Dicegah Berangkat di Jawa Timur, Tiga CPMI Asal Mataram Dipulangkan

Tiga calon PMI asal Kota Mataram yang sebelumnya digagalkan keberangkatannya ke Arab Saudi di Surabaya dipulangkan dan diserahkan ke pihak keluarga. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) memfasilitasi pemulangan 17 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB dari Surabaya.

Tiga di antaranya berasal dari Kota Mataram. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram turut menjemput ketiga calon PMI ini kemudian langsung diserahkan ke pihak keluarga.

“Kita bersama BP2MI jemput ke Lembar. Nanti kita yang serahkan ke keluarga disaksikan oleh Lurah biasanya dan kaling (kepala lingkungan),’’ ujar Kepala Disnaker Kota Mataram, H Rudy Suryawan, Jumat (10/3).

Calon PMI ilegal yang dipulangkan ini ketiganya perempuan. Masing-masing berasal dari Sayang-Sayang, Karang Pule dan Turida.

Calon PMI ilegal ini berhasil dicegah keberangkatannya oleh BP3MI Jawa Timur akhir Januari lalu. Calon PMI ini terindikasi secara nonprosedural ke Arab Saudi.

Mereka akan dipekerjakan sebagai pembantu. Sebelum dipulangkan, calon PMI ini sudah melalui proses pendalaman kasus dan pengambilan keterangan. Setelah itu, seluruh  calon PMI dipulangkan.

Baca Juga :  Kemnaker Sebut Pemda Tak Ada Respons, 36 CPMI NTB Akhirnya Dipulangkan

“Dipulangkan tanggal 10 Maret menggunakan jalur laut dari Surabaya ke Lombok,’’ katanya.

Untuk merekrut calon PMI ini, Rudy mengatakan masih dengan modus yang lama. Calon PMI diiming-imingi berangkat ke Saudi Arabia tanpa biaya. “Ini masih modus lama dan tergiur dengan keberangkatan tanpa biaya itu,’’ ungkapnya.

Kasus dan modus serupa ini muncul lagi. Kemudian pengulangan dari kasus sebelumnya. Tercatat beberapa bulan terakhir sudah 7 calon PMI asal Kota Mataram dipulangkan. Karena sebelumnya ada 4 orang asal Kota Mataram yang lebih dulu dipulangkan.

Atas kasus ang berulang ini, Rudy seperti tidak bisa memberikan komentarnya. Karena informasi dan imbauan maupun pemberitahuan sudah berulang kali disampaikan kepada masyarakat. Baik melalui media maupun sarana lainnya yang dimanfaatkan Disnaker.

“Kalau lurah kan tidak mungkin dia 24 jam mengontrol orang yang mau pergi. Karena mereka kan sekarang pegang KTP. Mungkin mau ke Surabaya, Jakarta. Itu kadang karena kesadaran masyarakat yang tidak mau melapor. Mestinya kalau dia pergi ke luar dia melapor ke pak lurah atau pak kaling agar dia tercatat. Ini kan tidak, bagaimana lurah dan kalingnya mau memantau,’’ terangnya.

Baca Juga :  Anak Disiksa dalam Karung oleh Ayahnya, Ibu di Arab Saudi Histeris Minta Anak Dikeluarkan

Selain itu, masyarakat tergiur dengan iming-iming dan janji manis dari perekrut. Kemudian ditambah lagi pemberian uang tunai semakin menambah minat warga untuk berangkat.

“Dalam kondisi perekonomian sekarang ini. Siapa yang tidak tergiur dengan uang Rp 3-4 juta kan. Padahal mereka tidak sadar akan dijual,’’ katanya.

Soal ketiga calon PMI yang dipulangkan ini, Rudi mengaku belum mengetahui apakah ketiganya eks PMI atau tidak.

‘’Itu yang belum kita tahu. Nanti setelah kita terima cek datanya apakah mereka pernah ke sana sebelumnya atau tidak,’’ pungkasnya. (gal)

Komentar Anda