Dinas Perdagangan Siapkan Pasar Murah untuk Stabillkan Harga 

OPERASI PASAR
KEBUTUHAN POKOK : Bahan Pokok jelang puasa Ramadhan dipastikan tidak ada lonjakan harga, salah satunya telur.

MATARAM – Jelang puasa Ramadhan April mendatang biasanya terjadi kenaikan harga pada beberapa bahan pokok (Bapok), diantaranya, telur, ayam, daging, cabai, bawang dan bumbu dapur lainnya. Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang terlalu tinggi, maka Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB akan menggelar operasi pasar Bapok.

“Insyaallah kita akan koordinasikan dulu, mungkin bersamaan waktunya dengan pasar murah. Kita melibatkan juga pihak terkait, seperti para distributor dan pihak lainnya,” kata Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB H Fathurrahman, Senin (29/3).

Sejauh ini untuk harga berdasarkan pantauan di sejumlah pasar traisional dari masing-masing kabupaten/kota tidak ada kenaikan. Meskipun cabai dan kedelai masih mengalami kenaikan, karena kondisinya saat ini, di mana cabai hasil panennya banyak yang rusak dan kedelai persoalan impor.

“Cabai dan kedelai saja yang masih persoalan harganya masih tinggi sampai sekarang. Kalau bahan pokok lainnya tidak ada masalah, masih normal” katanya.

Faturahman juga berjanji akan mengupakan semaksimal mungkin untuk tetap terjaga harga dan ketersediaan bahan pokok, termasuk dengan melakukan operasi pasar di sejumlah titik. Jika nantinya ada informasi dari kabupaten/kota harga bapok mengalami kenaikan cukup tinggi, selain cabai, maka pihaknya akan melakukan intervensi melalui gelaran pasar murah.

Karena pemerintah menjaga ketersediaan stok bahan pokok dan, biasanya harga yang naik lebih kepada daging ayam, telur. Tetapi mengingat stok dari peternakan masih cukup, karena peternak telur tidak ada gangguan produksi. Sementara itu, harga cabai sekarang ini sudah mulai berangsur-angsur menurun. Sebelumnya sempat tembus Rp 150 ribu per kilogram. Namun kini sudah kembali turun menjadi Rp 120 ribu per kilogram. Bahkan di Bima saat ini tengah panen, sehingga harga cabai mulai turun.

“Kita koordinasi di Bima, karena ada panen dan harganya bisa dibawah Rp 100 ribu per kilogram dan nanti di pasar murah mudahan bisa kita jual dibawah Rp 100 ribu, karena sudah mendapat pasokan,” terangnya.

Untuk kedelai sendiri harganya masih impor dengan harga Rp 6.000 per kilogram dan kedelai lokal Rp 9000. Kendati demikian, para pengusaha tahu justru tidak banyak menggunakan kedelai impor, karena dinilai hasil tahunya kurang bagus.

“Industri tahu dan tempe kita banyak meminta yang impor, karena dari sisi hasil lebih bagus dan harganya juga lebih murah,” katanya. (dev)

BACA JUGA :  Disperindag Lotim Gelar Pasar Murah Jelang Lebaran