Dikes NTB Masih Menunggu Vaksin Covid-19

dr Nurhandini Eka Dewi (Faisal Haris/RadarLombok)

MATARAM—Pandemi Covid-19 hingga saat masih berlangsung bahkan jumlah kasus baru positif masih terus terjadi. Sementara vaksin yang dicanangkan pemerintah pusat ke daerah sampai saat ini belum jelas kapan distribusian.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi mengatakan, bahwa pemberian vaksin Covid-19 hingga saat ini belum bisa dipastikan kapan bisa dilakukan. Pihaknya masih menunggu dari pemerintah pusat. “Jadi kalau kita sekarang vaksinnya belum datang, intinya kita di daerah masih menunggu. Jadi kalau sudah datang ya kita gunakan sesuai roadmap yang sudah dibuat Kemenkes, tinggal kita ikuti,”kata kepada radarlombok.co.id, Jumat (27/11/2020)

Dikatakan dr Eka, Kemenkes sudah membuat roadmap untuk vaksin, mulai dari datangnya vaksin maupun sampai pelaksanaan. “Jadi ada urutan vaksin datang itu urusan Kemenkes sampai proses izin di pusat,”sambungnya.

Setelah proses izin baik dari BPOM dan MUI sudah selesai semua, baru akan dilakukan sosialisasi ke lapangan. Sosialisasi ini mulai dari proses perjalanan orang yang mau vaksin, kemudian terkait dengan bagaimana teknis para petugas untuk melaksanakan vaksin. Karena menurutnya, walapun selama ini petugas sudah penah melakukan vaksin, tetapi setiap vaksin memiliki ciri khas tersendiri.  “Nyuntiknya dimana, caranya bagaimana, menyimpannya bagaimana, bagaimana distribusinya supaya vaksin sampai di lapangan tidak rusak setelah itu baru dilakukan vaksinasi dengan cara step-stepnya,”katanya.

Karena sejauh ini, masalah proses perizinan masih dilakukan oleh pemerintah pusat, jika semuanya sudah selesai baru nanti ditentukan jenis vaksin yang akan digunakan. Jadi pelatihan itu dilaksanakan sesuai dengan vaksin yang akan digunakan. “Kita kan ada beberapa jenis vaksin yang sekarang masih diuji coba. Jadi pelatihan mesti harus menunggu kepastian dari pusat jenis vaksin yang mana akan digunakan. Itulah yang dilatih ya tergatung dari izin yang sudah kelir itu yang dipakai,”jelasnya.

Meski begitu, kata dr Eka, pihaknya sudah mulai ancang-ancang, jika nanti pendistribusian vakin dilakukan secara bertahap. Kemungkin daerah yang lebih dahulu dibagikan yang masuk sepuluh besar jumlah kasus positif Covid-19 paling tinggi dan masih menjadi zona merah penularan Covid-19 di Indonesia. “Makanya kalau saya lihat, pendistribusian vaksin ini nanti akan dilakukan secara bertahap. Ya mungkin daerah yang diutamakan yakni daerah-daerah yang masuk sepuluh provinsi angka kasus positif yang paling tinggi, kanyaknya seperti itu,”tambahnya.

Oleh sebab itu, dr Eka belum bisa memastikan kapan dan berapa jumlah vaksin yang akan di distribusikan ke NTB. Meski pihaknya sudah mengirimkan data sesuai permintaan dari pemerintah pusat. Yang diutamakan data tenaga kesehatan (Nakes) sebanyak 17 ribu. “Ya belum bisa kita pastikan, tapi kita sudah kirimkan data, terutama data nakes yang diminta. Itupun bertahap yang pertama kali sudah kita kirim dua bulan yang lalu. Jadi kalau kita totalkan jumlah data yang sudah kita kirim yang diutamakan Nakes sebanyak 17 ribu, ditambah Polri, TNI yang juga sebagai garda terdepan. Maka jika ditotal nakes, sama TNI, Polri sekitar 20 sampai 30 ribuan,”ungkapnya.

Sesuai arahan dari pemerintah pusat, sambungnya, bahwa petugas garda terdepan yang terlebih duluan di vaksin, yakni nakes dan TNI, Polri. Setelh itu baru ASN dan lain-lain. “TNI, Polri dan Nakes dulu divaksin, setelah itu baru yang lain. Pokoknya pelayanan publik yang lebih didahulukan orang yang melayani,”jelasnya.

Lebih lanjut dr Eka menjelaskan, nakes dan TNI,Porli yang diutamakan terlebih dahulu divaksin mengingat mereka yang paling berisiko tertular Covid-19. Mereka setiap hari berhadapan dengan masyarakat. Orang bisa tertular dari orang yang memberikan pelayanan. “Kalau masyarakat kan ada yang berisiko ada yang tidak. Kalau nakes kan yang dia hadapi berisiko semua,”jelasnya.

Dalam kesempatan itu juga, dr Eka menegaskan, bahwa tidak semua orang nanti akan divaksin. Berdasarkan skema dari pusat bahwa orang yang divaksin dilihat dari rentan usia yakni minimal usia 18 tahun sampai 50 tahun. Bahkan pasien yang sudah sembuh dari Covid-19 maupun yang masih menjalani perawatan di rumah sakit tidak divaksin. “Kalau pasien yang sudah dirawat ya tidak divaksin. Orang yang sudah kena Covid-19 sudah tidak divaksin karena mereka sudah kebal, sebab vaksin itu kan memasukan imunitas kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Ada dua yakni ada yang aktif dan ada yang pasif. Vaksin itu pasif,”terangnya.

Sementara itu data Gugus Tugas Provinsi NTB hingga tanggal 26 November 2020 jumlah pasien positif Covid-19 sebanyak 4.688 orang. Rinciannya 3.856 orang sudah sembuh, 249 meninggal dunia serta 583 orang masih positif. (sal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaSampah Kiriman Penuhi Kawasan Pantai Gili Gede
Berita berikutnyaDPRD Sahkan Perda APBD NTB 2021