaki. “Kita lihat potensi dan keamanannya. Kami juga punya rencana buat kajian wisata alternatif. Tapi ini kan kalau ada itu obyek baru, belum tentu ada akses jalan maupun sarpras (sarana prasarana) pendukung. Apa pemda juga ingin support ini,” tandasnya. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut