Diduga Pungli, P3A Prateng-Pratim Diadukan

MENGADU: Puluhan warga Kecamatan Praya Tengan dan Praya Timur mengadukan kinerja P3A ke Dinas PUPR Lombok Tengah (SAPARUDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Puluhan warga Kecamatan Praya Tengah dan Praya Timur mendatangi kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Tengah, kemarin (2/6).

Mereka mengadukan soal pembagian air yang dilakukan petugas Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Petugas dinilai tidak adil dalam membagi air pertanian selama ini. Sehingga beberapa petani terkena dampak pembagian air tersebut.

Menurut juru bicara warga, Gazali, pembagian air pertanian di Kecamatan Praya Tengah dan Praya Timur, tidak merata selama ini. Muncul indikasi kemudian adanya dugaan nepotisme dalam pembagian air tersebut. “Pengaturan air ini, saya umpamakan hukum rimba. Siapa yang kuat dengan uang dan kedekatan, maka dialah yang mendapatkan air,” katanya.

Gazali menambahkan, jika berbicara iuran setiap kali air datang sebenarnya sudah ada kesepakatan mengeluarkan iuran seikhlasnya. Namun, yang bikin ia tidak mengerti, ketika ada petani memberikan kurang dari Rp 50 ribu dan 100 ribu. Petugas P3A, malah tidak terlalu menghiraukannya, sehingga ini bisa berakibat fatal terhadap pertanian. Khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah yang tidak mampu memberikan uang Rp100 ribu.

Selain itu lanjutnya, para pekasih/juru air pun demikian, selalu mengatur air di bawah perintah P3A. “Dalam pemerataan air sebenarnya saya tidak terlalu menyalahkan para pekasih, sebab pekasih di bawah perintah P3A. Petugas P3A inilah yang harus diperingati,” pintanya.

BACA JUGA :  Saber Pungli OTT Kades Pemepek

Kabid Pengairan Dinas PUPR Lombok Tengah Amir Ali menanggapi, laporan ini sebagai awal melakukan penertiban terhadap sejumlah petugas P3A. Selama ini, pihaknya menilai pekerjaan para P3A selalu baik, dan tumben juga ada laporan saat ini. “Selama ini saya menilai mereka melakukan tugas dengan baik. Tapi tak apa, laporan ini sebagai awal untuk melakukan penertiban,” katanya.

Amir menambahkan, berbicara kasiapan air, sebenarnya di Loteng pasokan air untuk pertanian sudah cukup. Sebelum musim tanam kedua, pihaknya sudah melakukan pemetaan jumlah lahan yang bisa diairi dan berapa jarak sawah dari saulran air yang boleh melakukan penanaman.

Ketika di lapangan terjadi persoalan, pihaknya akan mengumpulkan semua petugas P3A. ‘’Kita akan menanyakan persoalan bagaimana cara mengatur air, padahal pasokan air dengan luas lahan sudah diukur sebelumnya,’’ katanya.

Ditambahkan Plt Dinas PUPR Lombok Tengah Lalu Rahadian mengaku, pemerataan air ini sebenarnya terletak pada kesadaran petani. Sering kali para petani yang ada di hulu tidak mau berbagi dengan petani di hilir.  “Kesadaran petani juga yang bikin air tidak merata. Semestinya petani yang di hulu harus mengerti dengan petani yang ada di hilir, dan persoalan ini  harus ditertibkan oleh para pekasih,” tutupnya. (cr-ap)