Dirut PT GNE Terima Keuntungan Rp 1,25 Miliar

SIDANG: Dirut PT BAL William John Matheson (depan) dan Direktur PT GNE Samsul Hadi (belakang), mengikuti sidang kasus eksplorasi air tanah tanpa izin di Gili Trawangan dan Meno di PN Mataram. (ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Direktur PT Gerbang NTB Emas (GNE), Samsul Hadi terungkap mengantongi keuntungan sebesar Rp 1,25 miliar, dari aktivitas eksplorasi air tanah tanpa mengantongi izin di kawasan wisata Gili Trawangan dan Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Hal itu terungkap dari dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU), pada Kamis (20/6) petang. Dimana terdakwa Samsul Hadi mendapatkan keuntungan tersebut, dari Direktur PT Berkah Air Laut (BAL) William John Matheson, yang diberikan secara bertahap dengan nominal yang berbeda.

Pemberian uang itu mulai dari bulan November 2019, sampai Oktober 2022, berdasarkan bukti transfer perbankan milik terdakwa William John Matheson kepada Samsul Hadi. “Dengan demikian, terdakwa Samsul Hadi selaku Direktur PT GNE mendapatkan penghasilan dari kerjasama dengan PT BAL dalam kegiatan pengelolaan air bersih di Gili Trawangan dan Gili Meno, dengan total Rp 1,25 miliar,” kata Danny Curia Novitawan, mewakili Tim JPU yang membacakan dakwaan di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Mataram.

Aktivitas eksplorasi air tanah di dua Gili (pulau kecil) yang dilakukan PT GNE bekerja sama dengan PT BAL tersebut, tanpa mengantongi surat izin pengeboran (SIP) dan surat izin pemanfaatan air tanah (SIPA), yang mengakibatkan adanya kerusakan sumber air, prasarana dan atau sumber air.

Baca Juga :  Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual, Izin Ponpes Terancam Dicabut

“Hal ini sesuai dengan hasil laporan pengecekan kondisi air tanah di sumur bor milik PT BAL di Gili Trawangan, oleh Iskandar, Dosen Fakultas Teknik Perminyakan ITB (Institut Teknologi Bandung) yang ahli di geologi kimia air ITB,” ucapnya.

Dalam dakwaan kepada kedua terdakwa, jaksa turut mencantumkan hasil kesimpulan ahli geologi tersebut, yang menunjukkan air tanah di sumber produksi air sumur bor terdekat telah terkontaminasi air laut.

“Hasil ini telah memperkuat hasil studi sebelumnya, yang menyebutkan pengambilan air tanah tidak mengakibatkan penurunan permukaan air, tetapi masuknya air laut ke akuifer dan menggantikan air tawar di akuifer,” sebutnya.

Kerusakan lingkungan telah terjadi, dimana air tanah di wilayah kajian sumur PT BAL menjadi lebih asin. Kerusakan lingkungan air tanah yang diakibatkan masuknya air asin, yaitu masuknya air laut ke sumur air tanah. “Kerusakan ini mengakibatkan air tanah di sumur produksi dan sekitarnya menjadi lebih asin dan tidak dapat dikendalikan secara alami karena resapan air yang terbatas,” ucap dia.

Areal resapan juga menjadi sempit. Efek jangka panjang aktivitas pengeboran tersebut, dapat mengakibatkan degradasi kualitas tanah dan air tanah yang berada di sekitar kawasan pengeboran.

Baca Juga :  Vonis Lepas Bos PT Sinta, Akademisi : Memalukan

Jaksa dalam dakwaan juga menyampaikan bahwa PT BAL sebagai pelaksana teknis dari penyediaan air minum untuk masyarakat di Gili Meno dan Trawangan membangun dua lokasi sumur bor. “Satu (sumur bor) berada di Gili Meno, dan satu lagi di Gili Trawangan,” ungkapnya.

Atas perbuatannya itu, kedua terdakwa disebut melanggar Pasal 70 huruf D juncto Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2023 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja dan/atau Pasal 69 huruf A dan B serta Pasal 69 huruf A dan B UU Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air jo. Pasal 56 ke-2 KUHP.

Dalam persidangan, kedua terdakwa melalui masing-masing penasihat hukumnya mengajukan permohonan pengalihan status tahanan, dari tahanan di Rutan (rumah tahanan) menjadi tahanan kota. Namun permohonan itu belum mendapatkan jawaban pasti dari hakim yang diketuai Lalu Moh Sandi Iramaya. “Akan kami pertimbangkan. Permohonan ini belum tentu kami terima, dan bisa jadi kami terima. Kami akan pertimbangkan dulu,” kata Sandi dalam persidangan. (sid)

Komentar Anda