Di Balik Rencana Penggusuran Warga Karang Kerem

Di Balik Rencana Penggusuran Warga Karang Kerem
AKAN DIGUSUR: Warga Karang Kerem saat bercengkerama satu sama lain dan menyayangkan tempat tinggal mereka akan digusur. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

Rencana Pemkab Lombok Tengah menggusur permukiman warga Karang Kerem Kelurahan/Kecamatan Praya membawa duka dan kesedihan bagi warga setempat. Mereka tak tahu harus mengadu kemana?.


M HAERUDDIN-PRAYA


BERCANDA ria terlihat dari para ibu-ibu di permukiman Karang Kerem saat wartawan mendatangi kediaman mereka. Tampak tidak ada raut wajah yang sedih saat disambangi. Mereka seolah-olah tidak tahu jika Pemda Lombok Tengah dalam waktu dekat akan mengguusr kampung mereka yang sudah ditempatinya selama berpuluh-puluh tahun.

Inaq Saknah, 46 tahun misalnya, wanita yang hidup menjanda itu bahkan belum mengetahui rencana penggusuran tersebut. wajah yang penuh riang berubah menjadi sedih saat mengetahui rencana tersebut. “Kapan itu, kok tega sekali pemerintah. Padahal, saat sebelum terpilih mereka berjanji akan membuatkan kami rumah layak, tapi sekarang kok malah digusur,” ungkapnya, Rabu kemarin (23/8).

Dia berharap, pemkab membatalkan niat tersebut. Jika itu terjadi, maka nasib anak-anaknya akan dikemanakan. Terlebih di lokasinya saat ini, Inaq Saknah sudah membuka usaha kecil-kecilan untuk menghidupi empat orang anaknya yang masih sekolah. ‘’Kasihan anak kami. Mana janji yang dulu sebelum jadi pejabat itu. Lebih baik kami dibuatkan rumah dari pada digusur,” pintanya.

Ia bahkan mengulas, jika saja nantinya pemda memberikan lokasi lain, maka warga sendiri akan menerima itu. Asalkan, di lokasi yang baru bisa nyaman dan bisa membuka usaha. “Kalau rusunawa kami tidak mau karena tidak bisa memelihara ayam di sana. Kami juga tidak memiliki biaya untuk membayar karena untuk makan saja kami sangat kesulitan,” keluhnya.

Inaq Saknah kemudian mengulas kehidupan dari nenek moyangnya. Diakuinya, lahan tersebut awalnya hutan belantara. Namun, oleh orang tua mereka yang sudah tiada membersihkan lokasi tersebut untuk dijadikan perumahan. “Sekarang sudah bersih malah mau diambil lagi, terus bagaimana nasib anak dan cucu kami,” tandasnya.

Ungkapan senada juga dilontarkan Inaq Saimah. Dia yang juga seorang janda hanya bisa berharap, agar pemerintah setempat mengurungi niatnya melakukan penggusuran. Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan bahwa ratusan keluarga akan terlantar dan memiliki masa depan yang suram. “Kepada siapa kami mengeluh, kalau pemerintah kami saja sudah ingkar janji,” timpalnya.

Ibu tujuh anak itu mengaku tidak habis pikir dengan rencana pemerintah tersebut. Terlebih, kampung yang hanya dihiasi oleh rumah-rumah beralaskan triplek dan pagar tersebut sudah dihuni puluhan tahun lamanya. “Kok sekarang baru ada pengusuran-pengusuran ini, terus kami mau ditempatkan dimana?” tanyanya.

Ia kemudian menceritakan bahwa kendati hidupnya saat ini sangat jauh dari rasa kecukupan, namun ia tetap bahagia tinggal di lingkungan itu. Karena, tanah tersebut memiliki sejarah yang sangat panjang yang telah ditorehkan oleh nenek moyangnya. “Sehingga jelas kami menolak adanya relokasi tersebut, karena kami tidak mau berpisah dengan tanah yang sudah kami tempati berpuluh tahun ini,” ujarnya.

Para warga tersebut tidak muluk-muluk dalam berharap. Mereka hanya ingin hidup damai di tempat tersebut. mereka juga ingin para pejabat dan wakil rakyat yang telah menjanjikan mereka agar melihat kondisi masyarakatnya. “Jangan hanya omongan caleg yang tidak pernah terbukti, ini malah info pahit yang kami terima dengan rencana penggusuran,” cetusnya. (**)