Dikes NTB Temukan 1.923 Kasus DBD

CEGAH DBD: Tampak salah satu warga Lombok Barat sedang membersihkan tempat penampungan air dirumahnya untuk mencegah penyakit DBD. (azwar zamhuri/radarlombok.co.id)

MATARAM—Tahun 2019 merupakan siklus 10 tahunan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang patut diwaspadai. Setelah hujan mulai turun di berbagai wilayah, DBD yang sempat terlupakan kembali menjadi ancaman nyata.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi mengungkapkan, pihaknya tetap memberikan perhatian terhadap ancaman DBD. Apalagi saat ini musim hujan sudah tiba di sebagian besar kabupaten/kota seperti Mataram. “Se-NTB tercatat saat ini ada 1.923 kasus DBD,” ungkap Eka kepada Radar Lombok, kemarin.

Untuk wilayah Kota Mataram, angka DBD cukup tinggi. Berdasarkan data Dikes Provinsi NTB, jumlah kasus DBD di ibu kota provinsi tersebut sudah mencapai angka 412 kasus pada bulan Desember ini. Kota Mataram selalu menjadi wilayah yang banyak ditemukan kasus DBD. Hal itu juga menjadi fokus perhatiannya. Mengingat, Kota Mataram yang padat penduduk dan hujan sering turun, membuka peluang berkembangnya virus dengue. Apalagi jika banyak genangan air.

Dikatakan Eka, DBD merupakan penyakit yang harus diwaspadai. Perkembangannya dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Ancamannya sangat berbahaya. DBD dapat menyebabkan kebocoran plasma yang mengakibatkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah tiba-tiba, hingga kematian.

Oleh karena itu, masyarakat harus meminimalisir penyebaran DBD. Caranya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Masyarakat bisa melakukan Jumat Bersih, untuk memberantas sarang dan jentik-jentik nyamuk.

Dijelaskan, PSN bisa dilakukan dengan 3M. Mulai dari menguras, yaitu membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air seperti bak mandi dan ember air serta tempat penampungan air minum. “M yang kedua itu Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air,” jelas Eka.

Kemudian M yang ketiga yaitu Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD. “Kalau di kota Mataram malah sudah ada program 1 rumah 1 jumantik,” ujarnya.

Kepada masyarakat juga dihimbau untuk langsung periksa ke dokter jika ada keluarganya yang terindikasi DBD. Gejala awal DBD antara lain demam tinggi mendadak berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakkan bola mata dan nyeri punggung. “Jadi masyarakat harus segera periksa kesehatannya jika mengalami demam,” katanya.

Selain itu, bagi yang terkena DBD terkadang disertai adanya tanda-tanda perdarahan. Apabila dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan bisa menimbulkan kematian. “Terutama bagi yang terkena gigitan untuk kedua kalinya, ini berbahaya,” ujar Nurhandini Eka Dewi. (zwr)