Dibeli Murah PT SMS, Petani Tebu Beralih Tanam Jagung

Ilustrasi petani tebu
Ilustrasi

MATARAM—Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), terus melakukan fasilitasi antara petani tebu dengan PT SMS yang memproduksi gula pasir di Kabupaten Dompu. Pasalnya, petani yang menanam tebu kini semakin berkurang, karena harga beli tebu dari PT SMS dinilai sangat rendah.

Kepala Distanbun Provinsi NTB, Husnul Fauzi, mengakui jika sekarang ini para petani tebu tak sedikit yang beralih menanam jagung. Karena harga ekonomi yang dihasilkan petani menanam jagung jauh lebih menjanjikan, daripada menanam tebu untuk dijual kepada pabrik PT SMS yang memproduksi gula pasir.

“Karena harga beli dari PT SMS kurang bagus, maka petani banyak yang beralih menanam jagung, disebabkan harga jual lebih menguntungkan,” kata Kepala Distanbun Provinsi NTB, Husnul Fauzi, Sabtu (27/1).

Husnul mengatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pihak PT SMS, agar menaikkan harga beli tebu petani. Selama ini harga beli PT SMS kepada petani terlalu murah, sehingga menyebabkan petani enggan kembali menanam tebu.

Jika selama ini harga jual tebu Rp200/kg, maka setidaknya naik menjadi Rp400/kg di tempat panen petani. Harga tersebut tidak termasuk ongkos potong/panen dan pengangkutan menggunakan transportasi. Melainkan harga tersebut sebaiknya bersih di terima oleh petani.

Karena itu, PT SMS diminta untuk mempertimbangkan kenaikan harga beli di tingkat petani seharga Rp400/kg. Jika tidak ada kenaikan harga, maka sudah menjadi faktor alam, petani akan beralih menanam jagung, dan tidak lagi mau menanam tebu.

Jika hal tersebut terjadi, maka suplai bahan baku untuk produksi gula pasir di Dompu, pasti akan terjadi kekurangan besar, dan berdampak terhadap operasional PT SMS itu sendiri. “Kalau harga tidak ada perubahan, petani tidak tertarik lagi menanam tebu. Terlebih lagi sekarang harga jagung terus membaik,” ujarnya.

Distanbun Provinsi NTB, sambung Husnul, tetap melakukan fasilitasi antara PT SMS dan petani, baik itu petani mitra maupun petani diluar mitra agar tetap menanam tebu, dengan catatan harga beli ditingkat petani dilakukan perbaikan.

Sehingga petani juga memiliki motivasi untuk tetap menanam tebu, sembari pihak pabrik/perusahaan secara intens memberikan pelatihan dan pendampingan kepada petani dalam rangka meningkatkan kualitas, serta mutu dari panen tebu tersebut.

“Sampai sekarang belum ada keputusan untuk kenaikan harga beli tebu. Kami terus melakukan fasilitasi kedua belah pihak agar saling menguntungkan,” ujarnya.

Pada tahun 2014 lalu, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian RI telah menggelontorkan bantuan dana untuk penanaman tebu di atas lahan seluas 1.000 hektar. Selain penanaman tebu yang dilakukan pemerintah melalui Kementan RI, pihak perusahaan yakni PT SMS juga menanam tebu di atas lahan seluas 1.000 hektar.

Sementara tanaman tebu di areal lahan petani masih kurang dari 7.000 hektar. Padahal, potensi lahan areal tanam tebu di daerah Kabupaten Dompu mencapai 30 ribu hektar.

“Potensi ada 30.000 hektar, HGU 5 ribu hektar. Harusnya dari masyarakat ada 10 ribu hektar hingga 15 ribu hektar. Agar bahan baku untuk produk gula ini betul-betul dari dalam daerah. Sehingga memberi dampak terhadap perekonomian masyarkat sekitar,” kata Husnul.

PT SMS dalam memproduksi gula masih mengalami kekurangan pasokan bahan baku, dalam hal ini tebu. Sekarang baru bisa 350 ton setiap hari dalam waktu lima bulan. Padahal tonase kapasitas pabrik yang seharusnya 5 ribu ton/hari, baru bisa terpenuhi 3.000 ton perhari.

Karena itu perusahaan butuh minimal 15.000 hektar lagi. Untuk penambahan luas lahan areal tanam, dipermudah oleh Pemda dengan memanfaatkan izin Hutan Tanaman Industri. Dimana sekarang ini prosesnya sedang jalan. Perluasan areal tanam tebu di Dompu sebagai salah satu upaya agar seluruh bahan baku untuk kebutuhan pabrik gula PT SMS diperoleh dari kemitraan petani, yaitu 5.000 ton perhari. Tapi sekarang hanya mampu menyuplai 3.000 ton/hari.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB bersama Pemerintah Kabupaten Dompu menginginkan pihak perusahaan agar masyarakat di giring untuk bisa memberikan kontribusi terhadap suplai pabrik. Begitu juga dengan penyerapan tenaga kerja terakhir yang dibutuhkan dalam perusahaan, sekitar 12.000 orang pekerja seluruhnya untuk kemudian bisa memberikan manfaat kepada daerah, agar bisa dimaksimalkan. (luk)