Dikes : Merariq Kodeq Penyebab Utama Kasus Gizi Buruk

GIRI MENANG- Dinas Kesehatan Lombok Barat menyebut salah satu penyebab utama munculnya kasus gizi buruk di daerah ini adalah maraknya perkawinan di bawah umur (merariq kodeq). Dari data yang ada, dari total sekitar 203 KK, hampir separuhnya adalah pasangan yang menikah di bawah umur. Karena menikah di usia yang tidak semestinya, kehidupan rumah tangga mereka labil dan kerap berujung perceraian. Kondisi keluarga yang buruk memicu terjadi kasus kekurangan gizi pada anak.” Banyak terjadi karena kasus pernikahan dini,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat Rahman Sahnan Putra kepada Radar Lombok belum lama ini.

Meski begitu, dinas tetap mengklaim Lombok Barat berhasil mengejar target penuruan kasus gizi buruk bahkan melampui batas indikator kinerja daerah yang tertuang dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah dan Pendek (RPJMD) sebesar 3,3 persen. Jika mengacu pada data Pemantauan Status Gizi (PSG) hasil survei yang dilakukan pemerintahan provinsi (Pemprov), maka, jumlah kasus gizi buruk jauh lebih kecil sekitar 3,31 persen. Belum lagi mengacu hasil pemantauan wilayah setempat (PWS) berdasarkan data bawah garis merah (BGM) yang dilakukan Pemkab Lombok Barat tahun 2015 jauh lebih rendah lagi  yakni 1,32 persen.

BACA JUGA :  Ditinggal Orang Tua, Nurpati Menderita Gizi Buruk

Jumlah Balita di Lombok Barat saat ini sekitar 65 ribu lebih. Dari jumlah ini hasil temuan tahun 2015 terdapat 49 anak mengalami gizi buruk. Sedangkan awal tahun ini ditemukan 6 anak mengalami gizi buruk.” Tahun 2011 lalu kasus gizi buruk yang ditemukan sebanyak 189 kasus. Kasus ini terus bisa ditekan,” ungkapnya.

Penanganan kasus gizi buruk tidak bisa oleh dinas saja. Penanganannya harus melibatkan banyak pihak. 

Selanjutnya, lingkungan sangat berpengaruh terhadap munculnya kasus gizi buruk.Belum lagi soal pola asuh yang salah. Kesalahan pola asuh muncul pada keluarga yang tidak stabil lantaran menikah di usia dini.

Untuk itu Rahman mengatakan, peran orang tua penting untuk menekan kasus pernikahan dini. “ Kita harus saling peduli satu sama lain, tidak bisa mengharapkan dari pemerintah saja,” pungkasnya.(flo)