Diminati Pemkab Lobar, Terinspirasi dari Akuarium

KREATIF: Eko (kanan) bersama camat Sekotong Lalu Ahmad Satriadi mengecek kondisi tabung pembakar sampah yang masih dalam tahapan proses penyelesaian belum lama ini (Zulfahmi/Radar Lombok)

Gelar sarjana pendidikan tidak membuatnya terbatas menekuni kiprah di luar dunia tersebut. Muhammad Aeko Zulhimam bahkan menyumbangkan ilmu sebagai pencipta tabung pembakar sampah GT13AW. Seperti apa?

 

 


ZULFAHMI-MATARAM


 

Sampah masih menjadi masalah utama Kota Mataram hingga saat ini. Ada banyak program yang dijalankan oleh pemerintah daerah untuk mengurai persoalan sampah, namun sampah masih saja menghantui.

Eko sapaan akrabnya- ingin membantu pemerintah. Alumni IAIN Mataram ini menyimpulkan bahwa program-program yang ada belum maksimal digerakkan. Buktinya, ketika sampah diolah menjadi kompos, produk kompos malah tidak ada peminatnya.” Petani lebih suka memakai pupuk kimia, jelas ini menjadi masalah,” kata Eko saat ditemui di kediamannya di Lingkungan Getap belum lama ini.

Sementara ketika sampah diolah menjadi barang kerajinan, para perajin terkendala pemasaran, peminatnya juga kurang. Untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang, jelas solusinya hanya dibakar. Namun kalau dibakar, muncul lagi masalah baru yakni problem asap yang mengganggu kesehatan dan mencemari udara.” Inti dari pembakaran sampah ada pada kualitas asap yang dihasilkan,” terangnya.

Nah, tabung pembakar sampah  GT13AW yang diciptakan Eko diklaim menjadi solusi. Temuan ini akan diujicobakan di wilayah Sekotong Lombok Barat. Tabung dilengkapi dengan tiga saringan utama yang nantinya akan menyaring asap hasil pembakaran. Asap yang dihasilkan sampai mirip dengan  asap oksigen yang mudah menyatu dengan udara murni.

Dalam proses pembuatan tabung pembakar sampah ini, Eko menyiapkan tiga sistem filterisasi untuk mengahasilkan asap yang aman dan sehat bagi manusia. Sistem filterisasi yang pertama bertugas mengikat zat-zat asap yang beracun. Selanjutnya filterisasi yang kedua bertugas mengurai asap-asap yang bisa lolos dari filterisasi yang pertama, dan saringan ketiga disiapkan untuk  menetralisir asap yang sudah diurai sehingga hasilnya asap yang keluar dari tabung seperti uap air yang cepat terurai bahkan  menjadi oksigen yang mudah menyatu dengan udara.” Tiga penyaringan ini yang akan membuat asap tidak berbahaya,” jelasnya.

Eko mengatakan gagasan ini berasal dari hobinya memelihara ikan di akuarium. Ia menyebut ini tidak nyambung. Ia melakukan pengkajian terhadap sistem aliran air yang ada di akuarium sehingga airnya  jernih. Air yang dimasukkan ke akuarium bisa disaring dengan memanfaatkan berbagai  komponen batu-bata, sarabut dan kapas. “ Kalau kita dalam bentuk asap butuh material yang butuh lebih panas,” terangnya.

Sistem penyaringan di akuarium ini kemudian dikembangkan dalam penelitian yang dilakukan selama kurang lebih 2 bulan. Penemuannya akan diujicoba di Kecamatan Sekotong Lombok Barat atas permintaan Camat Sekotong Lalu Ahmad Satriadi.

Eko kemudian mendesain tabung pembakar sampah dengan model rangka tungku  yang diambil dari konsep oven tembakau. Kelebihan tabung ini operasionalnya secara manual tidak membutuhkan litsrik atau mesin.

Karena dibuat manual, maka tabung bisa ditaruh dimana saja. Misalnya di beberapa lokasi di pantai tabung ini bisa ditempatkan, dengan begitu keindahan dan kebersihan pantai tetap terjaga. Kualitas udara juga  aman. Tabung pembakar sampah yang dibuat saat ini diameternya 153 sentimeter dengan tinggi 1,5 sentimeter. Satu kali pembakaran, jumlah sampah yang bisa masuk sekitar 200 kilogram dengan lama pembakaran sekitar 2 jam. Kalau dalam sehari tabung ini beroperasi selama 10 atau 20  jam, maka sampah yang bisa dibakar sekitar 2 ton.

Ujicoba akan dilakukan di Sekotong. Alasannya karena Pemerintah Kecamatan Sekotong yang merespon saat eko menawarkan produknya. Satu tabung biayanya Rp 20 juta. Temuannya ini diberi nama GT13AW. GT diambil dari singkatan Getap, kampungnya, 13 adalah nomor rumahnya di Lingkungan Getap, dan AW itu adalah singkatan dari (Aswaja) Ahlusunnah Wal Jama'ah karena nama bengkel Eko adalah Bengkel Aswaja.(*)