Di Tengah Pandemi Banyak Siswa Menikah

H Zainul Arqom (Janwari Irwan/Radar Lombok)
H Zainul Arqom (Janwari Irwan/Radar Lombok)

SELONG–Masa pandemi Covid-19 berdampak pada aktivitas belajar mengajar di sekolah. Sejak belajar dari rumah dilakukan untuk menggantikan belajar dengan tatap muka di sekolah, ternyata banyak siswa SMA maupun madrasah aliyah yang menikah. Salah satu kepala sekolah  madrasah aliyah swasta di Lombok Timur yang enggan disebut namanya mengaku, selama libur  dan belajar dari rumah ini, sudah empat siswanya yang menikah. Hal ini disebabkan  kurangnya pengawasan dari orang tua maupun sekolah.

”Jujur saja, selama libur ini berbagai persoalan yang muncul di kami, terutama banyaknya siswa yang menikah,”katanya pada Radar Lombok Senin (10/8/2020).

  Berbagai faktor  yang membuat siswa menikah. Terutama pengawasan yang kurang. Hal ini dikarenakan orang tua sibuk beraktivitas seperti di sawah, sementara anaknya dibiarkan sendiri di rumah. Hal ini tentunya menyebabkan siswa kurang mendapatkan pengawasan di rumah oleh orang tua. Sementara pengawasan sekolah  juga sangat terbatas. “ Ada siswa beralasan belajar ke rumah teman, tetapi faktanya siswa itu sendiri keluar sama teman –temannya. Jika ini dibiarkan, maka berapa banyak siswa yang akan menikah dini,”katanya.

Siswa menikah ini katanya, bukan hanya terjadi satu sekolah saja, tetapi  ditemukan juga di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Persoalanya, sekolah tidak mau jujur tentang persoalan ini. “ Kenapa saya beberkan ini, karena saya tidak ingin sekolah yang menjadi  kambing hitam, “paparnya.

 Menanggapi hal ini, Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemanag) Lombok Timur Zainul Arqom tidak membantah adanya siswa yang menikah saat masa pandemi ini. Diakuinya  juga hal ini disebabkan kurangnya pengawasan dari orang tua siswa saat berada di rumah. Lain halnya ketika berada di sekolah, maka secara otomatis guru bisa mengawasi pergaulan siswa.

 Ditanya  jumlah siswa yang menikah selama pandemi Covid-19 ini dikatakan mencapai puluhan. Hal ini berdasarkan laporan dari pengawas  di lapangan. Hanya saja, jumlah riilnya  pihaknya belum memiliki datanya.  “ Kenapa kita tidak mengetahui jumlah pastinya, karena sekolah tidak berani jujur tentang persoalan ini. Kita sudah minta ke Kepala KUA, jika ada siswa yang menikah tidak boleh dinikahkan. Sehingga secara otomatis, pernikahan – pernikahan dini ini akan nikah di bawah tangan,”jelasnya.

 Zainul menambahkan, salah satu alasan  Bupati Lombok Timur ingin membuka aktivitas belajar mengajar di  sekolah dengan alasan banyak laporan yang ditemukan di lapangan seperti siswa keluyuran dan lain lain. “ Jadi melihat situasi ini, Pak Bupati wajar menyampaikan ingin membuka sekolah, karena banyak sekali laporan orang tua,”katanya. (wan)